[AsaiKana #117]: Strategi Klasik dalam Pemilu

16 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Bersama Prof. Yusny Saby

Kampanye adalah salah satu cara untuk memikat pemilih. Bagi caleg, kampanye merupakan agenda penting yang tidak boleh ditinggalkan. Jika tidak siap berkampanye maka lebih baik berhenti menjadi caleg.

Karena zaman terus berubah, para caleg juga harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman sehingga tidak terjebak dalam model kampanye klasik yang sudah tidak lagi efektif. Model kampanye harus terus diperbarui dari masa ke masa.

Berikut ini adalah beberapa bentuk kampanye dan strategi klasik yang tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman:

Pertama, sok dermawan di kedai kopi. Dulu, atau mungkin berpuluh-puluh tahun lalu kampanye serupa ini lumayan menarik perhatian masyarakat sehingga ramai caleg yang merasa mantap dengan model ini. Caranya adalah berkunjung ke kedai-kedai kopi dan kemudian berbasa-basi dengan pengunjung kedai. Setelah basa-basi dirasa cukup, si caleg lalu membayar harga kopi seluruh pengunjung. Aksi si caleg ini biasanya akan dipuji oleh masyarakat sehingga suaranya akan bertambah. Tapi, itu dulu! Untuk saat ini model kampanye tersebut sudah kedaluarsa. Uniknya, sekarang justru banyak caleg yang harga kopinya dibayar orang lain.

Kedua, bantuan untuk rumah ibadah. Dulu banyak oknum caleg yang ketika musim pemilu telah tiba berlomba-lomba membantu pembangunan rumah ibadah. Melalui bantuan politis tersebut diharapkan suaranya akan bertambah. Seperti model pertama, model ini juga sudah “kuno.” Saat ini, seiring dengan kecerdasan pemilih, bantuan untuk rumah ibadah sudah tidak lagi efektif mendongkrak suara. Tapi kalau bantuannya ikhlas tetap akan mendapat pahala.

Ketiga, pertemuan dengan tokoh masyarakat. Pola ini terbilang hebat di masa lalu sebab tokoh masyarakat adalah sosok-sosok berpengaruh yang dapat merayu rakyat untuk memenangkan caleg dalam pemilu. Namun seiring perjalanan waktu dengan munculnya tokoh-tokoh “gadungan,” kepercayaan pemilih kepada tokoh pun telah memudar. Saat ini membuat pertemuan dengan sosok-sosok yang dianggap tokoh sudah terlalu kolot sebab kampanye yang disampaikan caleg akan berakhir di level mereka dan tidak akan otomatis berdampak pada pemilih. Demikian pula dengan biaya operasional yang dikeluarkan juga akan berhenti di level tokoh. Tapi untuk sekadar berteman dengan tokoh boleh-boleh saja.

Keempat, menjalin hubungan dengan perangkat desa. Banyak caleg yang percaya bahwa hubungan baik dengan perangkat desa dapat mempermulus usahanya memperoleh suara. Strategi ini memang cukup ampuh di masa lalu. Sementara untuk saat ini strategi tersebut sudah terlalu konyol untuk dipertahankan. Seperti diketahui, meskipun perangkat desa tidak boleh berpolitik, namun dalam praktiknya ramai oknum caleg yang menjalin kerjasama dengan oknum perangkat desa agar suaranya bertambah. Dalam konteks kekinian strategi ini sudah tidak efektif sebab perangkat desa adalah sosok yang diburu oleh hampir seluruh caleg. Jika dipaksakan, bukan tidak mungkin para oknum perangkat desa akan “membagi-bagi” dukungan. Misalnya lorong A untuk caleg B dan lorong B untuk caleg A. Demikian seterusnya.

