[Broeh Putoeh #2]: Teman Lama

29 Views

Tuan dan Puan Steemians…

@tinmiswary — WD Coffee

Seiring berjalannya waktu, bertambahnya usia dan berubahnya lingkungan tempat kita hidup, proses pertemanan yang kita alami pun semakin berkembang. Kita memiliki banyak teman yang berbeda dalam lingkup usia, tempat dan profesi.

Dalam melintasi fase waktu yang terus berjalan, kategori teman pun terus berubah dari waktu ke waktu semisal teman masa kecil, teman sekolah, teman seprofesi, teman satu ideologi dan teman dalam satu ruang minat tertentu. Dalam praktiknya kita akan berinteraksi dengan seluruh teman itu sesuai dengan klasifikasi yang telah kita buat sendiri.

Karena kehidupan kita melintasi gerakan waktu, maka tipologi teman pun terbelah mengikut arus masa sehingga muncullah istilah teman lama dan teman baru. Teman lama adalah mereka yang menemani hidup kita di masa lampau, sementara teman baru adalah mereka yang menyertai kita saat ini.

Pada awalnya semua teman adalah “baru” bagi kita. Tapi seiring perubahan waktu, teman yang tadinya “baru” akan menjelma sebagai teman lama pada suatu masa.

Segala keakraban yang pernah terjalin dengan teman lama biasanya akan menjelma sebagai kenangan di masa kini. Kondisi ini terjadi ketika kita telah menemukan teman baru dalam kehidupan hari ini. Dan dengan berjalannya waktu, kedekatan dengan teman baru pun akan segera pudar di masa depan ketika teman baru itu menjadi teman lama.

Terkadang setelah terpisah lama, sebagian kita akan bertemu kembali dengan teman lama di kemudian hari. Kita bertemu dalam suasana baru. Sebagian kita akan memeluk mereka sembari berkisah tentang kenangan di masa lalu. Namun tak sedikit dari kita yang menampilkan diri sebagai sosok yang sama sekali baru di hadapan mereka.

Sebagian kita cenderung melupakan teman lama setelah bertemu teman baru. Dengan berjalannya waktu, ingatan kita tentang teman lama pun hilang tak berbekas, seolah kita tidak pernah menjalani kehidupan bersama mereka. Dan kita menjadi begitu asing dengan keberadaan mereka setelah hari-hari berlalu.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

[Broeh Putoeh #1]: Teman

28 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Kita tidak bisa hidup sendirian di dunia ini. Kita butuh teman untuk bisa menikmati hidup. Kebutuhan akan teman adalah fitrah manusia yang tidak bisa ditolak.

Di masa-masa awal melihat dunia, keluarga menjadi teman pertama bagi kita. Kita belajar banyak hal dari mereka; belajar berjalan, berbicara dan tersenyum.

Keluarga adalah teman abadi yang akan tetap kekal ke ujung hari. Meskipun dihiasi oleh berbagai perselisihan, namun pertemanan ini tidak akan hilang.

Selanjutnya, di masa kecil kita juga berteman dengan mereka-mereka yang seusia dengan kita. Kita menyebutnya sebagai teman masa kecil. Merekalah yang menemani kita bermain ketika kita masih belajar menjadi manusia.

Dalam fase kehidupan selanjutnya, pada saat memasuki sekolah, kita juga menghabiskan waktu di sana bersama teman-teman. Seiring perjalanan waktu, tentu ada banyak cerita bersama mereka di sana.

Ketika memasuki dunia kerja kita juga kembali menemukan teman-teman baru, teman yang sebelumnya tidak pernah kita kenal. Kita juga menghabiskan banyak waktu bersama mereka.

Hidup terus berjalan mengikut arus waktu. Dalam perjalanan itu kita telah berhuhungan dengan banyak teman yang menemani hari-hari kita. Kondisi ini berlangsung terus sampai kita hilang di pentas dunia.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

[AsaiKana #124]: Konsistensi Politisi

37 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Salah satu makhluk yang terus berubah dan tak pernah konsisten adalah politisi. Kita boleh saja menyebutnya sebagai oknum, tapi mereka adalah oknum yang bertumpuk-tumpuk atau dengan kata lain setumpuk oknum. Mereka bertumpuk dan bertebaran di seantero negeri.

