[AsaiKana #144]: Orang-Orang Fanatik

18 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Paloh Lada, Juni 2019

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata fanatik dimaknai sebagai kepercayaan atau keyakinan yang kuat terhadap sesuatu. Seperti halnya orang-orang yang memiliki keyakinan kuat terhadap ajaran agama atau ajaran politik tertentu dapat disebut sebagai orang-orang fanatik.

Kata fanatik bisa berkonotasi positif dan bisa pula negatif. Pemaknaan ini tentunya sangat tergantung pada kondisi bagaimana dan kapan kata itu dipakai. Tergantung juga oleh siapa dan kepada siapa kata itu ditujukan.

Dari dua pemaknaan itu, tulisan ini hanya akan membahas satu pemaknaan saja, tepatnya fanatik dalam arti negatif. Yaitu sikap fanatik melampaui batas yang dapat melahirkan perilaku-perilaku di luar nalar.

Orang-orang fanatik dalam kategori ini adalah mereka yang bersikap tertutup terhadap keyakinan yang dianutnya. Disebut tertutup karena tidak ada ruang kritik dalam keyakinannya itu, di mana keyakinan tersebut telah dianggap sebagai satu-satunya kebenaran tunggal yang final.

Kita dapat menyaksikan bagaimana sikap seseorang yang fanatik terhadap tokoh-tokoh tertentu. Mereka tidak segan-segan meninggalkan kewarasannya demi memuja dan memuji idolanya untuk kemudian memaksa orang lain mempercayai keyakinannya itu.

Orang-orang fanatik adalah mereka yang telah meninggalkan daya kritisnya. Dia menerima begitu saja segala titah dari pujaanya tanpa pernah mempertanyakan, bahkan sekadar menggunakan akal warasnya untuk menimbang pun tidak.

Mereka adalah orang-orang yang telah ditundukkan dan bahkan dikalahkan oleh kekuatan lain di luar dirinya. Mereka telah menjelma sebagai budak-budak yang siap digerakkan dan dikorbankan oleh idola dan ajaran yang mereka kagumi.

Mereka adalah orang-orang yang mati dalam kehidupan dan hidup dalam kematian. Kematian akal dan kehancuran pikiran akibat hilangnya kewarasan.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

[AsaiKana #143]: Kekalahan Kedua Prabowo

18 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Kemarin, 27 Juni 2019, Mahkamah Konstitusi (MK) telah membacakan hasil putusannya terkait gugatan Prabowo-Sandi pada Pilpres 2019. Dalam putusan itu, MK menyatakan menolak gugatan Prabowo-Sandi.

Secara hukum, keputusan ini semakin menguatkan kedudukan Jokowi-Ma’ruf sebagai pemenang Pilpres 2019. Dengan kata lain, putusan MK tersebut juga semakin meneguhkan kekalahan Prabowo-Sandi.

Dalam pertarungan politiknya dengan Jokowi, kekalahan kali ini merupakan kekalahan kedua setelah sebelumnya keduanya juga sempat berkontenstasi dalam Pilpres 2014, di mana saat itu Jokowi juga tampil sebagai pemenang.

Dalam kontestasi politik, kekalahan ini adalah hal yang wajar belaka di pentas demokrasi. Namun sebagai “pertarungan” dua anak manusia yang sama-sama memiliki rasa, kekalahan kedua tersebut tentunya sangat menyakitkan bagi Prabowo. Terlebih lagi usaha-usaha “perlawanan” atas hasil hitungan KPU di MK juga gagal total dan tidak sesuai harapan.

Tentu ada rasa kekecewaan mendalam yang dialami Prabowo, apalagi seperti disebut-sebut sejumlah pihak, Prabowo adalah sosok yang punya kontribusi bagi naiknya Jokowi ke pentas nasional yang dimulai dari Pilgub DKI, di mana waktu itu Prabowo menjadi penyokong utama Jokowi yang kemudian terpilih sebagai Gubernur DKI.

Namun seperti kita lihat, dalam politik memang tidak ada istilah kawan sejati. Meskipun keduanya pernah akrab dalam kontestasi Pilgub DKI, tapi kepentingan masing-masing pihak telah memisahkan mereka menjadi seteru demi meraih kekuasaan.