Kelima, hubungan dengan penyelenggara pemilu. Dulu ada beberapa kasus yang mencuat terkait keterlibatan oknum penyelenggara dalam pemenangan caleg tertentu. Dengan kata lain, di masa lalu strategi “pengamanan” suara melalui kerjasama dengan oknum penyelenggara terbilang efektif. Namun sejak munculnya media sosial strategi ini menjadi sangat berbahaya diterapkan sebab tiba-tiba saja akan viral sehingga hancurlah semua harapan.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

[AsaiKana #116]: Caleg Ban Serap

22 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Ada banyak cara menjadi “terkenal” sembari mencari uang kopi. Salah satunya adalah dengan menjadi caleg ban serap. Keberadaan caleg ini dapat kita temui hampir di setiap daerah yang diusung oleh sejumlah partai politik.

Caleg ban serap adalah “caleg palsu yang “berpura-pura” mencalonkan diri sebagai anggota parlemen. Profesi ini lumayan menarik bagi sebagian orang yang ingin mencari pendapatan tambahan di tengah kondisi ekonomi yang “terpuruk.”

Dalam beberapa kasus, caleg ban serap sengaja menghubungi caleg lain atau parpol tertentu untuk menawarkan diri sebagai ban serap yang akan mengumpulkan suara untuk caleg tertentu. Sementara dalam beberapa kasus lain, caleg ban serap justru sengaja diincar oleh caleg atau parpol tertentu dengan tujuan mendongkrak suara.

Sebagian caleg ban serap memang sadar dan tahu bahwa dirinya dijadikan serap, sementara sebagian lainnya tidak sadar kalau dirinya dicalonkan hanya sebagai serap. Bagi yang sadar dirinya serap, mereka memang sengaja mempersiapkan diri untuk mencari pendapatan tambahan dari caleg utama. Secara umum mereka dibiayai oleh caleg utama untuk mengumpulkan suara.

Sementara itu, caleg yang tidak sadar dirinya dijadikan serap justru akan menjadi korban pasca pemilu. Pada awalnya dia dirayu oleh caleg utama dengan puji-pujian sehingga mencalonkan diri, tapi pasca pemilu segala bentuk kerugian akan ditanggung sendiri.

Dalam beberapa kasus yang sering dijadikan sebagai caleg ban serap adalah tokoh masyarakat yang sudah dikenal publik. Selain itu beberapa caleg dari kalangan perempuan, baik sengaja atau pun tidak juga sering dijadikan sebagai ban serap untuk sekadar pendulang suara.

Caleg ban serap adalah sosok yang tidak pernah diharapkan untuk terpilih, tapi hanya sebagai pelengkap dan pengumpul suara.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

[KM](http://khairilmiswar.com)

[AsaiKana #114]: Politik Praktis dan Perubahan Perilaku

28 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Politik, khususnya politik praktis secara psikologis dapat mengubah perilaku manusia. Kenyataan ini dapat dengan mudah kita temukan di mana saja dan pada sosok mana saja, tak terkecuali pada diri kita sendiri.

Perubahan perilaku yang terjadi pada sosok-sosok dimaksud tidak hanya berada dalam ruang positif, tetapi juga menyasar ke ruang negatif. Perubahan-perubahan tersebut biasanya muncul pada saat seseorang itu menceburkan diri dalam pentas politik praktis.

Ada sebagian oknum yang pada awalnya bejat, jahat dan bahkan bengal, tapi ketika ia masuk ke dalam ruang politik semisal menjadi caleg, maka dengan segenap daya dan upaya ia pun mencitrakan dirinya sebagai alim dan taat. Uniknya, banyak orang yang percaya dengan manipulasi konyol semacam ini dengan dalih dia sudah bertaubat.

Dengan demikian tidak perlu heran jika ada sosok yang sebelumnya jauh dengan masjid tiba-tiba berdiri di saf paling depan atau bahkan menjadi imam menjelang pemilu. Begitu pula dengan oknum yang dulunya dikenal pelit dan suka berdebat dengan tukang parkir tiba-tiba berubah menjadi dermawan paling budiman.