Politisi bagaikan air yang selalu mengikut bentuk wadah, terus berubah. Jika pun hendak disebut konsisten, maka konsistensi mereka hanya terletak pada perubahan yang terus menerus tiada henti.

Tentu tidak sulit untuk menemukan rupa politisi semisal ini. Mereka hadir di setiap masa dan di setiap tempat. Dalam setiap kontestasi pemilu wajah mereka terus saja membayangi kehidupan demokrasi kita.

Politisi selalu saja berdiri di atas kepentingan dirinya dan kelompoknya. Kepentingan-kepentingan ini terus saja abadi dan melekat pada sosok politisi. Adapun janji, perkawanan, kesetiaan dan kepedulian hanyalah omong kosong.

Lakon-lakon politisi ini sudah sangat sering kita saksikan sehingga menimbulkan rasa muak yang tak tertahan. Hari ini mereka mereka berkata begini, besok berkata begitu. Hari ini mereka memuji seseorang layaknya malaikat, besok mereka mengutuknya sebagai setan.

Meskipun terlihat aneh, namun realitasnya memang demikian. Dalam kontestasi pilpres misalnya, si A yang dulunya mendukung kandidat B dengan membabi-buta memuja si B seolah tanpa cela. Uniknya, ketika pada pilpres selanjutnya si A berpihak kepada kandidat C, dengan segala daya dan upaya ia balik mencela kandidat B. Si A tidak sadar bahwa ia sedang memaki dirinya sendiri.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

[AsaiKana 123]: Antara Janji Politik dan Money Politik

19 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Kenapa pemilih lebih menyukai money politik daripada janji politik? Sebelum menjawab pertanyaan ini baiknya kita telusuri dulu kenapa pertanyaan semisal ini bisa muncul.

Seperti diketahui, politisi dan janji politik adalah dua hal yang saling terkait satu sama lain. Artinya kemunculan janji politik tidak bisa dipisahkan dengan keberadaan politisi itu sendiri.

Janji politik tidak akan pernah ada tanpa diawali oleh kemunculan politisi di pentas politik. Demikian pula dengan politisi, ia tidak mungkin eksis tanpa melemparkan janji-janji politik ke hadapan publik.

Dalam realitas politik kita di masa lalu, sebagian janji-janji politik yang dilontarkan oknum politisi dapat terpenuhi dengan baik pasca mereka duduk di pentas kekuasaan. Namun demikian, tidak sedikit dari janji-janji politik dari mulut oknum politisi yang berbuih-buih itu kemudian lenyap diterbang angin.

Lenyapnya janji-janji politisi yang terus berulang dari pemilu ke pemilu akhirnya memunculkan kejenuhan di benak publik. Seiring perkembangan waktu, kejenuhan demi kejenuhan ini menjelma menjadi rasa muak yang kemudian melahirkan sikap apatis dari publik.

Akhirnya sebagian publik berasumsi bahwa janji-janji politik dari politisi hanyalah bualan belaka, hanya rayuan dan tipuan untuk menarik simpati demi meraih kursi. Tidak sedikit oknum politisi yang setelah terpilih kemudian merevisi atau mencampakkan janji-janjinya.

Dalam kondisi inilah sebagian masyarakat memilih “berhijrah” dari ketergantungan pada janji politik yang palsu kepada praktik money politik yang lebih konkret. Janji-janji politik akan hilang dan lenyap begitu pemilu usai, sementara uang (money politik) terlihat lebih praktis dan memberi manfaat dalam seketika.

Dalam konteks kekinian, janji-janji politik hanya “sampah” penghibur hati. Janji politik selalu saja terhalang oleh waktu dan kemudian kabur. Sementara uang begitu dekat.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

[AsaiKana #122]: Cara Efektif Melakukan Money Politik

24 Views

Tuan dan Puan Steemians…


Bagi sebagian oknum politisi, praktik money politik adalah strategi ampuh yang dipercaya dapat memberi kesuksesan untuk meraih kemenangan. Disadari atau pun tidak, praktik ini terus saja terjadi di negara kita dari masa ke masa.