Namun begitu, kita patut berbangga kepada Prabowo Subianto yang menyatakan menghormati keputusan MK yang sifatnya final dan mengikat. Sikap lapang dada Prabowo juga telah kita lihat pada Pilpres 2014.

Saya pribadi sulit membayangkan apa yang akan terjadi jika seandainya Jokowi kalah. Bersediakah dia menerima kekalahan dengan lapang dada? Bagaimana pula jika Jokowi mengalami dua kali kekalahan seperti dialami Prabowo?

Pertanyaan itu tentunya tidak akan pernah terjawab dan tetap akan menjadi misteri, sebab waktu tak bisa diulang. Lagi pula dalam kontestasi Pilpres 2024, Jokowi tidak mungkin lagi mencalonkan diri.

Terlepas dari semua itu, persaingan antara Jokowi versus Prabowo memuat pelajaran penting yang layak dipetik; bahwa politik tidak mengenal persahabatan dan balas budi. Politik adalah persaingan, perseteruan dan rivalitas abadi demi mewujudkan kepentingan kekuasaan.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

Penulis Populer

34 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Krueng Mane 2019

Istilah populer sering kali identik dengan kemegahan dan kemasyhuran. Dalam konteks kepenulisan, penulis populer kerap dimaknai sebagai penulis terkenal yang dikagumi banyak orang. Penulis populer adalah penulis yang dicintai oleh para pembaca.

Pemaknaan demikian tentu tidak dapat disalahkan, apalagi jika pemaknaan itu mengacu pada konteks kebahasaan. Lagi pula dalam tradisi kita, kepopuleran juga acap kali dikaitkan dengan kebenaran, di mana sesuatu yang populer cenderung dianggap benar.

Namun begitu, tulisan ini akan mencoba memaknai istilah populer dalam konteks yang lebih luas yang tidak hanya terpaku pada penafsiran kebahasaan, tapi juga merujuk pada kenyataan-kenyataan sosiologis-psikologis.

Benar populer identik dengan kemegahan, tapi ia tidak selalu identik dengan kebenaran. Populer juga identik dengan kekaguman, tapi tidak selamanya ia berakar dari kejujuran.

Dalam kenyataan sosiologis tidak dapat dipungkiri ramai penulis yang mengejar popularitas dengan menggadaikan moralitas. Demikian pula dalam konteks psikologis juga banyak bermunculan penulis yang mengejar kemasyhuran dengan meninggakan objektivitas.

Dalam ruang politik, kita bisa menyaksikan beberapa penulis yang mati-matian membela kepentingan penguasa dengan melawan nuraninya sendiri hanya demi popularitas dan kemapanan dirinya. Dia tidak peduli dengan nasib sebagian anak bangsanya yang tertindas, terpuruk dan tersisih. Dia hanya peduli pada popularitasnya di hadapan penguasa.

Dalam ruang sosial keagamaan, ramai pula penulis yang terjebak dalam narsisme, di mana setiap tulisannya selalu saja menjadi senjata untuk menghantam kalangan minoritas agar nama besarnya tetap agung di mata mayoritas sebagai “pemilik” kebenaran tunggal. Baginya kebenaran adalah milik mayoritas yang harus dibela dengan berbagai argumentasi subjektif yang jauh dari fakta-fakta yang ada. Tujuannya hanya satu, kekaguman para pemujanya.

Popularitas sering kali menutup mata dan hati sebagian oknum penulis yang melacurkan dirinya demi kekaguman.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

Risiko Menulis

32 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Rasanya tidak ada aktivitas apa pun di dunia ini yang terbebas dari risiko. Bahkan aktivitas tidur pun memiliki risiko, minimal mimpi buruk atau mungkin kencing di celana. Namun demikian risiko tidak lantas bisa dijadikan alasan untuk tidak beraktivitas.

Menulis sebagai sebuah aktivitas menuangkan gagasan, pikiran dan harapan juga memiliki sejumlah risiko. Apalagi jika dilakukan dengan tergesa-gesa dan tidak hati-hati, maka risiko pun akan semakin besar.

