[My Story #18]: Belajar Silat dan Karate

28 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Ketika masih kecil, selain gemar main perang-perangan, saya bersama kawan-kawan juga punya hobi berkelahi, tapi bukan berkelahi betulan, hanya permainan. Di masa itu main perang-perangan dan berkelahi memang sudah menjadi semacam permainan khas anak laki-laki.

Sewaktu masih sekolah di MIN, saya dan kawan-kawan sering latihan berkelahi di halaman masjid yang saat itu masih ditumbuhi rumbut tebal. Tempat itu lumayan aman untuk bermain. Sesekali kami juga main di teras masjid pada saat Pak Bilal tidak ada di tempat.

Saya ingat betul, waktu itu, karena belum menemukan saluran yang pas, hampir semua pohon pisang di rumah saya tendang dan tinju sampai tumbang. Kejadian ini membuat orangtua saya marah besar, tapi saya diam saja.

Pada waktu sekolah di MTsN, tepatnya di kelas dua, saya pun mendaftar di salah satu perguruan silat di Matangglumpangdua. Waktu itu saya bergabung di kelompok Seni Pembela Diri Kencana Kwitang yang dipimpin Master kami, almarhum Bang Tarmizi.

Sejak saat itu, selain aktif di Pramuka, saya juga menyisakan waktu di sore hari untuk latihan silat di sebuah lapangan kecil tak jauh dari Kota Matang. Sesekali kami juga latihan di Pantai Jangka dan tepi Krueng Pante Lhong.

Saat itu, kami sering dilatih oleh Bang Adi, satu-satunya murid bang Tarmizi yang bersabuk hitam, sabuk tertinggi dalam komunitas silat. Bang Tarmizi biasanya melatih kami sebulan atau dua bulan sekali.

Saya belajar silat di perguruan ini sampai kelas tiga MAN. Pada saat kelas 1 MAN, saya juga bergabung dengan perguruan karate. Saya bisa aktif latihan di dua perguruan ini karena jadwal latihan yang berbeda alias tidak beradu.

Masalah baru muncul pada saat jadwal latihan beradu. Pada waktu kelas dua MAN, ada pergeseran jadwal latihan karate sehingga beradu dengan jadwal silat. Saat itu latihan sama-sama digelar di lapangan SMA Peusangan.

Karena saya sudah agak lama latihan di perguruan silat, maka hari itu saya memutuskan untuk ikut latihan karate, karena di perguruan ini saya baru bergabung satu setengah tahun. Pada saat itulah kejadian kurang enak itu muncul.

Karena latihan berlangsung di tempat yang sama, guru silat saya, Bang Tarmizi, berhasil melihat saya memakai seragam karate berwarna putih, sementara seragam di silat berwarna hitam. Hari itu guru silat saya tidak menegur dan diam saja.

Masalah muncul saat saya ikut latihan silat pada hari berikutnya. Hari itu Bang Tarmizi menegur dan bertanya kenapa saya bergabung dengan perguruan karate. Saya hanya diam saja, tidak menjawab. Kemudian beliau meminta saya memilih salah satu. Dengan tegas saya jawab, saya memilih silat. Sejak saat itu saya pun berhenti latihan karate dan fokus di silat sampai lulus MAN. Karena ujian kenaikan tingkat terlalu ketat, saya hanya bisa sampai sabuk hijau (tingkat 3) di silat. Tiga sabuk lagi di atasnya gagal saya dapat.

Sewaktu kuliah di IAIN Ar-Raniry saya juga sempat bergabung beberapa bulan di Perguruan Silat Merpati Putih. Tapi mengingat jadwal kuliah yang padat, karena saya kuliah di dua jurusan, akhirnya saya keluar dari Merpati Putih.

Selepas itu, saya tidak lagi bergabung dengan perguruan mana pun. Namun begitu, karena sudah menjadi hobi, saya masih terus latihan silat setiap pagi sebagai olahraga rutin yang saya lakoni sampai sekarang.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

Opini yang Berubah Menjadi Cerpen

40 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Beberapa hari lalu saya menyiapkan sebuah artikel yang berjudul “Para Penganggur.” Artikel itu rencananya akan dikirim ke rubrik Opini salah satu koran lokal.