Dalam kenyataannya ramai oknum politisi yang berhasil mencapai impiannya melalui strategi ini. Namun tidak sedikit pula yang gagal. Keberhasilan yang diperoleh oleh beberapa gelintir oknum politisi melalui aksi money politik ini kemudian turut mendorong oknum politisi lainnya untuk mencoba strategi yang sama.

Bagi sebagian politisi yang masih menjunjung moral, mereka akan menolak dan bahkan melawan segala bentuk praktik money politik dalam pemilu. Sebaliknya, bagi oknum politisi “immoral” praktik money politik adalah satu-satunya jalan paling efektif yang mau tidak mau harus ditempuh.

Melihat beberapa kegagalan yang dialami oleh sebagian oknum politisi dalam menjalankan strategi money politik, berikut ini akan diuraikan beberapa langkah yang mungkin ditempuh oleh beberapa oknum agar praktik ini bisa berlangsung lancar dan aman.

Pertama, menjamin stok uang yang cukup. Ini adalah poin paling penting yang harus dipenuhi, sebab tanpa uang praktik money politik tidak mungkin dijalankan. Uang ini bisa bersumber dari mana saja seperti uang tabungan di bank, hasil menjual tanah, hasil korupsi, hasil menipu orang atau pun uang hasil utang.

Kedua, mempersiapkan tim sukses. Sebagai seorang politisi yang harus tetap menjaga kehormatan, tentunya tidak mungkin jika ia membagikan uang secara langsung kepada calon pemilih. Dengan demikian agar kerja money politik ini dapat dijalankan, maka politisi butuh kepada tim sukses. Nantinya tim sukses inilah yang bekerja membagi uang di lapangan.

Ketiga, pelatihan tim sukses. Seperti telah disinggung, tim sukses adalah penentu sukses tidaknya praktik money politik. Oleh sebab itu, sebelum beraksi, tim sukses harus dilatih dengan serius tentang tatacara membagi uang dan metode memilih sasaran. Hal ini sangat penting mengingat kekeliruan tim sukses akan berdampak fatal bagi oknum politisi. Bayangkan saja bagaimana jadinya jika tim sukses justru membagi uang kepada masyarakat di luar daerah pemilihan atau kepada tim sukses politisi lain, tentunya kondisi akan semakin runyam.

Keempat, memberi gaji besar kepada tim sukses. Persoalan gaji sangat penting diperhatikan agar kerja-kerja tim sukses dapat berjalan lancar. Gaji yang layak dan besar akan membuat tim sukses tetap bersemangat. Gaji yang kecil biasanya akan mendorong tim sukses melakukan tindakan korupsi dengan cara mencubit uang yang akan dibagikan kepada oknum pemilih. Jika hal ini terjadi maka money politik tidak akan efektif karena jumlah uang yang diterima oleh pemilih akan berkurang dan berbeda satu sama lain sehingga menimbulkan cekcok. Kejadian ini sangat berbahaya dan akan dengan mudah terendus oleh pengawas pemilu.

Kelima, mengamankan penerima uang. Pengamanan penerima uang ini harus diperhatikan oleh politisi yang akan melakukan praktik money politik. Seperti diketahui, praktik money politik adalah tindakan melanggar hukum. Oknum politisi profesional biasanya akan melakukan langkah-langkah pengamanan agar praktik money politik berlangsung aman. Salah satu caranya adalah dengan mendaftarkan para oknum calon penerima uang sebagai bagian dari tim sukses. Dengan kata lain, nama-nama penerima uang dimasukkan dalam daftar tim sukses yang di SK-kan oleh si politisi. Dengan pola ini maka tuduhan money politik akan sulit dibuktikan, sebab memberikan uang kepada tim sukses termasuk dalam kategori biaya politik, bukan money politik.