Bagi penulis yang hobi mengirimkan tulisan ke koran, jika tidak dilakukan dengan serius dan cermat, maka akan berisiko tulisannya ditolak. Demikian pula bagi penulis yang mengutarakan pikirannya dalam penerbitan akademik semisal jurnal pun akan mengalami penolakan jika tulisannya tidak menggunakan metode yang benar atau lemahnya argumentasi. Penolakan tulisan adalah risiko terkecil yang dihadapi penulis.

Dalam konteks yang lebih luas, seorang penulis yang menulis fenomena sosial politik atau fenomena keagamaan dengan terburu-buru dan asal jadi juga akan berhadapan dengan sejumlah risiko, minimal ditertawakan atau dalam taraf tertentu bisa berhadapan dengan hukum.

Tulisan yang tidak didasari fakta, pengamatan dan analisis yang benar sangat berpeluang menjadi fitnah yang bisa merugikan kalangan tertentu. Dalam kondisi inilah penulis seringkali berurusan dengan hukum, atau bahkan persekusi oleh massa.

Tidak sedikit penulis yang harus menghabiskan waktunya dalam jeruji. Memang tidak semua penulis tersebut melakukan pelanggaran hukum. Sebagian besar di antaranya justru menulis dalam bingkai hukum. Namun karena tulisan mereka dianggap menyinggung dan menganggu kekuasaan, maka mereka pun dipenjara. Seperti telah kita singgung sebelumnya, ini semua adalah bentuk risiko yang mau tidak mau harus diterima oleh penulis.

Di kawasan tertentu, seorang penulis bahkan diusir dari negaranya hanya karena tulisan yang dianggap menyimpang dari pemikiran umum. Sebagian mereka harus menghabiskan sisa usianya di luar negeri. Di sana pemikiran-pemikiran mereka disambut dengan baik.

Dalam kondisi lainnya seorang penulis juga sering mendapat label negatif akibat tulisan-tulisan yang mereka telurkan. Tidak jarang seorang penulis yang gencar mengkritisi pemerintah kemudian dicap sebagai pembangkang. Demikian pula penulis yang melakukan kajian sosial keagamaan secara kritis juga seringkali distigma sebagai sesat atau anti-maenstream.

Tidak sedikit penulis yang ditangkap atau diusir dan kemudian buku-bukunya dibakar atau minimal dilarang beredar. Sebagai penulis tentunya kita harus siap dengan berbagai risiko semacam ini.

Jika tidak siap dengan risiko, pilihannya cuma satu; berhenti menulis.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

[AsaiKana #142]: Kecurangan Bagian dari Demokrasi

16 Views

Tuan dan Puan Stemians…

Salah satu informasi unik yang disampaikan dalam sidang gugatan Pilpres 2019 di Gedung Mahkamah Konstitusi (MK) adalah terkait materi yang menyebut kecurangan sebagai bagian dari demokrasi. Informasi itu disampaikan oleh salah seorang saksi dari kubu Prabowo-Sandi sebagai penggugat.

Dalam keterangannya, saksi Prabowo-Sandi, Anas, mengatakan bahwa materi tersebut disampaikan oleh Moeldoko dalam acara pelatihan saksi. Tudingan ini kemudian “dikuatkan” oleh keterangan dari saksi Jokowi-Ma’ruf selaku pihak terkait.

Terlepas dari perdebatan tentang benar tidaknya informasi tersebut, topik ini tentunya sangat menarik untuk diulas, tidak hanya terkait pilpres, tapi juga dalam setiap kontestasi pemilu.

Demokrasi dalam praktiknya memang memberi ruang bagi segala bentuk tindakan kecurangan oleh siapa pun. Bahkan dalam ruang demokrasi yang semakin liar, kecurangan justru menjadi satu-satunya jalan untuk meraih kemenangan.

Dalam konteks pemilu, kecurangan bisa saja dilakukan oleh para peserta pemilu, atau pun pihak penyelenggara yang berafiliasi dengan salah satu peserta. Bahkan kecurangan ini juga bisa dipraktikkan oleh para penguasa melalui instrumen negara yang dikendalikannya.

Jika dilakukan penelitian cermat dan objektif, maka hampir dapat dipastikan bahwa tindakan kecurangan selalu saja terjadi dalam pentas demokrasi, baik dalam skala besar maupun kecil. Dengan kata lain, ruang demokrasi memberi kesempatan bagi munculnya potensi-potensi kecurangan.