Dalam artikel itu saya ingin membahas tentang peran para penganggur yang sering dipandang sinis oleh sebagian orang. Sebagian kalangan menganggap penganggur sebagai pemalas, tidak cakap, tidak produktif dan seterusnya.

Anggapan itu tentunya tidak seluruhnya benar. Artinya tidak selamanya penganggur itu identik dengan pemalas. Ada banyak sekali alasan kenapa mereka harus menganggur. Bisa jadi mereka kekurangan modal, fisik yang lemah atau harus merawat orangtua yang sakit dan seterusnya.

Keberadaan para penganggur juga sering dianggap sebagai ancaman. Artinya, kondisi mereka yang tidak punya pekerjaan dianggap berpotensi melahirkan kejahatan, seperti pencurian, perjudian dan lain-lain. Dengan kata lain, para penganggur selalu saja dipandang negatif.

Padahal, jika kita mau jujur, seburuk apapun seseorang di dunia ini, dia pasti pernah melakukan kebaikan dalam hidupnya, walau kecil sekali pun. Demikian juga dengan penganggur.

Dalam kehidupan sosial, penganggur juga memiliki peran dan kontribusi yang terkadang luput dari perhatian kita. Lihat saja ketika ada orang meninggal di kampung, para penganggurlah yang menggali kubur dan mencari bahan-bahan yang dibutuhkan. Ketika pesta perkawinan digelar, para penganggur pula yang gigih membantu, sementara orang lain yang non penganggur sering terikat dengan pekerjaan mereka.

Demikian seterusnya…

Tapi, sedang asyiknya saya menulis artikel tentang tema tersebut, tiba-tiba pikiran saya pun berbelok. Artikel yang baru beberapa paragraf itu pun saya ubah menjadi cerpen. Dan, cerpen itu terbit pagi tadi di Serambi Indonesia.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

[AsaiKana #148]: Heboh Penahanan Keuchik di Aceh Utara

29 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Dalam dua hari terakhir, beranda facebook di Aceh dihebohkan oleh kabar penahanan terhadap Munirwan, Keuchik Meunasah Rayek Kecamatan Nisam, Aceh Utara. Kononnya keuchik tersebut ditahan pihak kepolisian atas laporan dari Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh.

Keuchik dimaksud dituding melakukan komersialisasi benih padi IF8 yang belum memiliki label. Sontak saja informasi penahanan ini kemudian viral di media sosial.

Seperti diketahui, Keuchik Munirwan adalah salah seorang kepala desa berprestasi di Aceh. Dia pernah mendapatkan penghargaan dari Kementrian Desa RI atas inovasinya dalam mengembangkan benih bagi petani.

Akibat penahanan itu, saat ini Keuchik Munirwan harus mendekam di sel tahanan Polda Aceh. Menyikapi hal ini beberapa kelompok dan organisasi tani di Aceh tampak mengecam tindakan Kadis Pertanian yang telah melaporkan yang bersangkutan. Kecaman demi kecaman pun mengalir deras, khususnya di media sosial.

Kemarin (25/07/19) sejumlah tokoh masyarakat telah menggalang dukungan untuk memberikan dukungan moral kepada sang keuchik. Sejumlah KTP pun dikumpulkan untuk meminta agar Keuchik Munirwan mendapat penangguhan penahanan. Beberapa tokoh dan aktivis tersebut mendatangi Polda Aceh dan menyatakan diri sebagai penjamin.

Uniknya, ketika informasi ini telah viral, Kadis yang telah melaporkan sang keuchik pun berkilah dan mengatakan bahwa ia tidak pernah melaporkan. Anehnya pengakuan kadis ini tidak sesuai dengan surat yang beredar, di mana dalam surat itu Kadis telah mencantumkan tandatangannya.

Sejauh ini belum diketahui bagaimana nasib Munirwan selanjutnya. Apakah ia akan tetap diproses hukum, atau akan dibebaskan tanpa syarat, mengingat yang bersangkutan pernah berjasa mengharumkan nama Aceh di pentas nasional.

