[Sports #26]: Otavio Dutra Masih Diharapkan

17 Views


Otavio Dutra, Bek tim Persebaya Surabaya mengaku memperoleh pesan khusus dari Simon McMenemy, pelatih Timnas Indonesia, sebelum meninggalkan tim. Menurut Dutra, McMenemy meminta dirinya untuk kembali ke timnas.

Seperti fikabarkan, Dutra harus meninggalkan timnas Indonesia sebab ia dipulangkan oleh PSSI. Keputusan tersebut diambil menyusul belum selesainya proses naturalisasi teehadap pemain asal Brasil itu.

Kata Dutra, McMenemy sebenarnya turut sedih karena ia belum bisa membela timnas Indonesia. Namun ia berharap proses naturalisasi akan segera selesai.

Karena itu, kata Dutra, McMenemy masih meminta dirinya untuk dapat kembali bergabung bersama timnas Indonesia setelah membela tim Persebaya dalam melawan Bhayangkara FC.

Dutra sebenarnya merasa sangat sedih karena ia gagal membela timnas Indonesia. Sebenarnya dia sangat ingin bermain melawan Malaysia pada ajang kualifikasi Piala Dunia 2022.

Saat ini Dutra masih harus melewati dua tahapan lagi supaya naturalisasi tersebut bisa rampung. Dia juga membutuhkan persetujuan dari Komisi III DPR RI dan juga dari sekretariat negara.

Disarikan dari bola.net.

My Story #23]: Yudisium

19 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Kemarin, Rabu (29/08/2019) saya bersama teman-teman mahasiswa Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh mengikuti prosesi yudisium di Aula Pascasarjana. Acara itu diikuti oleh sembilan belas orang lulusan doktoral dan sekitar delapan puluh sekian lulusan magister. Saya sendiri tergabung dalam gerombolan magister yang hampir saja kena DO karena dinilai lambat menyelesaikan kuliah, hampir genap lima tahun.

Dalam prosesi yudisium tersebut ada dua yudisia yang mendapat nilai cumlaude; satu lulusan doktoral dan satu lulusan magister. Keduanya mendapat penghargaan khusus dari pihak akademik karena lulus tepat waktu dengan nilai tinggi.

Sementara sejumlah yudisia lainnya mendapat nilai bervariasi dari kategori baik sampai sangat baik. Saya sendiri mendapat IPK 3,51 (sangat baik) dengan lama studi lima tahun.

Tentu tidak ada yang istimewa dengan perolehan nilai itu. Bagi saya, bisa lulus saja sudah merupakan pencapaian besar sebab saya menjalani kuliah dalam kondisi bekerja sehingga harus pandai-pandai menyiasati waktu. Dari sisi pendanaan, saya juga menggunakan dana pribadi dan tidak pernah mendapat beasiswa. Dengan demikian perolehan IPK dengan angka tersebut dan lama studi yang mencapai lima tahun tentu masih terbilang wajar.

Beberapa teman ada yang mengeluhkan persoalan nilai yang diperoleh dalam yudisium karena dianggap terlalu kecil. Saya mengatakan kepada si teman bahwa nilai akademik hanya berguna di kampus dan belum tentu bermanfaat di luar kampus.

Keyakinan seperti itu harus tertanam dalam pikiran yudisia sehingga mereka tidak kecewa dengan perolehan nilai yang didapat. Seseorang yang mendapat nilai tinggi di kampus belum tentu dapat mengaplikasikan pengetahuannya di luar kampus. Begitu pula dengan yudisia yang memperoleh nilai rendah di kampus bukan berarti dia akan gagal di luar kampus.

Nilai hanya sebatas angka dan pengakuan akademik. Adapun intelektualitas seseorang tidak selamanya bergantung pada angka-angka. Buktinya ramai orang-orang besar di dunia ini yang nilai akademiknya hancur, tapi dia sukses tampil sebagai “pemenang” di luar sana. Sebaliknya, ramai pula sosok yang terlihat cerdas dengan nilai akademik tinggi tapi justru menjadi pecundang di luar sana.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

Idealis

67 Views

Kamus Besar Bahasa Indonesia memaknai idealis sebagai orang yang bercita-cita tinggi. Namun begitu, pengertian ini masih bisa diperluas; bahwa sosok idealis adalah mereka yang tetap setia pada prinsip dan asas yang diyakininya, tidak plin-plan dan tetap konsisten dengan sikapnya itu.

Kata idealis banyak ditemukan dalam berbagai topik perbincangan. Banyak orang yang mengaku dirinya sebagai idealis dan dalam waktu bersamaan sering pula menuduh orang lain sebagai tidak idealis.

Dalam dunia pergerakan atau pun dunia aktivis, istilah ini juga sering digunakan. Dalam praktiknya penggunaan istilah ini biasanya akan melekat pada sosok-sosok tertentu yang dianggap setia pada tujuan perjuangan yang telah digagas bersama. Bagi yang mengingkari kesetiaan ini, maka mereka akan dilabel sebagai tidak idealis.