Kita bisa saja berdalih tentang adanya etika dalam demokrasi. Namun ketika dihadapkan dengan kenyataan, di mana nafsu kemenangan begitu meluap-luap, maka segala potensi pun akan digunakan, termasuk strategi curang. Ketika kemenangan menjadi satu-satunya tujuan, maka moral pun akan kehilangan daya.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

[My Story #14]: Pengalaman Wawancara dengan Ulama Dayah

14 Views

Tuan dan Puan Steemians…

23 April 2019

Untuk kepentingan penulisan tesis sebagai salah satu persyaratan mendapatkan gelar magister di Program Pascasarjana UIN Ar-Raniry, saya harus melakukan wawancara dengan beberapa ulama dayah di Aceh. Kegiatan wawancara ini menghabiskan waktu hampir dua tahun. Rentang waktu yang lumayan panjang ini disebabkan oleh berbagai persoalan teknis yang saya temui di lapangan.

Setelah menyelesaikan seluruh mata kuliah wajib pada Konsentrasi Pemikiran dalam Islam di Pascasarjana UIN Ar-Raniry saya pun mengajukan proposal tesis ke bagian akademik. Proposal tesis tersebut saya ajukan menjelang akhir tahun 2015, tepatnya pada 6 Desember.

Proposal tesis saya yang berjudul “Wahhabi dalam Perspektif Himpunan Ulama Dayah” diterima dalam Sidang Proposal pada 2016 dengan sedikit perubahan judul. Berdasarkan keputusan penguji dan pembimbing judul tesis menjadi “Wahhabi dalam Perspektif HUDA (Himpunan Ulama Dayah Aceh) dan Implikasinya terhadap Kehidupan Sosial Keagamaan di Aceh.”

Pihak akademik menunjuk Prof. Misri A. Muchsin dan Dr. Lukman Hakim, M. Ag sebagai pembimbing. Sejak saat itu saya pun mulai melakukan penelitian dari 2016 dan baru selesai pada 2018.

Setelah mendapat SK penelitian, saya segera berkeliling ke beberapa dayah di Aceh untuk melakukan wawancara. Saya bergerak seorang diri untuk menjumpai para ulama yang sangat dihormati itu.

Saya memang sempat merasa “goyang” untuk berhadapan dengan mereka. Namun demi sebuah “misi” dan kepentingan penelitian, saya segera membuang perasaan-perasaan itu jauh-jauh. Saya mencoba menanam keyakinan bahwa mereka pada dasarnya adalah manusia-manusia biasa. Yang membedakan saya dan mereka adalah dari sisi keilmuan dan karisma yang mereka miliki.

Dalam pertemuan dengan para ulama itu saya mencatat banyak hal. Meskipun mereka adalah ulama yang dihormati, namun sisi-sisi kemanusiaan mereka tetap terlihat melalui interaksi dan pola komunikasi.

Di antara sekian ulama ‘karismatik’ yang saya temui, saya terkesan dengan beberapa sosok seperti Tgk. Muhammad Amin Mahmud (Tumin), Tgk. Mustafa Puteh (Abu Paloh Gadeng), Tgk. M. Yusuf A. Wahab (Tu Sop), Tgk. Bulqaini Tanjongan, Tgk. Faisal Ali (Lem Faisal), Tgk. Faisal Hasan Sufi dan Tgk. Syech Syamaun Risyad.

Beberapa ulama tersebut menyambut saya dengan cukup baik hampir tidak ada sekat. Meskipun mereka memiliki karakter yang berbeda, namun saya bisa membangun komunikasi yang terbuka. Saya mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang kemudian dijawab dengan serius dan penuh perhatian.

Ketika menjumpai Abu Tumin, sebagaimana pengunjung lainnya saya juga dijamu dengan minuman dan makanan ringan sembari menunggu beliau menuju ruang tamu. Beliau berbicara sangat lembut dan hati-hati. Jika pengunjung sedang ramai, maka kami akan berbicara bergantian.

Untuk dapat menjumpai Abu Tumin sama sekali tidak memerlukan perantara. Cukup datang langsung ke rumah beliau, jika beliau ada di tempat, maka akan tetap dilayani.