Informasi terakhir menyebut hari ini (26/07/2019) Munirwan telah diberikan penangguhan penahanan atas permintaan dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P).

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

[AsaiKana #147]: Netizen Malas Baca

38 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Beberapa hari lalu saya menulis satu artikel ringan di media online rubrika.id dengan tajuk “Kenapa Aceh Butuh Bioskop?” Dalam artikel itu secara ringkas saya mengulas tentang fenomena menonton bukan pada tempatnya yang dilakoni oleh sebagian oknum masyarakat di Aceh seperti menonton orang kecelakaan atau menonton rumah terbakar.

Saya juga menyinggung perilaku beberapa oknum di Aceh yang suka mempertontonkan kekonyolan seperti membuat kerusuhan di masjid dan aksi pembubaran konser. Aksi-aksi semacam itu terus saja berulang di Aceh.

Menyikapi kondisi tersebut saya menyarankan agar di Aceh kembali dibuka bioskop supaya orang-orang bisa menonton pada tempatnya. Mungkin dengan dibukanya bioskop perilaku-perilaku konyol itu bisa diminimalisasi.

Sebenarnya hampir keseluruhan kalimat dalam tulisan itu saya urai dalam nuansa satire. Namun karena sebagian netizen hanya berhenti pada judul dan meninggalkan isi, alias tidak membaca utuh, maka komentar miring dan bahkan konyol pun bertaburan.

Karena tulisan itu saya share via facebook, beberapa oknum netizen malas baca pun mengamuk. Macam-macam nama hewan pun keluar dari komentar-komentar mereka. Seperti biasa, karena ini bukan kejadian pertama, komentar-komentar itu sebagian saya balas dengan santai. Adapun beberapa komentar yang terlalu kurang ajar saya komentari dengan cara lain; dengan sedikit hantaman.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

Kritik Redaktur, Tulisan Ditolak?

42 Views

Tuan dan Puan Steemians…

6 Juli 2019 bersama Ketua KNPI Bireuen

Dalam enam bulan terakhir ini, beberapa tulisan opini yang saya kirimkan ke salah satu koran tidak jelas nasibnya. Meskipun tulisan yang tidak dimuat itu adalah hal yang wajar, namun khusus dengan koran yang satu ini, saya merasa ada yang aneh. Sebut saja koran A.

Sebelumnya, kecuali dalam enam bulan terakhir, tulisan-tulisan saya sering muncul di koran A, setidaknya satu atau dua bulan sekali. Ada juga beberapa tulisan yang ditolak (tidak dimuat). Bagi penulis, kondisi ini wajar karena pemuatan sebuah tulisan itu sangat tergantung pada redaksi. Jadi tidak ada yang aneh ketika tulisan kita kadang dimuat kadang tidak.

Yang membuat saya merasa aneh, kenapa dulu tulisan saya dimuat, tapi sekarang tidak lagi. Bahkan dalam enam bulan terakhir tidak satu pun yang dimuat meski saya sudah mengirim enam tulisan dengan topik yang berbeda sesuai isu yang berkembang.

Keanehan ini sudah saya rasakan sekira enam bulan lalu ketika ada dua tulisan saya yang tidak dimuat. Waktu itu redaksi memuat tulisan dari penulis lain dengan tema yang senada dengan tulisan saya. Karena tulisan saya sudah terlewati oleh tulisan setema dari penulis lain, saya pun memastikan tulisan saya ditolak. Ini adalah salah satu cara saya mendeteksi cara redaksi memuat tulisan seseorang.

Kemudian, karena tulisan itu saya anggap penting dan masih aktual, maka tulisan itu pun saya cabut dari redaksi koran A melalui email dan saya kirimkan ke koran lain dan dimuat. Kebiasaan mencabut tulisan ini sangat jarang saya lakukan. Biasanya kalau tidak dimuat langsung saya korbankan.