Namun begitu, istilah idealis juga kerap dimaknai secara keliru sehingga melahirkan makna yang menyimpang. Dalam dunia aktivis misalnya; siapa saja yang tetap menyendiri dari hiruk-pikuk politik akan dianggap sebagai sosok idealis. Sebaliknya, mantan aktivis yang memilih terjun ke dunia politik dan dekat dengan penguasa cenderung dianggap sebagai tidak idealis. Pemaknaan seperti ini tentunya tidak bisa diterima.

Semestinya term idealis dapat dimaknai secara luas dan tidak kaku sehingga ia tidak terkurung dalam pengertian sempit yang picik.

Seorang idealis tidak harus miskin dan memilih kekal dalam kemiskinan tanpa ada upaya mengubah nasib agar lebih baik. Idealis bukan berarti harus menjadi petapa yang menyendiri dan mengasingkan diri dari keramaian. Idealis bukan bermakna harus menganggur dan memilih menjadi gelandangan seumur hidup.

Idealis adalah sosok yang tidak berkhianat ketika padanya diberi amanah. Idealis adalah orang yang menjaga hak-hak orang lain. Idealis adalah manusia yang berkata jujur dan tidak munafik.

Pejabat idealis adalah mereka yang tidak korup dan tidak mencoleng uang negara. Tentara yang idealis adalah mereka yang memilih melindungi rakyat daripada menuruti pengusa. Hakim yang idealis adalah mereka yang mengetuk palu sesuai hukum dan tidak mengikuti bisikan setan. Ulama yang idealis adalah mereka yang setia pada kitab suci dan kemaslahatan umat dan tidak tunduk pada tekanan siapa pun.

Artinya, kita tetap bisa menjadi sosok idealis dalam lintas profesi, lintas tempat dan lintas waktu. Idealis adalah kesetiaan pada prinsip dan asas. Idealis bukan sekadar label yang dimaknai secara absurd dan konyol.

Cara Menjadi Bawahan Yang Baik Versi Penjilat

41 Views
[KM](khairilmiswar.com)

Memasuki dunia kerja bukan hal mudah dan butuh perjuangan panjang. Dimulai dari belajar, mendapat ijazah, melamar pekerjaan, mengikuti tes dan proses-proses lainnya sampai kita dinyatakan lulus. Itu baru awal.

Kemudian, setelah diterima kita akan berhadapan dengan setumpuk pekerjaan, atau mungkin bertumpuk-tumpuk. Untuk menjalani fase ini juga tidak gampang. Butuh kesabaran walaupun terkadang beban kerja dan gaji tidak sesuai. Dalam kondisi ini hanya ada dua pilihan; bertahan atau keluar.

Nah, walaupun kita bisa keluar dari dunia kerja yang pernah kita masuki karena berbagai alasan, namun kita akan menemukan kesulitan baru, yaitu perjuangan baru untuk melamar kerja di tempat yang baru. Dan ini juga tidak mudah.

Dalam kondisi inilah terkadang orang-orang tertentu lebih suka memasuki dunia usaha yang rumit daripada dunia kerja yang terlihat sederhana tapi menyakitkan. Tapi memasuki dunia usaha juga tidak semudah kencing di celana. Juga butuh modal, keahlian khusus, proses dan perjuangan panjang. Akhirnya ramai orang yang tetap bertahan dalam dunia kerja.

Nah, bagi yang memilih bertahan di dunia kerja, baik sebagai karyawan perusahaan atau pun sebagai pegawai pemerintah, ada beberapa prinsip versi penjilat yang harus diamalkan secara konsisten.

Pertama, atasan atau bos adalah kebenaran tunggal dalam dunia kerja. Ini adalah prinsip agung yang harus senantiasa dijunjung. Melanggar prinsip ini berarti sama dengan menyalakan lampu merah yang muaranya adalah dipecat atau dikeluarkan. Jika ingin aman, maka tetaplah menjunjung prinsip mulia ini; bahwa tidak ada yang benar dalam dunia kerja selain atasan.

Kedua, bawahan adalah kesalahan dan kebodohan. Ini juga prinsip yang tak kalah agungnya dengan prinsip pertama. Jadi bagi siapa saja yang ingin bertahan dalam dunia kerja harus berpegang teguh pada prinsip ini. Di depan atasan harus senantiasa mengaku salah dan bodoh sebelum disalahkan dan dibodohi. Kalau kesalahan dan kebodohan datang dari pengakuan bawahan, atasan tidak akan marah. Beda halnya kalau kesalahan dan kebodohan itu datang dari tuduhan atasan. Atasan pasti marah. Kalau tidak marah dia tidak akan menuduh seperti itu. “Sebelum Bapak menyalahkan saya, sejak lahir saya memang sudah salah, Pak.” Sering-seringlah mengucapkan kalimat seperti itu.

