[Broeh Putoeh #10]: Kakek dan Nenek

27 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Sedang presentasi tesis di depan pembahas pada Seminar Hasil, 2019

Pastinya kita semua memiliki kakek dan nenek. Namun tidak semua kita beruntung bisa bertemu dengan kakek dan nenek dalam kehidupan kita. Sebagian kita mungkin pernah menghabiskan hari-hari di masa kecil bersama mereka, atau bahkan sampai kita dewasa, kita masih bisa bercengkerama dengan mereka.

Namun tidak sedikit dari kita yang hanya bisa mendengar nama kakek dan nenek dari cerita orangtua, tanpa sekali pun kita bersua dengan mereka, sebab mereka telah lebih dulu menghadap Tuhan sebelum kita lahir ke dunia.

Seperti halnya ayah dan ibu, kakek dan nenek juga memiliki pertalian yang erat dengan kita. Kasih sayang mereka selalu saja mengalir kepada kita, cucu-cucunya. Terlebih lagi jika kita adalah cucu pertama, tentu kasih sayang dan perhatian mereka akan lebih besar.

Dalam kehidupan masa kecil, kakek dan nenek adalah orangtua kedua bagi kita. Sering kali mereka kita jadikan sebagai tempat berlindung ketika orangtua sedang marah atas kesalahan yang kita lakukan. Dalam kondisi demikian, kakek dan nenek kerap kali menjadi tempat mengadu dan merajuk.

Ramai pula dari kita yang menghabiskan waktu masa kecil untuk bermanja dengan kakek nenek sembari meminta sesuatu yang belum atau tidak dikabulkan orangtua. Demi membahagiakan cucunya, kakek nenek senantiasa berusaha memenuhi harapan-harapan kita yang tertunda.

Sebagai manusia yang terus tumbuh, seiring perjalanan waktu, jika Tuhan menakdirkan, kita pun akan menjadi kakek nenek di kemudian hari. Kita juga akan menimang cucu-cucu kita yang lincah dan lucu.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

[Broeh Putoeh #9]: Ayah

45 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Selain ibu, sebagai manusia kita juga memiliki ayah. Pertemuan ayah dan ibulah yang memungkinkan kita lahir ke dunia. Dan kelahiran kita adalah wujud cinta kasih mereka.

Hanya Adam dan Hawa yang tak berayah dan ibu. Dan hanya Isa saja yang tak memiliki ayah. Adam, Hawa dan Isa adalah pengecualian sebagai bukti kekuasaan Tuhan.

Ketika ibu mengandung, ayah selalu menemani dan menanti buah hatinya lahir ke dunia. Dielusnya perut ibu seolah ia sedang membelai kepala kepala kita yang tertidur di kandungan.

Ayah bekerja menguras tenaga demi terpenuhinya kebutuhan ibu agar kita bisa lahir dalam keadaan sehat. Dia menyiapkan segala kebutuhan menjelang kehadiran kita ke dunia.

Ketika kita lahir, ayah adalah orang pertama yang mengenalkan suara di telinga kita. Digendongnya kita sembari membisik suara azan dengan halus sembari berharap suara itu akan senantiasa menemani hidup kita di kemudian hari.

Ketika kita masih belajar berjalan, dituntunnya tangan kita agar buah hatinya tak terjatuh. Dibawanya kita ke pasar dan keramaian untuk menunjukkan dunia yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Dibelinya kita pakaian baru dengan uang hasil ia memeras tenaga. Dibangga-banggakannya kita kepada teman-temannya bahwa kita anak yang patuh.

Pada saat menginjak remaja, ayah mengajari kita segala keterampilan agar kita berguna di hari depan. Hasil yang ia peroleh dari membanting tulang disisihkan untuk kepentingan kita, anak yang ia banggakan.

Meskipun ia tidak selalu menyertai hari-hari masa kecil kita layaknya ibu, karena harus berjuang mencari peruntungan hidup, tapi hati seorang ayah tetap terpaut pada kita sebagai sosok yang akan meneruskan perjuangannya kelak.