Namun demikian tidak tertutup kemungkinan ada pula sebagian orang yang benar-benar berubah dan perubahannya bersifat permanen setelah ia masuk ke ruang politik praktis, tetapi contoh untuk kasus-kasus semacam ini terbilang cukup langka.

Seperti telah disinggung, dalam sebagian kasus, perubahan perilaku tidak hanya terjadi ke arah positif, tetapi juga negatif. Kita mengenal sosok-sosok yang pada awalnya taat, alim dan bahkan saleh berubah menjadi sosok aneh yang penuh dengan lelucon.

Mungkin kita pernah menyaksikan teman atau sejawat yang pada awalnya pendiam dan berbicara sopan tiba-tiba menjelang pemilu menjadi sosok usil yang suka menyebarkan kebohongan terhadap lawan-lawan politiknya.

Tulisan Kedua di Mojok

30 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Setelah tulisan pertama tayang beberapa hari lalu, pagi tadi (18/1) tulisan saya yang kedua kembali bertengger di mojok.co. Tulisan ringan tersebut saya kirimkan ke redaksi Mojok kemarin sore (17/1).

Biasanya (beberapa) media cetak melakukan pembayaran honor dua minggu atau satu bulan pasca tulisan terbit. Prosedur pengambilan honor pun bermacam-macam; ada yang mudah dan ada pula yang “sulit” dan bahkan ada media yang tidak bersedia mengirim sehingga harus diambil ke kantor mereka.

Berbeda dengan beberapa media cetak yang membayar honor agak terlambat, Mojok.co tampak lebih cepat menyelesaikan persoalan honor kepada para penulis. Satu minggu pasca tulisan tayang, honor sudah masuk ke rekening.

Tulisan-tulisan yang tayang di mojok juga tidak harus kaku dan terlihat akademis seperti dikehendaki media maenstream pada umumnya, tetapi cukup dengan artikel sederhana yang ditulis dalam waktu dua puluh atau tiga puluh menit.

Bayaran artikel kategori esai di mojok memang belum sehebat kompas, tapi untuk kategori media online sudah cukup memadai. Saat ini untuk kategori esai mojok membayar Rp. 300.000/ artikel.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

[AsaiKana #112]: Pemangsa Dana Kampanye

28 Views

Tuan dan Puan Steemians…

[KM](khairilmiswar.com)

Bagi politisi semisal caleg, cabup, cawalkot, cagub sampai capres berserta calon wakil-wakilnya, musim pemilu tidak hanya menguras energi dalam bentuk kerja keras, tapi sekaligus menjadi wadah untuk menghabiskan sejumlah uang dalam arena kampanye. Untuk mencapai hasil yang maksimal tentunya biaya politik yang dikeluarkan pun harus maksimal pula.

Terlepas dari mana sumber-sumber dana itu, apakah uang pribadi, sumbangan atau hasil ngutang, yang jelas sejumlah biaya tersebut akan “hangus” atau lebih tepat “dihanguskan” di pentas politik. Jika si calon nantinya menang bukan tidak mungkin uang-uang yang sudah hangus itu akan disegarkan kembali melalui berbagai usaha yang sudah sama-sama kita mengerti. Sebaliknya, jika si calon itu kalah, maka ada dua keadaan yang harus diterima; jika ia sehat maka ia membayar utang-utangnya dan jika tidak sehat ia harus menginap di RSJ.

Lantas ke mana mengalirnya uang para politisi? Pertanyaan ini tidak perlu dijawab sebab jawabannya akan terus berubah menyesuaikan diri dengan zaman dan kepandaian manusia. Namun demikian, dalam kaitannya dengan kontestasi politik praktis yang melibatkan banyak massa sebagai pemilih, posisi tim sukses alias “tenaga kerja kampanye” tentunya sangat penting.

Tim sukses sebagai perpanjangan tangan para politisi yang “ingin naik” memiliki peran besar dalam menyukseskan tuannya di pentas politik. Salah satu peran yang tidak lelah-lelahnya dimainkan tim sukses (mungkin oknum) adalah memangsa dana kampanye.