Demikian pula pertemuan saya dengan Abu Paloh Gadeng juga berlangsung nyaman. Beliau mempersilakan saya masuk untuk kemudian berbincang dengan santai. Abu Paloh Gadeng sangat terbuka dengan segala informasi yang saya butuhkan.

Sambutan serupa juga saya alami di kediaman Tu Sop. Saat itu beliau sedang mencalonkan diri sebagai calon bupati Bireuen. Tu Sop adalah perokok berat. Selama wawancara beliau menghabiskan hampir dua bungkus rokok sambil terus berbicara lancar. Bagi saya ini adalah keunikan tersendiri. Saya juga sempat menyaksikan beberapa tamu yang datang tidak membawa kue atau minuman, tapi membawa rokok sebagai oleh-oleh untuk Tu Sop.

Dalam pertemuan dengan Tu Bulqaini, saya juga disuguhkan pemandangan menarik. Di dayah Tu Bulqaini mayoritas yang menjadi santri adalah anak yatim. Saya melihat langsung bagaimana dia berkomunikasi dengan mereka. Dia benar-benar menampilkan diri sebagai seorang “bapak” yang penuh kasih sayang terhadap anak yatim.

Selama penelitian saya juga sempat mewawancarai Tgk.Faisal Hasan Sufi dan Tgk. Syech Syamaun Risyad. Saya menemui Syech Syamaun di Pesantrennya di Lhokseumawe dan Tgk. Faisal Hasan Sufi di sebuah rumah sakit di Bireuen. Kedua ulama ini juga menyambut saya dengan cukup baik. Saya mewawancarai Tgk Faisal Hasan Sufi hampir empat jam. Ini adalah wawancara terlama yang pernah saya lakukan.

Ulama lainnya yang coba saya temui tapi gagal adalah Tgk. Hasanoel Bashri (Abu Mudi) dan Tgk. Usman Kuta Krueng (Abu Kuta). Saya mendapatkan banyak kendala untuk menemui dua ulama karismatik ini.

Saya berangkat ke Kuta Krueng, Ulee Glee selama tiga kali. Abu Kuta ada di tempat, tapi tamunya lumayan ramai dan bahkan sangat ramai. Mereka membawa sejumlah jeriken penampung air untuk kemudian dirajah oleh Abu.

Beberapa kali saya bisa masuk ke rumah Abu Kuta dan duduk di hadapannya, tapi saya gagal melakukan wawancara karena tamu yang sangat ramai sehingga berdesak-desakan. Saya sudah mencoba melakukan komunikasi dengan murid yang mendampinginya. Tapi lagi-lagi alasan banyak tamu selalu saja menjadi penghalang sehingga akhirnya saya memutuskan untuk tidak melakukan wawancara dengan beliau.

Ulama dayah lainnya yang sulit ditemui adalah Abu Mudi. Kesulitan ini muncul bukan karena ramainya tamu atau padatnya agenda beliau, tapi karena ketatnya sistem protokoler di Dayah Mudi Mesra Samalanga.

Tidak kurang lima kali saya datang ke dayah Mudi dalam sesi waktu berlainan; mulai dari pagi, siang, sore, malam dan bahkan di waktu Subuh di mana saya harus salat Subuh di Samalanga, tapi saya tetap saja gagal menemui beliau.

Ada prosedur di Dayah Mudi, di mana setiap tamu harus melapor kepada para penjaga alias piket di dalam gerbang. Saya menuruti prosedur ini, tapi para penjaga piket beralasan bahwa Abu Mudi sedang ada acara ini dan itu. Saya tunggu sampai acara selesai, tapi Abu Mudi tetap tidak bisa ditemui. Yang membuat saya kurang berkenan adalah sikap penjaga piket yang saya perhatikan tidak mencoba melapor kepada Abu Mudi, padahal saya bisa melihat Abu Mudi berada di ruangannya tanpa kegiatan.

Dalam kunjungan keempat kalinya saya berhasil mendapatkan nomor kontak ajudan beliau, saya diminta datang di waktu Subuh. Sebagaimana janji saya pun datang sekitar pukul lima pagi. Saya menunggu beliau memberikan pengajian setelah Salat Subuh. Selesai pengajian, saya kembali menghubungi ajudannya, tapi kata ajudannya beliau sudah beristirahat. Akhirnya saya pulang.