Sehebat apa pun kita di kemudian hari, bagi ayah, kita tetaplah anaknya yang manis dan lucu. Kita bisa bermegah-megah di hadapan orang lain, tapi tidak di depan seorang ayah yang telah menyertai perjalanan hidup kita sejak kaki kita masih lemah dan belum mampu berdiri.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

[Broeh Putoeh #8]: Ibu

47 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Seminar hasil tesis, UIN Ar-Raniry, 21/03/2019

Sehebat apa pun kita, sebagai manusia tentunya kita pernah menumpang hidup dalam perut ibu. Kita menumpang tidur, bermain, makan dan minum selama berbulan-bulan. Perut ibu adalah alam pertama bagi kita.

Setelah kita melihat dunia, ibu pun menjadi “pelayan” paling setia yang sama sekali tak membutuhkan upah dari kita. Dia tidak menuntut bayaran apa pun atas apa yang telah ia berikan kepada anaknya.

Susu ibu adalah minuman pertama yang kita teguk ketika kita baru hadir di dunia. Ibu mengajarkan kita bicara, berjalan dan berlari. Ia juga memakaikan pakaian terbaik untuk kita.

Ia melupakan kebutuhan dirinya demi kepentingan kita. Dia mengurangi tidurnya demi menemani kita yang masih terjaga. Dia melakukan hal-hal pelik yang tidak mungkin kita balas dalam bentuk apa pun.

Memasuki usia remaja, ibu membekali kita dengan rupa-rupa pelajaran untuk persiapan hidup di masa depan. Dia akan tersenyum dengan prestasi kita. Dan jika kita terpuruk, dia pun bersedih.

Ketika dewasa dan menemukan pasangan hidup, kita akan meninggalkan ibu kita untuk membangun keluarga baru. Jika kita menemukan kebahagiaan, maka ibu turut gembira. Seandainya hidup kita kecewa, ibu pun berduka.

Cinta kasih ibu takkan pernah lekang oleh jarak dan waktu. Ibu akan senantiasa mengasihi kita hingga ke ujung usianya.

Berbahagialah bagi yang masih memiliki ibu.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

[Broeh Putoeh #7]: Anak

53 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Saat mewawancarai Tu Bulqaini, 2016

Perkawinan antara dua anak manusia yang telah menjadi kekasih tidak hanya sekadar untuk memenuhi nafsu seksual belaka, tapi juga sebagai sarana untuk melanjutkan keturunan dengan melahirkan manusia-manusia baru yang akan mewarisi dunia. Dalam setiap perkawinan normal kehadiran anak selalu saja dinantikan, sebab ia akan menjadi perekat hubungan sepasang kekasih yang telah memilih hidup bersama.

Kehidupan tanpa anak adalah kehidupan yang sepi. Kita menyaksikan sendiri bagaimana lengangnya rumah-rumah mewah tanpa kehadiran seorang anak yang menjadi penghibur bagi kedua orangtuanya. Manusia yang masih sehat pikirannya tentu sangat merindukan kehadiran anak sehingga ia pun akan berduka ketika anak yang dinantinya tak kunjung hadir. Namun begitu, takdir Tuhan tentu tak dapat ditolak, di mana masih ramai saudara kita, atau mungkin kita sendiri yang belum dikaruniai anak.

Di awal kehadirannya, dalam usia yang masih bayi, anak akan menjadi penghibur yang membuat suasana keluarga menjadi ramai. Kehadirannya dapat mengobati kepenatan ayah ibunya. Tangis dan tawanya terkadang mampu mencairkan ketegangan ayah bundanya yang sedang berseteru.

Dalam suasana kehidupan yang harmonis anak akan dibesarkan dengan kasih sayang sehingga ia pun tumbuh dewasa. Kasih sayang kedua orangtuanya akan membentuk kepribadiannya di kemudian hari. Anak-anak serupa ini tidak hanya menjadi pewaris keluarga, tapi juga akan membalas jasa-jasa orangtuanya di masa depan.