Dalam praktiknya, oknum tim sukses yang berperan sebagai pemangsa dana kampanye tidak pernah peduli dengan nasib tuannya. Tugasnya adalah memangsa dan memangsa. Terus dan terus.

Aksi memangsa dana kampanye ini biasanya dilakukan dengan sangat rapi dan penuh perencanaan sehingga si politisi terus “mabuk” dengan mantra-mantra yang dijampi oleh oknum tim sukses.

Akhirnya apa yang terjadi? Setelah pemilu, politisi mengurut dada karena mobil, rumah, sepeda butut sampai mas kawin telah hilang ditelan angin, sementara si pemangsa dana kampanye bersuka ria dengan mobil baru, rumah baru, sepeda baru sampai istri baru.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

[KM](http://khairilmiswar.com)

Tulisan Pertama di Mojok

25 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Sejak mojok.co muncul sebagai media alternatif yang menawarkan karakteristik khas, saya sering menghabiskan waktu mengakses website tersebut untuk membaca beberapa artikel yang saya anggap menarik. Mojok.co menayangkan artikel-artikel satire dan kocak sehingga menarik untuk dibaca oleh semua kalangan.

Pada awalnya saya hanya menjadi pembaca budiman dan belum berkeinginan untuk mengirim tulisan ke media tersebut. Salah satu alasannya, karena artikel yang serumpun dengan mojok.co selama ini saya tulis di sebuah media lokal, AcehTrend.co yang menyediakan kolom kecil untuk saya bertajuk Tuanku Nan Kacau.

Meskipun tidak selevel dengan mojok.co, tulisan-tulisan ringan bernuansa santai yang saya tulis di Tuanku Nan Kacau sudah cukup memadai untuk mengimbangi tulisan-tulisan serius yang ketat dan terlalu akademis yang biasa disajikan penulis lain di Aceh.

Namun demikian, seiring perjalanan waktu, saya juga mulai tertarik untuk berusaha nimbrung di mojok.co. Beberapa bulan lalu saya mencoba mengirim tulisan ke mojok.co, tapi tulisan tersebut tidak dimuat, mungkin belum dianggap layak. Setelah mengirim tulisan pertama itu saya pun berhenti mengirim beberapa bulan.

Dua bulan lalu saya kembali mengirim ke mojok, tapi masih belum beruntung, tidak dimuat. Akhirnya saya pun “marah” dan mengirim tulisan ketiga. Beberapa hari lalu tulisan ketiga itu ternyata dimuat dan tayang di mojok.co.

Sekarang saya sedang menunggu informasi dari bos mojok via email soal honor yang katanya cukup untuk traktir cewek, haha….

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

[KM](http://khairilmiswar.com)

[Book Reveiew #13]: Harem Sang Sultan

32 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Novel dengan tajuk “Harem Sang Sultan” ini ditulis oleh Colin Falconer, seorang novelis kelahiran London, Inggris. Novel ini diterjemahkan dari bahasa aslinya yang berjudul “Sultan’s Harem” yang terbit pertama kali pada 2011 di London. Novel historis setebal 716 halaman ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada 2012 dan diterbitkan Serambi Ilmu Semesta.

Novel ini mengambil latar Kesultanan Turki Utsmani pada masa pemerintahan Sulaiman al-Qanuni. Penulis memberikan gambaran yang cukup detail tentang istana Sulaiman, pernak-pernik kerajaan, Kota Istanbul sampai ke pasar-pasar dengan cerita yang benar-benar hidup. Membaca novel ini, kita seperti menyaksikan sendiri kemegahan Dinasti Utsmani pada masa itu.

Kisah ini dimulai dari harem yang merupakan tempat “penampungan” budak perempuan dari berbagai negeri yang ditundukkan Utsmani. Mereka adalah gadis-gadis cantik yang sengaja dibeli oleh pegawai kerajaan untuk dipilih sebagai selir para sultan Utsmani. Harem tersebut tidak hanya dipenuhi gadis-gadis berkebangsaan Arab, tapi juga gadis-gadis Eropa. Gadis berstatus budak ini nantinya akan menjadi ibu bagi para sultan Utsmani berikutnya.