Setelah tulisan yang sudah saya cabut itu dimuat di koran lain, beberapa minggu kemudian saya kembali mengirim tulisan dengan topik lain ke koran A. Lagi-lagi tidak dimuat. Karena penasaran, di bulan berikutnya saya mengirim lagi tulisan lainnya demikian seterusnya sampai enam bulan. Dan, hasilnya tetap saja tidak dimuat.

Namun seperti biasa, redaksi memuat tulisan dari penulis lain yang temanya masih serumpun dengan tulisan saya. Meskipun sudah enam tulisan yang tidak dimuat, saya masih tetap berkesimpulan bahwa mungkin saja tulisan saya kalah saing dengan penulis lain. Lagi pula topik yang dibahas penulis lain hampir sama dengan tulisan saya. Jadi mungkin saja redaksi menganggap apa yang ingin saya sampaikan sudah terwakili oleh penulis lain.

Tapi di sebalik itu, dalam beberapa waktu terakhir saya memang sering mengkritik redaktur koran itu. Bukan tentang tulisan saya, tapi tentang hal lain yang tidak ada kaitannya dengan penolakan tulisan saya. Dan saya tidak pernah mempersoalkan tulisan yang tidak dimuat, karena bagi saya tugas penulis adalah menulis dan mengirim, persoalan dimuat atau tidak itu urusan redaksi.

Waktu itu saya mengkritik redaktur yang menyatakan mencabut salah satu tulisan dari seorang penulis hanya karena ada protes dari sekelompok orang. Kritik itu saya tulis di facebook dan juga di platform ini. Menurut saya sikap redaktur koran A yang mencabut tulisan dan mendorong penulis tersebut untuk minta maaf adalah tindakan yang lucu dan aneh karena tulisan itu sama sekali tidak mengancam stabilitas negara dan tidak pula merugikan siapa pun, tapi hanya sebuah pendapat.

Kritik lainnya adalah tentang perubahan kolom opini di koran itu. Sebagai seorang pembaca tentu wajar-wajar saja kita mengkritisi hal tersebut. Lagi pula hanya sekadar kritik dan tidak mengubah apa pun.

Sebelumnya saya juga melakukan kritik terhadap seorang oknum redaktur koran A yang saat itu sedang gencar-gencarnya melakukan pelatihan dan membentuk group menulis hampir di setiap kabupaten. Saya menilai pelatihan itu tidak akan melahirkan penulis, kecuali dalam jumlah kecil, itu pun mereka yang sudah mampu menulis sebelum bergabung dalam group menulis yang dibentuk oknum redaktur tersebut. Waktu itu saya menyampaikan (melalui tulisan) bahwa untuk bisa menulis tidak harus ikut pelatihan menulis berbulan-bulan sampai bertahun-tahun. Cukup dengan memulai dan melatih diri secara tekun, semua orang akan bisa menulis.

Selain itu saya juga mengkritik pola pembelajaran menulis yang diajarkan oknum redaktur tersebut yang menurut saya kurang efektif. Menurut saya pola menakut-nakuti calon penulis dengan tata bahasa, tanda baca dan hal-hal teknis adalah konyol karena bisa menurunkan semangat mereka. Yang penting ditumbuhkan adalah semangat untuk menulis, sementara hal-hal teknis nantinya bisa mereka pelajari perlahan tanpa harus dibebankan di awal.

Demikian beberapa kritik yang pernah saya lemparkan. Saya tidak tahu apakah karena kritik itu tulisan-tulisan saya kemudian tidak lagi dimuat. Tapi itu semua masih dugaan saya yang belum tentu benar.

Namun begitu rasa penasaran saya belum hilang. Hari minggu lalu saya kembali mengirim tulisan ketujuh ke koran A setelah saya pastikan topik itu belum dibahas penulis lain. Tapi sudah dua hari tulisan saya belum dimuat. Kali ini redaksi justru memuat tulisan dari penulis lain dengan topik berbeda.