Sebaliknya, dalam keluarga yang kacau, anak-anak akan dibesarkan dalam suasana kebencian sehingga ia pun akan menjadi pribadi yang bebal di kemudian hari. Pribadi yang senantiasa kecewa kepada ayah bundanya sebab masa kecilnya begitu suram dan mengerikan.

Kendati demikian, anak yang dididik dengan kelembutan dan kasih sayang terkadang juga terperosok sebagai pribadi yang manja dan durhaka di kemudian hari sehingga orangtuanya pun larut dalam kesedihan.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

[Broeh Putoeh #6]: Kekasih

41 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Fitrah telah mendorong manusia untuk mencari dan memiliki pasangan hidup. Proses pencarian ini dimulai ketika manusia sadar akan kebutuhannya pada pasangan yang akan menemani perjalanan kehidupannya. Dalam terminologi umum, pasangan hidup ini disebut sebagai kekasih.

Seperti halnya sahabat, proses penemuan kekasih mungkin saja diawali oleh pertemanan. Berkat kekaguman tertentu, perasaan dan juga gejolak hati, sosok yang awalnya hanya teman biasa, kemudian menjelma sebagai kekasih, teman yang bukan sekadar teman.

Namun begitu, ada pula sosok kekasih yang berasal dari orang-orang yang pernah kita musuhi. Karena perubahan suasana, pikiran dan cara kita memandang hidup, seringkali orang-orang yang kita musuhi di kemudian hari justru menjadi dekat dengan kita. Secara perlahan ia menjadi teman, sahabat dan kemudian bermuara pada pertauatan hati sehingga ia pun menjelma sebagai kekasih.

Kekasih adalah tempat kita menyalurkan berbagai kebutuhan yang tak mungkin tersalur kepada teman, sahabat, apalagi musuh, baik kebutuhan biologis maupun psikologis. Kekasih memberikan kita kegairahan dan ketenangan yang mungkin tidak akan kita peroleh dari sosok lain.

Namun dalam perjalanan hidup yang penuh liku, terkadang kekasih juga menghadirkan kedukaan dan kekecewaan yang kerap menguji ketahanan hati kita. Menerima kondisi demikian, sebagian kita mencoba bertahan dan tidak sedikit pula yang menyerah sehingga pertautan hati pun terputus.

Dalam hubungan formal, kekasih mewujudkan dirinya sebagai sosok suami atau pun istri. Sementara dalam kehidupan muda remaja kekasih menyaru dalam sosok yang mereka sebut sebagai pacar.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

[Broeh Putoeh #5]: Musuh

46 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Bersama Azmi Abubakar saat mewawancarai Tionghoa Bireuen, Pemilik Apotek Sehat, Apotik tertua di Bireuen

Idealnya dalam menjalani kehidupan di dunia ini kita lebih memilih memperbanyak teman dan sahabat. Sangat sedikit dari kita yang merindukan, apalagi sampai bercita-cita menambah musuh. Jika teman dan sahabat identik dengan kedamaian dan ketenangan, maka musuh justru identik dengan ketakutan dan keterancaman. Sebab itulah kita cenderung menghindari permusuhan.

Namun begitu terkadang kita tidak bisa mengelak dari kehadiran musuh dalam kehidupan ini. Satu waktu bisa jadi musuh itu yang mendatangi kita tanpa diundang dan di lain waktu mungkin pula kita yang mencari musuh sampai ke tempat yang jauh.

Pada dasarnya kita tidak diciptakan untuk bermusuhan, tapi kehidupan yang penuh dengan persaingan, iri dengki, ambisi, keangkuhan dan dendam telah menumbuhkan rasa permusuhan antara yang satu dengan yang lain. Dalam kondisi inilah istilah musuh muncul di muka bumi.

Sebagian musuh berasal dari sosok asing yang tak pernah kita kenal. Dia datang entah dari mana dan kemudian hadir dalam kehidupan kita. Sementara sebagian musuh lainnya justru berasal dari teman dan sahabat kita sendiri. Karena perbedaan-perbedaan terkadang kita terpaksa bermusuhan.