Pada kunjungan kelima saya meminta kepada penjaga piket untuk dapat berjumpa langsung dengan Abu Mudi setelah saya pastikan beliau ada di sebuah ruangan dayah. Saya melihat beliau tidak ada kegiatan.

Permintaan saya ini ditolak oleh penjaga piket, katanya tidak boleh bertemu langsung. Penjaga piket mengatakan kepada saya, untuk berjumpa dengan presiden saja tidak boleh langsung, harus melapor, harus begini dan begitu. Saya sempat geram dengan jawaban itu. Akhirnya saya bertanya kepada penjaga piket, apakah begitu sulitnya bertemu Abu Mudi? Dia jawab, yang bisa bertemu langsung Abu Mudi cuma orang-orang seperti menteri, pejabat atau tamu-tamu dari luar negeri. Kalau yang lain harus menunggu.

Mendengar jawaban itu, saya langsung pulang. Saya memutuskan untuk tidak mewawancarai beliau. Dalam kesimpulan subjektif saya, Dayah Mudi terlalu elite dengan protokoler yang cukup rumit.

Akhirnya saya menyelesaikan penulisan tesis saya tanpa menyertakan keterangan atau informasi dari Abu Mudi. Saat saya melakukan penelitian, Abu Mudi masih berstatus sebagai Ketua HUDA (Himpunan Ulama Dayah Aceh).

Tesis saya telah disidangkan di Ruang Sidang Pascarsarjana UIN Ar-Raniry pada 23 April 2019. Bertindak selaku penguji: Prof. Dr. Sjamsul Rijal, M. Ag; Dr. Samsul Bahri, M. Ag; Prof. Misri A. Muchsin, M. Ag; Dr. Lukman Hakim, M. Ag; Dr. Abdullah Sani, MA selaku ketua sidang dan Loeziana Uce, S. Ag, M. Ag selaku sekretaris.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

[My Story #13]: Perokok Santun dan Perokok Kurang Ajar

15 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Saya tidak bisa berbohong apalagi sampai harus menutupi kalau saya adalah perokok. Perkenalan saya dengan rokok dimulai ketika saya menginjakkan kaki di bangku kuliah, tepatnya pada tahun 1999.

Sebelumnya saya bukanlah perokok dan bahkan pernah berharap agar saya tidak sampai berhubungan dengan rokok. Di usia-usia sekolah, meskipun sebagian besar teman-teman saya sudah belajar merokok, namun saya tetap bertahan untuk tidak merokok sebatang pun. Sama sekali saya tidak tergoda dengan bujukan teman-teman untuk mengisap lintingan tembakau.

Saat itu saya masih cukup rajin olahraga, khususnya karate dan pencak silat. Saya juga aktif di Pramuka. Beberapa aktivitas ini sangat membantu saya untuk menghindari rokok.

Namun semuanya berubah ketika saya lulus sekolah. Semester pertama kuliah di Banda Aceh, saya masih bisa bertahan untuk tidak merokok dengan tetap berolah raga. Tapi, pada suatu hari sepupu saya meminta saya untuk membeli rokok. Karena dia lebih tua maka permintaanya saya turuti.

Besoknya, ketika saya hendak ke kedai Darussalam untuk membeli makanan, sepupu saya kembali menitip sejumlah uang untuk dibelikan rokok. Seperti biasa permintaannya selalu saja saya turuti.

Di bulan-bulan pertama membeli rokok, saya tetap masih konsisten dengan sikap awal, bahwa saya tidak boleh merokok. Tapi setelah menjelang sekira tiga atau empat bulan, saya sudah mulai mencoba sebatang. Besok sebatang lusa sebatang dan seterusnya. Akhirnya tanpa terduga sebelumnya, saya pun menjelma sebagai perokok yang lumayan aktif.