Tapi, saya belum bisa mengambil kesimpulan apakah saya sudah masuk daftar blokir atau tidak. Saya harus menunggu setidaknya satu minggu ke depan. Jika nantinya ada tulisan penulis lain dengan tema serumpun dimuat redaksi, itu artinya saya sudah harus berhenti mengirim tulisan ke koran itu.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

[AsaiKana #146]: Beberapa Topik Perbincangan pada Juli 2019

31 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Pasca keputusan MK yang menolak gugatan Prabowo-Sandi, khususnya di Aceh, isu terkait pilpres pun tenggelam. Di media sosial terlihat tidak ada lagi perbincangan mengenai topik ini. Dengan kata lain, isu pilpres sudah selesai, setidaknya di Aceh.

Dalam beberapa hari terakhir, para netizen Aceh di media sosial tampak beralih ke isu lain, khususnya isu-isu khas Aceh. Artinya, netizen Aceh telah kembali ke habitatnya.

Di antara isu yang menarik perhatian netizen adalah wacana terkait legalnya poligami dalam draft Qanun Aceh. Seperti biasa, dengan modal hanya membaca judul para netizen pun memviralkan topik ini seolah-olah aksi poligami (maksudnya poligini) sudah sangat mudah dilakukan di Aceh. Bahkan ada yang beranggapan bahwa poligami adalah anjuran yang harus segera direalisasi. Begitulah jika kegemaran kita hanya berkutat pada baca judul tapi malas baca isi.

Isu lainnya yang sedang hangat diperbincangkan saat ini adalah aksi kejahatan seksual yang diduga dilakukan oknum pimpinan pesantren di Lhokseumawe. Menurut informasi media, seorang oknum teungku pimpinan dayah diduga melakukan pelecehan seksual terhadap beberapa santrinya. Aksi ini menurut informasi dilakukan berdua dengan seorang guru mengaji di dayah tersebut.

Laporan media menyebut ada lima belas korban yang umumnya adalah anak di bawah umur. Bentuk pelecehan dengan cara melakukan oral seks. Akibat perbuatannya kedua pelaku sudah ditahan pihak kepolisian.

Di media sosial isu ini membelah netizen ke dalam dua kutub. Sebagian netizen tampak mengutuk perilaku oknum teungku tersebut. Sementara sebagian lainnya menolak untuk menyebarkan informasi ini karena dianggap aib. Saya pribadi menganggap aksi ini sebagai kejahatan, bukan aib.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

Media Online Rubrika

51 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Artikel pertama saya di rubrika.id

Baru-baru ini Risman Rachman kembali meluncurkan media online baru yang diberi nama rubrika.id. Menurut Risman, media ini menggunakan pendekatan jurnalisme apresiatif dalam pemberitaanya.

Di tengah “menjamurnya” media online di Aceh saat ini, rubrika.id dapat menjadi salah satu saluran informasi alternatif bagi pembaca, khususnya pengguna android. Meskipun masih baru, namun sosok Risman yang sudah cukup berpengalaman dalam dunia jurnalistik tentunya akan menjadi penggawa utama bagi perkembangan media ini di masa depan.

Selain itu, meskipun baru diluncurkan, namun kehadiran media ini mendapat apresiasi yang cukup semarak dari banyak pihak seperti aktivis, akademisi, politisi, birokrat, penulis, mahasiswa, tokoh-tokoh perempuan dan masyarakat pada umumnya, tak terkecuali kaum milenial.

Sebelumnya Risman Rahman juga pernah melahirkan media online AceHTrend pada 2014 lalu. Media online yang saat ini dipimpin Muhajir Juli tersebut telah tampil sebagai salah satu sumber informasi yang lumayan “berkelas” di Aceh. Walaupun saat ini Risman tidak lagi aktif di AceHTrend, namun eksistensi dan bertahannya media ini di pentas informasi Aceh tentunya tidak bisa begitu saja dilepaskan dari kontribusi Risman Rachman.

Semoga saja media rubrika.id yang baru digagas Risman dapat terus bertahan dan menjadi sumbu informasi yang kredibel di Aceh.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

Liburan dan Buku

41 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Aneuk agam

Setelah menyelesaikan ujian kenaikan kelas bagi anak-anak beberapa waktu lalu, semua guru, termasuk saya menjalani masa libur semester yang cukup panjang. Kali ini kami mendapat jatah libur selama tiga minggu sejak akhir Juni lalu. Sekolah akan aktif kembali pada 15 Juli 2019.

