[AsaiKana #125]: Ulah Caleg Kalah

28 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Sebagai manusia biasa, tentunya caleg juga akan merasa kekecewaan mendalam ketika targetnya dalam kampanye tidak tercapai. Kekecewaan akan bertambah ketika hasil yang diperolehnya tidak sesuai dengan pengorbanan dan uang yang sudah dikeluarkan.

Di antara bentuk kekecewaan para oknum caleg yang suaranya tidak mencapai target adalah dengan cara menarik kembali bantuan yang telah berikan kepada masyarakat atau komunitas tertentu. Meskipun terkesan aneh, namun tindakan konyol semisal ini sangat sering terjadi dalam demokrasi kita.

Kita tentu pernah menyaksikan ada oknum caleg yang meminta kembali bantuan karpet yang pernah diberikannya kepada masjid atau musala karena suaranya di kawasan tersebut tidak memadai bahkan nihil. Di tempat lain ada pula oknum caleg yang sampai menarik kembali tanah pekuburan dari masyarakat akibat tidak memilihnya sehingga mayat yang sudah dikubur harus dibongkar. Gila memang, tapi beginilah realitas demokrasi di tanah kita.

Secara psikologis sikap oknum caleg yang terbilang aneh ini adalah bentuk dari ketidaksiapannya menerima kenyataan sehingga melahirkan tindakan-tindakan konyol yang bukan saja saja memalukan tapi juga menyedihkan. Adapun secara sosiologis, tindakan ini justru akan merusak reputasi dan kredibilitas oknum caleg tersebut di mata publik.

Namun jika dilihat dari perspektif “kemanusiaan” tindakan menarik kembali bantuan yang sudah diberikan adalah tindakan yang wajar dalam pengertian cukup manusiawi. Artinya tindakan tersebut dilakukan karena dirinya merasa ditipu oleh oknum masyarakat. Siapa pun yang merasa tertipu tentunya berhak marah dan kecewa, tak terkecuali oknum caleg.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

Buku Demokrasi Kurang Ajar

31 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Buku ini saya beri judul “Demokrasi Kurang Ajar.” Buku ini berisi artikel-artikel pendek tentang segala bentuk kekurang-ajaran dalam demokrasi kita, khususnya dalam pentas politik praktis.

Buku tipis berjumlah 114 halaman ini saya tulis perlahan selama lebih kurang enam bulan. Umumnya terdiri dari ulasan-ulasan pendek dengan mengutip kasus tertentu.

Isi buku ini pada umumnya berdasarkan pengamatan, pengalaman dan wawancara mini dengan beberapa narasumber yang tidak saya sebut namanya.

Untuk sementara buku ini dicetak terbatas dan dijual secara online via facebook dan bukalapak. Buku dijual dengan harga Rp. 45.000. Bagi yang berminat bisa menghubungi facebook Tin Miswary.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

[Broeh Putoeh #11]: Cucu

36 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Rumah peninggalan kakek kami

Dalam konteks pertalian darah, cucu adalah anak dari anak. Kita sendiri adalah cucu dari kakek nenek yang hidup sebelum kita. Jika Tuhan menghendaki, mungkin kita juga akan memiliki cucu di kemudian hari. Jika hari ini kita menjadi cucu bagi kakek nenek kita, bukan tidak mungkin suatu hari kita akan menjadi kakek bagi cucu-cucu kita.

Bagi kakek nenek, kehadiran cucu sering kali disambut dengan gembira. Selain anak (ayah ibu kita), cucu juga kerap dijadikan harapan bagi persambungan perjuangan kakek nenek di masa lalu.

Demikian pula dengan seorang cucu, dia juga cenderung berbangga dengan kemegahan kakek neneknya di masa lampau. Tidak sedikit dari kita yang mengaku sebagai cucu si fulan guna mewarisi kemegahan mereka.

Namun begitu, dalam kondisi kakek nenek kita yang menoreh sejarah hitam di masa lampau, sebaliknya sebagian kita akan mencoba memutus rantai hubungan dengan mereka. Sebagian kita mungkin merasa malu untuk disebut sebagai cucu si fulin sebab “dosa-dosa” kakek nenek kita.

Di sebalik itu, kita juga sering mendengar ucapan orang-orang tertentu bahwa perjuangan yang dilakukannya hari ini adalah demi anak cucu di kemudian hari. Ucapan itu menandakan bahwa mereka sangat peduli pada cucu-cucunya di masa depan. Namun kata cucu di sini tentunya tidak terbatas pada cucu dalam pertalian darah, tapi cucu sebagai generasi penerus.

Idealnya kita memang harus mampu mewariskan kebaikan-kebaikan kepada cucu-cucu kita di masa depan, bukan justru meninggalkan kesan-kesan buruk yang membuat cucu-cucu kita menanggung malu di kemudian hari.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…