Para budak wanita di harem mendapat pengawasan dan penjagaan dari pejabat istana yang khusus bertugas di harem. Laki-laki penjaga harem sudah terlebih dulu dikebiri sehingga mereka tidak memiliki syahwat untuk menganggu wanita-wanita budak tersebut. Sultan yang ingin memiliki anak akan memilih seorang budak wanita dari harem untuk disetubuhi di istana. Dia akan memilih gadis mana saja yang disukainya.   

Novel ini berkisah tentang seorang wanita budak wanita bernama Hurrem yang dibeli oleh pejabat Utsmani. Hurrem adalah gadis berkebangsaan Tatar dari Rusia. Tidak hanya cantik, dia juga memiliki kecerdasan yang luar biasa, melebihi budak-budak harem lainnya. Saat itu Sultan Sulaiman telah memilih seorang budak bernama Gulbehar dari harem. Pemilihan ini terjadi sebelum Hurrem berada di harem. Gulbehar melahirkan seorang lak-laki bernama Mustafa yang kemudian menjadi putra mahkota.

Berkat kecerdasan Hurrem akhirnya dia juga dipilih oleh Sulaiman. Dia melakukan beberapa trik dengan mendekati penjaga harem sehingga Sulaiman tertarik kepadanya. Di sebuah kamar istana, Sulaiman dan Hurrem pun memadu kasih. Sejak malam itu Sulaiman benar-benar tertarik dengan Hurrem yang tidak hanya cantik, tapi juga cerdas.

Lazimnya setiap budak yang berhasil digauli oleh sultan, mereka berharap agar dirinya hamil, sebab kehamilan akan menjadi tali yang mengikat budak itu dengan sultan. Harapan itu akhirnya mendesak Hurrem untuk melakukan hubungan gelap dengan seorang pejabat istana yang sudah dikebiri. Meskipun sudah dikebiri, ternyata pejabat istana itu masih memiliki bibit untuk ditularkan kepada Hurrem sehingga wanita itu pun hamil.

Sejak kehamilannya diketahui oleh Sulaiman, Hurrem pun semakin dekat dengan Sulaiman. Kedekatan dirinya dengan sultan akhirnya digunakan untuk melancarkan siasat dengan menyingkirkan orang-orang terdekat Sulaiman. Melalui siasat licik, propaganda dan fitnah, satu persatu orang terdekat sultan berhasil disingkirkan dari istana.

Orang pertama yang disingkirkan adalah Gulbehar, budak yang pertama kali digauli sultan dan telah memberinya seorang putra. Gulbehar bersama putranya, Mustafa, yang telah dipersiapkan sebagai putra makhkota pun “diasingkan” ke sebuah provinsi dalam wilayah Ustmani. Mustafa diangkat sebagai gubernur di sana.

Melalui siasat lainnya, Hurrem juga berhasil menyingkirkan Ibrahim, Wazir Agung Turki Utsmani yang juga sahabat dekat Sulaiman. Melalui orang-orangnya, Hurrem melancarkan fitnah bahwa Ibrahim telah berkhianat kepada sultan sehingga akhirnya ia pun dihukum mati oleh Bostanji, algojo istana yang bisu tuli. Sebagai sultan yang digelar al-Qanuni, Sulaiman merasa berkewajiban menjatuhkan hukuman, meskipun kepada teman dekatnya.

Seiring perjalanan waktu, Hurrem semakin dekat dengan Sulaiman. Hurrem berhasil merayu Sulaiman untuk menikahinya. Tradisi Utsmani yang melarang sultan menikah akhirnya dilanggar oleh Sulaiman dengan menikahi Hurrem, seorang budak Rusia.