Selama libur saya menghabiskan waktu melakukan beberapa kegiatan, salah satunya sebagai mahasiswa semester akhir, saya menyelesaikan beberapa persoalan administrasi di Pascasarjana UIN Ar-Raniry dalam rangka persiapan yudisium dan wisuda. Selama beberapa hari saya pun PP Bireuen-Banda Aceh.

Selama libur, saya juga menyelesaikan beberapa tulisan yang menurut rencana akan dikirimkan ke beberapa koran cetak. Sebagian tulisan tersebut sudah saya kirim beberapa hari lalu, tinggal menunggu keputusan redaksi apakah dimuat atau tidak.

Saya juga menghabiskan waktu dari pagi sampai siang untuk mengedit naskah buku keempat yang menurut rencana akan saya terbitkan pada Agustus atau September mendatang. Buku tersebut berasal dari skripsi S1 saya yang telah saya tambah dan kurangi materinya. Dari bahan dasarnya saat ini, buku itu telah mengalami perubahan hampir 70%.

Kegiatan lainnya selama libur adalah membaca buku-buku di pustaka mini saya. Sebagai hobi, aktivitas ini sudah saya lakukan dari sejak dulu sampai saat ini. Perbedaannya, di masa-masa libur seperti ini durasi membaca saya lebih panjang karena banyaknya waktu kosong dibanding dengan hari-hari biasa.

Di hari-hari biasa saya sering menghabiskan waktu membaca buku-buku pemikiran, sosiologi, antropologi dan sejarah. Namun di hari-hari libur saya lebih fokus membaca buku-buku sastra seperti novel dan kumpulan cerpen. Jika buku-buku sosiologi, antropologi dan sejarah berguna untuk memperkaya pikiran, maka buku-buku sastra akan menuntun kita memperkaya bahasa. Oleh sebab itu keduanya harus dipadukan.

Kegiatan lainnya yang saya lakukan adalah membersihkan rumah dan pekarangan. Aktivitas ini saya lakukan di sore hari dengan bermodal parang dan sepatu pacok saya pun bergerilya membabat semak dan rumput yang selama ini selalu mengundang nyamuk.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

[My Story #17]: Cita-Cita Jadi Tentara

27 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Foto tahun 2014, saat BB masih 85 kg, sekarang 65 kg

Masa kecil dan masa remaja adalah masa yang penuh fantasi. Masa di mana kita memainkan imajinasi liar dan mimpi-mimpi besar. Sebagai sebuah imajinasi tentu ia tidak terikat dengan rumus-rumus logika yang pelik. Hanya dengan satu kedipan mata, imajinasi itu pun terbang melayang melintasi ruang pikiran anak manusia.

Seperti umumnya anak-anak, saya juga punya cita-cita di masa kecil dan remaja. Saat itu saya berkeinginan menjadi tentara kalau sudah dewasa. Saya tidak memiliki alasan yang jelas kenapa bercita-cita menjadi tentara. Yg jelas setiap melihat tentara di jalan atau TV, mata saya tak berkedip.

Karena cita-cita ingin jadi tentara itulah saya bergabung dengan Pramuka. Meskipun Pramuka bukan tentara, namun sebagai anak muda remaja, saya merasa dunia Pramuka dekat dengan tentara.

Cita-cita ingin menjadi tentara jika besar kelak juga mendorong saya untuk belajar beladiri. Saat itu saya belajar pencak silat dan karate. Saya pikir dunia beladiri juga dekat dengan tentara.

Kegilaan saya pada tentara di masa remaja juga mendorong saya melakukan hal-hal konyol, setidaknya untuk ukuran masa sekarang. Saat itu saya sering berfoto di studio foto Matangglumpangdua dengan gaya tentara. Seolah-olah saya sudah jadi tentara betulan, padahal masih sekolah.