Selama hampir lima belas tahun saya menghabiskan satu sampai dua bungkus rokok perhari. Rokok pertama yang saya kenal adalah Star Mild, kemudian beralih ke Surya 16. Saya lama bertahan di Surya 16 sampai kemudian beralih ke Sampeorna Mild. Beberapa tahun setelah itu saya berpindah lagi ke Dji Sam Soe. Tepat pada tahun 2009 saya beralih ke Marlboro Light sampai saat ini.

Dalam lima tahun terakhir, sejak 2014 saya berusaha mengurangi rokok. Tidak lagi menghabiskan dua bungkus, tapi mencoba bertahan satu bungkus atau kurang dari itu. Saya terus berusaha menekan alias mengurangi aktivitas merokok. Namun begitu sampai saat ini saya masih berstatus sebagai perokok.

Meskipun saya adalah perokok, namun saya sangat muak kepada beberapa oknum perokok yang kurang ajar. Mereka adalah orang-orang yang merokok di ruangan tertutup, di angkutan umum, di masjid, di depan anak kecil dan di depan perempuan. Bagi saya perokok seperti itu masuk kategori kurang ajar.

Selama menjalankan aktivitas merokok hampir dua puluh tahun, saya selalu berusaha sesantun mungkin. Saya menghindari merokok di depan anak-anak, perempuan, ruangan dan angkutan umum. Jika bertemu dengan orang-orang yang tidak merokok, saya akan meminta izin untuk merokok. Jika diizinkan saya akan merokok, jika tidak mendapat izin, saya akan bersabar atau berpindah tempat.

Adapun di depan orang-orang yang anti rokok, saya sama sekali tidak akan merokok. Saya sering berdiskusi dengan beberapa orang Salafi yang anti rokok, di hadapan mereka saya sanggup untuk tidak merokok berjam-jam lamanya.

Bagi saya merokok adalah kesenangan dan hiburan. Dengan demikian sebisa mungkin saya akan menghindari menganggu kebahagiaan orang-orang yang tidak merokok.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

[AsaiKana #141]: Reuni Kecil-Kecilan

16 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Malam tadi, Kamis (18/06/2019), karena kebetulan berada di Banda Aceh, saya dan Tgk Faisal Ridha, Presidium SIRA menghabiskan malam di Donya Kupi Drop Daruet. Kami tiba di sana sekira jam 9 malam.

Sesampai di sana, tampak dua sosok yang sedang menikmati secangkir teh hijau yang kononnya diimpor dari Taiwan. Di kedai itu memang disediakan berbagai jenis teh dan kopi dari luar negeri.

Dua sosok yang sedang santai pas di depan kedai adalah sepasang suami istri yang sudah kami kenal sebelumnya. Mereka adalah M. Nur Djuli, mantan juru runding GAM dan istrinya Shadia Marhaban, salah seorang aktivis perempuan di Aceh.

Kami segera bergabung dengan mereka. Selang beberapa menit, tamu lainnya pun tiba di lokasi dan juga bergabung bersama kami. Mereka adalah Tgk.Muhammad Saleh, mantan pejuang referendum. Dia datang bersama istri dan anaknya.

Setelah berkumpul segera saja kami larut dalam perbincangan tentang berbagai isu terkait Aceh saat ini. Salah satu topik yang sempat melahirkan perbincangan panas di kedai itu adalah terkait isu referendum yang baru-baru ini digelorakan Muzakkir Manaf, mantan Panglima GAM. Setelah melahirkan polemik kecil di Aceh terkait isu ini, Muzakkir Manaf pun melakukan klarifikasi melalui sebuah video beberapa hari lalu.

Perbincangan kami malam itu lebih terfokus pada isu ini dengan pertanyaan besar; apakah isu referendum di Aceh masih dianggap penting dalam konteks Aceh hari ini; dan bagaimana respons masyarakat Aceh terkait isu ini, di mana ada beberapa tokoh di Aceh, di antaranya Muhammad Nazar, mantan Koordinator Presidium SIRA yang menyatakan isu itu sudah tidak layak diperbincangkan.

Meskipun nada “penolakan” yang disampaikan Nazar hanyalah pikiran pribadi, bukan keputusan SIRA secara organisasi, namun pernyataan ini justru telah memperlebar polemik. Baru-baru ini kononnya, Muzakkir Manaf juga akan bertemu Menkopolhukam, Wiranto yang tampaknya juga tidak terlepas dari isu ini.