Keenam, distribusi uang dilakukan secara tertutup. Pola distribusi ini juga sangat menentukan sukses tidaknya praktik money politik. Jika tidak hati-hati, bukan tidak mungkin aksi money politik akan mudah tercium oleh lawan politik yang tentunya akan berdampak fatal. Di antara waktu yang lumayan efektif untuk distribusi adalah menjelang magrib atau setelah waktu subuh.

Ketujuh, sebisa mungkin si politisi harus mampu memberi kesan kepada masyarakat umum bahwa ia anti kepada money politik. Ini adalah bentuk pengelabuan agar si politisi dimaksud terbebas dari tuduhan money politik.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

[AsaiKana #121]: Demokrasi Selfie

29 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Demokrasi kita yang semakin liar telah memungkinkan setiap orang untuk bersikap sesuka hati, khususnya dalam memberikan dukungan politik. Dengan hadirnya media sosial, aksi dukung-mendukung ini pun semakin terbuka dan berlangsung liar di dunia maya.

Seperti kita saksikan, saat ini para politisi, baik caleg maupun cagub, cabup, cawalkot atau bahkan capres sekali pun telah menjadikan media sosial sebagai corong kampanye. Kita menyaksikan para politisi tersebut berfoto dan berselfie ria dengan calon-calon pemilih atau tim sukses dan kemudian disebarkan via media sosial.

Sebagian politisi juga berebut agar bisa berselfie dengan tokoh-tokoh agama untuk kemudian dicantumkan dalam kalender dan juga disebarkan di media sosial. Uniknya tokoh-tokoh agama dan tokoh masyarakat tersebut juga bersedia berfoto dengan hampir semua politisi sehingga foto mereka pun beredar luas, di mana masing-masing politisi mengklaim tokoh dimaksud sebagai pendukungnya.

Ada keyakinan dari sebagian politisi bahwa penyebaran foto-foto tersebut akan berdampak pada elektabilitasnya dalam pemilu. Percaya atau pun tidak ini adalah keyakinan konyol.

Di era media sosial kita akan sangat mudah mendeteksi betapa tidak efektifnya penyebaran foto-foto tersebut, di mana tokoh tertentu juga terdeteksi ikut berselfie dengan semua politisi sehingga dukungannya juga menjadi kabur.

Melalui media sosial kita juga akan mudah mendeteksi dukungan-dukungan palsu dari para oknum tim sukses. Hari ini seorang tim sukses berfoto dengan caleg A dan menyatakan dukungannya melalui media sosial. Besok Caleg B juga menyebarkan foto di media sosial bersama tim suksesnya, di mana si tim sukses tersebut sebelumnya telah menyatakan mendukung caleg A. Demikian seterusnya.

Beginilah realitis demokrasi kita. Keculasan terus merajalela.

Demikian Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

Perubahan Caleg Pasca Terpilih

220 Views

Sebagai manusia biasa, caleg juga akan mengalami perubahan gaya hidup pasca terpilih sebagai anggota dewan terhormat. Setelah terpilih sebutan caleg pun akan berganti menjadi aleg (anggota legislatif). Perubahan nama ini kemudian mengakibatkan perubahan-perubahan lainnya, baik disengaja, tidak sengaja atau terpaksa.

Perubahan gaya hidup caleg bisa terjadi cepat atau pun lambat. Sebagian oknum caleg langsung menampilkan sikap berbeda di awal-awal kemenangannya. Caleg serupa ini termasuk dalam kategori tidak taktis alias terlalu panik. Sementara itu sebagian oknum caleg lainnya akan menampilkan perubahan beberapa lama setelah ia terpilih, paling lama dua tahun setelah menjadi anggota dewan. Model ini biasanya dilakoni oleh caleg yang sudah berpengalaman alias caleg kawakan.

Untuk tahap pertama para oknum caleg akan menampilkan perubahan di hadapan para pemilihnya alias masyarakat. Jika di masa pemilu si caleg terlihat gigih bercengkerama, bersenda gurau dan sok dekat dengan rakyat, maka pasca terpilih ia akan berusaha memisahkan diri dari keakraban palsu yang pernah ia geluti di musim pemilu.