Layaknya teman dan sahabat yang bisa berubah menjadi musuh, ramai pula musuh yang kemudian berubah menjadi teman dan sahabat di kemudian hari. Tidak sedikit pula dari kita yang pada zahirnya berteman tapi pada hakikatnya bermusuhan.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

[Broeh Putoeh #4]: Sahabat

44 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Bersama Pak L. Indra Patra, guru saya ketika masih sekolah di MAN Peusangan 1996-1999

Fase pertemanan diawali dengan saling terasing. Dengan adanya interaksi, sosok asing itu kemudian berubah menjadi teman. Dari sejumlah teman yang kita miliki, seiring perjalanan waktu dan semakin eratnya perpaduan hati, sebagian dari teman itu akan menjelma sebagai sahabat.

Sahabat adalah teman dekat. Kedekatan ini dilandasi oleh banyaknya kecocokan antara kita dan mereka. Kecocokan inilah yang kemudian mengeratkan tali pertemanan sehingga sosok sahabat menduduki posisi berbeda dari teman-teman pada umumnya.

Kita seringkali menganggap sahabat lebih “berharga” dari sekerumun teman yang kita miliki. Anggapan ini didasarkan pada berbedanya keakraban yang terbina antara keduanya. Jika kehilangan teman hanya kita ratapi sejenak, maka kehilangan sahabat akan kita sesali sepanjang waktu.

Sahabat adalah teman dalam maqam tertinggi. Jika hubungan dengan teman dibatasi oleh sejumlah rahasia, maka hubungan dengan sahabat, dengan pengecualian tertentu cenderung tanpa rahasia. Bahkan terkadang kita saling “telanjang.”

Dalam berinteraksi dengan teman biasanya kita akan sangat hati-hati agar mereka tidak tersinggung. Demikian pula dengan mereka, juga bersikap serupa untuk menjaga perasaan kita.

Ada pun saat berinteraksi dengan sahabat kita tidak begitu peduli pada kehati-hatian, sebab kita yakin seorang sahabat sangat memahami kondisi dan karakter kita sehingga segala “kepura-puraan” menjadi tidak perlu sebab telah berganti dengan keterusterangan.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

[Broeh Putoeh #3]: Teman Baru

41 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Jika teman lama adalah mereka yang menemani kita di masa lalu, maka teman baru adalah mereka yang menyertai kita masa kini dan (mungkin pula) di masa depan.

Dalam pengertian yang paling sederhana, teman baru adalah sosok-sosok yang awalnya asing bagi kita. Keasingan ini bukan karena jauhnya mereka dari tempat kita berdiri, tapi kita terasing dalam interaksi. Kemudian, karena alasan tertentu sosok-sosok itu pun menjadi dekat, atau mungkin mendekatkan diri dengan kita.

Karena kondisi kehidupan yang terus berubah, hubungan dengan teman-teman baru memang tidak bisa dielakkan untuk tidak menyebut satu kemestian. Teman-teman baru akan selalu hadir dalam kehidupan kita, baik kini maupun nanti, kecuali bagi kita yang memang sengaja menutup diri.

Adakalanya kita menggagas sendiri hubungan pertemanan dengan sosok-sosok baru dalam kehidupan kita, dan di lain waktu bukan tidak mungkin sosok-sosok baru itu yang akan mencoba mendekati kita. Dalam proses kesalingan inilah tali pertemanan itu terikat atau mengikatkan diri.

Pada dasarnya keberanian untuk membina pertemanan dilatari oleh dugaan adanya kecocokan antara kita dan sosok-sosok baru. Ada pun hasrat pertemanan seringkali dilandasi oleh adanya kepentingan yang diharapkan akan tercapai melalui jalan pertemanan dengan sosok tersebut.

Usia pertemanan dengan sosok baru sangat tergantung pada sejauh mana keharmonisan dan kecocokan dapat dipertahankan. Ada kalanya teman-teman baru ini akan menjelma sebagai sahabat seiring perjalanan waktu. Bahkan ada pula yang meningkat menjadi kekasih. Dan tidak sedikit pula yang kemudian berubah menjadi musuh sehingga pertalian hati pun putus.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…