Setelah berbincang beberapa jam, Om Nur Djuli dan istrinya pun pamit pulang yang kemudian disusul Tgk Saleh dan istrinya. Akhirnya yang tersisa di meja itu hanya saya, Tgk Faisal dan istrinya. Perbincangan kami pun berganti ke topik lain, salah satunya terkait pengusiran penceramah dari Jawa dan “kerusuhan” di salah satu masjid di Banda Aceh baru-baru ini.

Sekira pukul 12 malam, kami pun pulang ke tempat masing-masing.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

Buku Ramadan Orang Awam

14 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Beberapa hari lalu, seorang teman, Muhajir Juli, menyerahkan buku dengan tajuk Ramadan Orang Awam. Buku ini saya pesan kepada penulisnya (@ihansunrise) pada akhir Ramadan lalu. Saya minta buku itu dititip ke Muhajir karena saya sedang tidak berada di Banda Aceh.

Buku Ramadan Orang Awam ditulis oleh tiga penulis muda Aceh: Ihan, Hayatullah dan Rio. Ketiganya adalah penulis sekaligus Steemians yang telah melahirkan banyak konten di Steemit.

Kononnya buku itu berisi tulisan-tulisan mereka di Steemit. Tentunya ini adalah pencapaian yang luar biasa. Tidak hanya sekadar sambil berenang minum susu, tapi plus makan pisang goreng. Begitulah jika kreativitas dijadikan gaya hidup. Ia tidak hanya memberi kepuasan, tapi juga keuntungan.

Buku yang diterbitkan Bandar Publishing tersebut dijual dengan harga Rp. 50.000. Pada Ramadan lalu cetakan pertama buku itu tampaknya sudah habis terjual berkat kerja keras penulisnya yang melakukan promosi tanpa henti.

Menurut rencana saya akan menyisakan waktu untuk membaca beberapa bagian buku ini guna mendapatkan gambaran umum tentang isi buku. Dan, jika memungkinkan saya akan mencoba menulis resensi buku ini di salah satu koran lokal di Sumatera Utara.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

[AsaiKana #140]: Pasca 22 Mei (7)

16 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Menurut rencana sidang perdana gugatan Prabowo-Sandi di Mahkamah Konstitusi (MK) akan digelar besok pada Jumat, 14 Mei 2019. Menyikapi sidang ini, pihak Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi telah mengimbau kepada para pendukungnya untuk tidak melakukan aksi massa di depan MK. Mereka meminta kepada para pendukungnya untuk mempercayakan gugatan tersebut kepada para penguasa hukum yang sudah ditunjuk BPN.

Sementara itu, pihak kepolisian seperti dirilis sejumlah media, menyatakan tidak akan memberikan izin kepada masyarakat untuk melakukan aksi di depan gedung MK. Dalam rangka pengamanan sidang besok, pihak kepolisian juga telah menyiagakan sejumlah personel polisi di MK. Pihak kepolisian juga melakukan pengalihan beberapa jalur lalulintas di sekitar MK.

Informasi lainnya datang dari Kemenkominfo. Mereka mengatakan akan melakukan pembatasan terhadap media sosial jika didapati adanya penyebaran hoax. Pembatasan ini akan dilakukan apabila terjadi penyebaran kabar bohong melalui video dan gambar yang dapat memicu munculnya provokasi.

Keputusan untuk membatasi media sosial juga akan dilakukan jika nantinya terjadi aksi massa di depan gedung MK. Hal ini dilakukan demi menghindari terjadinya kekacauan yang dapat mengganggu ketertiban dan keamanan.

Meskipun wacana pembatasan media sosial telah disampaikan oleh Kemenkominfo, namun jika nantinya kondisi sidang berlangsung aman dan tidak adanya penyebaran hoax, maka pembatasan tersebut tidak akan diterapkan. Menurut Kemenkominfo, jika pun pembatasan dilakukan hanya pada beberapa fitur seperti video dan gambar, bukan pemblokiran total.

Namun terlepas dari semua itu, pembatasan terhadap media sosial seperti facebook atau instagram tentunya akan berdampak kepada para pengguna, khususnya para pedagang online yang selama ini melakukan transaksinya melalui media sosial.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…