Kekonyolan lainnya, saya memiliki sebuah buku catatan khusus yang memuat nama-nama teman di sekolah. Karena sejak remaja punya hobi mencatat, saat itu saya pun menulis nama semua teman saya di buku.

Nama teman-teman saya tulis lengkap dengan tambahan pangkat yang saya karang-karang sendiri. Misalnya Mayor. Maimun, Kopral Munzirman atau Kolonel Syukri dan seterusnya. Saat itu saya juga menulis nama sendiri di cover buku dengan pangkat Letnan Jenderal, lengkapnya Letjen. Inf. Khairil Miswar.

Kegilaan lainnya, semua meja yang pernah saya pakai di sekolah juga penuh dengan coretan. Di meja itu saya menulis berbagai kata dan istilah dalam dunia tentara seperti TNI AD, ABRI, infanteri, kavaleri batalion dan seterusnya.

Tidak hanya itu, di meja-meja itu juga penuh dengan gambar yang saya buat dengan spidol atau pulpen. Di antaranya gambar baret bertuliskan Kopassus, tank, pesawat tempur dan meriam. Saya juga sering menggambar wajah Saddam Husen yang menggunakan pakaian militer lengkap dengan baret.

Coretan dan gambar yang bernuansa ketentaraan juga saya buat di lemari di rumah. Di album-album foto juga penuh dengan stiker baret merah, baret hijau dan gambar senjata Ak-47. Stiker dan gambar itu sebagian saya beli toko buku.

Demikianlah imajinasi terus bergerak sampai saya menamatkan sekolah di MTsN dan MAN Peusangan. Dunia yang penuh fantasi itu pun berlalu seiring perjalanan waktu. Dan yang jelas cita-cita menjadi tentara tak pernah terwujud. Anehnya, adik saya yang dulunya tak pernah punya cita-cita seperti itu, saat ini dia justru sudah menjadi tentara.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

Melawan Tulisan dengan Tulisan

36 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Bireuen, 6 Juli 2019

Baru-Baru ini sekelompok orang yang mengaku sebagai Lintas Organisasi Wartawan di Aceh mempersoalkan artikel yang ditulis Teuku Kemal Fasya di Rubrik Opini Serambi Indonesia pada 4 Juli 2019. Artikel yang bertajuk “Parasit Demokrasi” tersebut dianggap melecehkan profesi wartawan, khususnya di Lhokseumawe.

Dalam tulisan itu, Kemal mengkritisi ulah sebagian oknum wartawan yang olehnya disebut sebagai wartawan bodrex. Oknum wartawan model ini dianggap sebagai parasit yang dapat meracuni demokrasi.

Dalam tulisannya, Kemal juga memuji salah seorang wartawan senior di Lhokseumawe yang disebut-sebut hidup sederhana dan tidak mau menerima amplop dari siapa pun. Bahkan Kemal sendiri mengaku beberapa kali mencoba menyerahkan amplop sebagai bentuk simpati kepada yang bersangkutan, namun pemberian itu tetap saja ditolak, meskipun ia sangat membutuhkannya.

Apa yang disampaikan oleh Kemal adalah sebuah pikiran, pendapat dan pengalamannya selama berinteraksi dengan para wartawan. Apa yang disampaikan melalui tulisan itu bisa saja benar seluruhnya; bisa benar sebagian dan bisa saja salah seluruhnya. Sebagai sebuah pendapat, tulisan Kemal tentunya harus dihargai.

Adapun terkait adanya dugaan pelecehan terhadap profesi wartawan, maka pihak yang merasa dirugikan tentunya dapat membuat tulisan klarifikasi atau pun bantahan guna menolak pikiran-pikiran yang disampaikan Kemal di media yang sama. Dengan kata lain, idealnya tulisan dibalas dengan tulisan; bukan dengan kutukan dan bukan pula melalui kecaman atau pun ancaman.

Namun begitu, sebagai penulis kita juga harus hati-hati dalam mengulas data menjadi informasi. Kita juga harus cermat menggunakan argumen agar tulisan kita tidak disalahpahami pembaca.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…