Ketika anak-anak Hurrem, Selim dan Beyezid telah dewasa, dia pun melancarkan fitnah selanjutnya kepada Mustafa dengan maksud agar anaknya bisa menjadi putra mahkota yang akan menggantikan Sulaiman nantinya. Berkat siasat licik akhirnya Sulaiman juga menghukum mati anak kesayangannya, Mustafa, melalui eksekusi yang dilakukan Bostanji.

Novel ini juga berkisah tentang cinta tak sampai seorang pemuda Moor bernama Abbas. Pada awalnya dia tinggal bersama ayahnya di Venesia. Ayahnya adalah pejabat militer di negeri itu. Abbas mencintai Julia, anak seorang pejabat Venesia. Julia dipaksa oleh ayahnya untuk menikahi salah seorang pejabat Venesia yang sudah tua. Untuk melancarkan tujuannya, ayah Julia memerintahkan anak buahnya untuk mengebiri Abbas dan kemudian dijual sebagai budak. Setelah peristiwa malang tersebut, Abbas pun menjadi budak. Dia dibeli oleh orang-orang Utsmani dan akhirnya dia pun menjadi salah seorang pejabat istana Sulaiman yang bertugas menjaga harem Sultan Utsmani.

Dalam sebuah pelayaran menjumpai suami yang dipilih ayahnya, kapal yang ditumpangi Julia diserang bajak laut Turki Utsmani. Sama seperti Abbas, akhirnya Julia pun dijual sebagai budak kepada pejabat Utsmani. Karena kecantikannya dia pun dimasukkan ke dalam harem Sultan. Tanpa diketahuinya, sejak berada di harem Julia selalu mendapat pengawasan dari Abbas, kekasihnya di Venesia.

Saat terberat yang dihadapi Abbas adalah ketika Sulaiman menginginkan Julia untuk dibawa ke istana. Sesampainya di istana, Julia yang telanjang di hadapan Sulaiman ternyata tidak mampu memacu birahinya. Sulaiman telah terpengaruh dengan Hurrem sehingga ia menjadi tidak berselera dengan perempuan lain. Adegan percintaan antara Sulaiman dan Julia pun gagal dilakukan. Sulaiman memerintahkan Abbas untuk membunuh Julia agar rahasia di kamar itu tidak menyebar ke luar istana, bahwa sultan telah impoten. Untuk menyelamatkan kekasihnya, Abbas melakukan sebuah trik rahasia dengan cara mengirimkan Julia kepada seorang temannya di Pera.

Ending kisah ini terbilang tragis. Di usia senjanya, pada saat sedang sekarat, Hurrem mengaku kepada Sulaiman bahwa ia tidak mencintai Sulaiman. Dia membenci Turki Utsmani dan mengharapkan kerajaan itu hancur berkeping-keping. Apa yang dilakukannnya selama ini adalah bentuk pembalasan dendamnya atas kekejaman Utsmani yang telah menjadikannya sebagai budak. Mendengar pengakuan Hurrem, Sulaiman sangat terpukul dan tidak percaya. Dia menganggap pengakuan itu hanya sebagai igauan orang sekarat. Setelah kematian Hurrem, Sulaiman melewati hari-harinya dengan murung sampai akhirnya dia pun meninggal dalam penyesalan.

Abbas meninggal dunia di istana karena sakit. Sementara Julia memilih menjadi istri Ludovici, seorang pengusaha Venesia di Pera yang menjadi teman akrab Abbas. Di akhir hidupnya Julia dan Ludovici memilih menetap di Cyprus. Pada awalnya mereka juga mengajak Abbas, tapi saat itu Abbas menolak karena ingin tetap mengabdi kepada Utsmani.

Sebagai novel sejarah, sebagian peristiwa dalam novel ini berasal dari fakta-fakta dan sebagian lainnya adalah hasil imajinasi penulis. Fakta dan imajinasi itu tampak menyatu dan menjelma sebagai sebuah rangkaian cerita yang menarik untuk dibaca.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

[KM](http://khairilmiswar.com)