Si oknum caleg ini akan memosisikan dirinya sebagai orang terhormat dengan cara mengungsi dari keramaian. Jika dulu dia memasuki lorong-lorong terpencil nan sunyi untuk sekadar menyetor senyum kepada rakyat, pasca menjadi anggota dewan dia akan mengurung diri dan bertapa karena takut rakyat akan membalas senyumnya.

Di musim-musim pemilu ramai caleg (mungkin oknum) yang terkenal dermawan dan aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial. Saat itu ramai juga caleg yang bersedia hadir di pesta dan kenduri-kenduri kecil di pelosok lengkap dengan papan bunga. Pasca pemilu, mungkin karena harus menyesuaikan diri dengan tugas-tugas baru di parlemen, tidak sedikit oknum caleg yang kemudian berubah menjadi pelit dan malas memenuhi undangan dengan dalih sibuk mengurus rakyat. Dengan kata lain, para oknum caleg ini sadar bahwa sok dermawan dan sok peduli itu hanya cocok di musim pemilu.

Perubahan gaya hidup oknum caleg di hadapan rakyat ini biasanya berlangsung di tahun pertama atau tahun kedua setelah pantatnya menyentuh kursi parlemen. Setelah perubahan gaya hidup di hadapan rakyat dianggap selesai, biasanya akan dilanjutkan dengan perubahan di hadapan tim sukses.

Di tahun-tahun pertama pasca terpilih, walau pun telah berhasil mengatur jarak dengan rakyat, namun para oknum caleg biasanya akan tetap menjaga kemesraan dengan para tim suksesnya. Caleg-caleg profesional tidak akan memutuskan hubungan dengan tim sukses di awal-awal kesuksesannya, karena dia paham tindakan tersebut akan berakibat fatal.

Perubahan gaya hidup oknum caleg di hadapan tim sukses biasanya berlangsung di tahun kedua. Langkah pertama yang dilakukan adalah mengurangi pertemuan dengan tim sukses dengan alasan kesibukan di gedung parlemen. Langkah selanjutnya menonaktifkan nomor handphone lama dan mengaktifkan nomor baru yang hanya diketahui oleh orang-orang tertentu. Dia akan merahasiakan tindakan ini sampai ada tim sukses yang bertanya. Jika ada tim sukses yang bertanya, maka dia akan menjawab hpnya rusak atau hilang.

Oknum caleg profesional paham bahwa interaksi yang terlalu lama dengan tim sukses pasca terpilih akan sangat menguras waktu dan isi kantong. Hal ini didasari oleh sikap sebagian oknum tim sukses yang menjadikan anggota dewan sebagai mesin ATM berjalan. Kondisi ini sering menyebabkan si caleg kebingungan karena dia harus menyediakan pulsa, uang kopi dan biaya beli koyok kepada para tim sukses. Berdasarkan alasan-alasan itulah pasca terpilih si caleg akan berusaha mengubah gaya hidupnya di hadapan tim sukses.

Namun demikian, biasanya si oknum caleg akan tetap “memelihara” beberapa tim sukses khusus yang dianggap paling berpengaruh alias “pasukan turbo.” Jumlahnya tidaknya banyak dan paling banyak cuma lima atau sepuluh orang. Beberapa orang penting ini akan terus dijaga dan dilayani sampai masa jabatan si oknum anggota dewan habis untuk kemudian mengatur strategi baru guna memperoleh kemenangan pada pemilu berikutnya.

Bagbudig!

[AsaiKana #119]: Politisi dan Kebaikan Semu

22 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Di musim-musim pemilu jumlah orang-orang baik biasanya akan bertambah secara signifikan. Hal ini dapat kita saksikan sendiri di lingkungan kita masing-masing.

Tanpa perlu melakukan riset khusus, hampir dapat dipastikan bahwa kemunculan orang-orang baik ini memiliki kaitan erat dengan suksesi pemilu. Dengan kata lain, penambahan orang-orang baik ini akan terjadi lima tahun sekali. Mereka muncul pada saat menjelang pemilu dan akan hilang tiba-tiba setelah pemungutam suara selesai.

Sebagai masyarakat yang hidup di alam demokrasi, kita tidak perlu pura-pura terkejut melihat fenomena ini, sebab ia hanyalah fenomena biasa yang akan terus berulang di musim pemilu.

Di musim pemilu banyak digelar kenduri-kenduri besar dengan dalih kepedulian kepada fakir miskin. Para calon kepala daerah atau calon legislatif biasanya akan mengalokasikan sejumlah dana kampanye untuk membantu fakir miskin dan anak yatim di daerah masing-masing. Fakir miskin dan anak yatim ini nantinya akan diminta berdoa untuk kemenangan para politisi.

Pembangunan rumah ibadah yang dulunya terkendala, memasuki masa kampanye biasanya akan banjir bantuan. Para oknum politisi berlomba-lomba memberikan sumbangan dengan harapan nama mereka diumumkan “besar-besar” sebagai donatur melalui corong-corong masjid.

Bahkan uniknya lagi ada sebagian oknum politisi yang menyediakan ambulan gratis bagi pasien tidak mampu. Ambulan yang sudah ditempeli stiker politisi ini hilir-mudik mencari pasien untuk diangkut ke rumah sakit tanpa dikenakan biaya.

Dalam rentang waktu singkat (saat pemilu) kemunculan orang-orang baik semisal di atas memang sangat membantu masyarakat, di mana mereka berlomba-lomba memberi pelayanan kepada masyarakat. Tapi sayangnya kebaikan yang ditunjukkan oleh sebagian oknum politisi itu hanyalah kebaikan semu yang akan segera berakhir ketika pemilu usai.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

[AsaiKana #118]: Politisi Gagal

30 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Bersama Prof. Hamid Sarong

Sebagai sebuah kontestasi, pemilu adalah “perjudian nasib” yang melibatkan para politisi dalam pentas demokrasi. Kemenangan dan kekalahan adalah dua hal yang selalu beriringan, tepatnya bergantian. Politisi yang berhasil memenangkan pertarungan akan bersua dengan kegembiraan. Sebaliknya, politisi yang kalah akan larut dalam kedukaan.

Politisi yang gagal terpilih dalam pemilu tentu akan sangat terpukul dan bahkan “menderita.” Tidak hanya soal kehormatan yang terenggut, tapi juga kepunahan material yang tak terbilang. Kekalahan adalah pukulan yang sangat menyakitkan dan sulit terobati, kecuali dengan kemenangan di lain waktu.

Ramai politisi gagal yang harus rela menjadi “gelandangan” pasca pemilu. Sebagian mereka merasa terhina di depan para sponsor karena harapan kemenangan telah musnah. Sebagian lainnya harus memulai hidup baru untuk membayar utang yang telah menggunung.

Bagi politisi yang memiliki cukup kekayaan mungkin akan mampu bersabar sembari menyusun strategi dan menggalang kekuatan untuk meraih kemenangan pada pemilu berikutnya. Baginya kekalahan adalah sebuah cobaan dan batu loncatan untuk kesuksesan di masa depan.

Yang paling konyol dan menderita adalah politisi-politisi “dhuafa” yang memaksa diri melenggak-lenggok di pentas politik dalam dunia demokrasi yang semakin “gila.” Baginya kekalahan bukanlah ujian, tapi bencana yang mematikan dan menumpas segala imajinasi sehingga ia pun terpental dalam kehampaan.

Bagi politisi “dhuafa” kekalahan adalah kiamat, sebab segala kekuatan telah terkuras tak berbekas. Bagi mereka tidak ada lagi kebangkitan, sebab kesempatan telah habis. Tidak sedikit dari mereka yang kemudian harus mendapat perawatan kejiwaan karena guncangan mental yang tak tertahan.

Mereka akan melewati hari-hari sunyi. Sadisnya demokrasi!

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…