Ketiga, perintah atasan itu sakral dan keramat. Ini prinsip ketiga. Karena perintah atasan itu sakral, maka tugas bawahan hanyalah melaksanakan, bukan mempertanyakan, apalagi sampai mendiskusikan. Jangan sekali-kali mendiskusikan perintah atasan walaupun perintah itu aneh dan janggal. Ingat bahwa atasan adalah kebenaran. Lagi pula janggal dan aneh itu hanya soal perasaan. Perasaan atasan tentu beda dengan bawahan. Jadi, ikuti saja segala perintah dan jangan membantah, walau dalam hati sekali pun.

Jika ketiga prinsip itu mampu diamalkan, maka hubungan dengan atasan akan tetap harmonis sehingga karier bawahan pun bisa menanjak. Dan bukan tidak mungkin suatu saat bawahan akan menjadi atasan.

[AsaiKana #157]: Adil yang Keliru

28 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Kemarin (25/08/19) tanpa sengaja saya terlibat perdebatan kecil dengan seorang teman di Facebook. Si teman menulis sebuah postingan dengan maksud menyindir salah satu ormas. Tampaknya ormas yang dimaksud adalah Banser.

Postingan itu hampir mirip dengan postingan Jonru beberapa hari lalu. Si teman menyindir Banser yang katanya suka membubarkan pengajian tapi lemah syahwat ketika bendera Bintang Kejora berkibar.

Soal Banser yang suka “berisik,” saya sepakat, karena ormas itu memang sering begitu. Bukan sekali dua, tapi berkali-kali. Di sini saya sepakat dengan si teman. Tapi, saya kurang sepakat ketika dia menghubungkan ormas itu dengan bendera OPM.

Saya menangkap kesan bahwa si penulis postingan itu ingin agar ormas tersebut melawan OPM. Jika yang dilawan itu benar-benar OPM tentu tak jadi soal selama perlawanan itu mendapat restu dari presiden selaku pemimpin negara.

Namun begitu, yang namanya serang-menyerang dan perang tentunya tidak hanya akan menyasar OPM, tapi juga akan berimbas pada masyarakat yang dianggap sebagai OPM, atau setidak-tidaknya dituduh mendukung OPM. Di sinilah kekacauan akan terjadi. Jangankan ormas, militer saja yang sudah terlatih belum tentu bisa mengontrol pergerakan pasukannya di tengah kecamuk perang.

Karena itulah saya memberi komentar di postingan si teman. Saya katakan bahwa Bintang Kejora itu sama dengan Bintang Bulan. Dan untuk soal Papua baiknya diselesaikan secara beradab. Kira-kira demikian.

Anehnya, si teman “mengamuk.” Dia katakan dulu di Aceh tidak pernah dipertimbangkan kemanusiaan oleh militer dan langsung diserang. Jadi kenapa harus mempertimbangkan kemanusiaan di Papua. Itu tidak adil. Demikian kira-kira balasan si teman.

Kemudian saya beri semacam ilustrasi. Misalnya saya dipukul oleh si A, tapi kawan yang duduk di samping saya tidak dipukul. Saya tanya ke si teman, apakah saya harus mendesak si A untuk memukul juga teman saya agar adil? Artinya jangan saya saja yang dipukul, tapi teman saya juga harus dipukul.

Anehnya si penulis postingan itu kembali “mengamuk.” Katanya analogi saya cacat. Karena sudah begitu akhirnya saya balas:”Segera desak militer untuk menghantam Papua sampai hancur dan kita akan bergembira dan tertawa karena keadilan telah tegak,” kira-kira demikian balasan saya.

Beberapa menit kemudian semua komentar yang berisi perdebatan saya dengan si teman itu pun dihapus. Dia hanya menyisakan komentar saya yang pertama.

Begitulah jadinya ketika keadilan itu dimaknai secara keliru. Adil dipahami sebagai sama. Jika yang satu sakit maka semua harus sakit. Seharusnya yang pernah merasa sakit berusaha agar yang lain tidak lagi sakit. Kan begitu?

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

[AsaiKana #156]: Martabat Kebinatangan

24 Views

Tuan dan Puan Steemians…

[KM](http://khairilmiswar.com)

Berbeda dengan hewan, manusia tidak hanya dibekali nafsu, tapi juga akal budi. Melalui akal budi inilah dia menemukan kemanusiaanya. Tanpa akal budi, dia adalah binatang, meskipun berwajah manusia.

Pada hakikatnya manusia itu saling mencintai, bukan saling bermusuhan. Permusuhan bukan produk akal budi, tapi ia adalah manifestasi dari nafsu amarah. Dari nafsu itu pula muncul kebencian kepada sesama.

Tuhan sebagai satu-satunya penguasa jagat raya juga menurunkan agama kepada manusia. Tidak kepada hewan, sebab hewan tak punya akal budi. Melalui agama itulah Tuhan memperkenalkan kebaikan dan cinta kasih, bukan permusuhan.

Tuhan menciptakan manusia dan menyebarkan mereka ke seluruh benua untuk membangun peradaban di muka bumi. Dan peradaban hanya bisa lahir di tangan manusia, bukan di tangan binatang, sebab binatang tak punya akal budi.

Tuhan menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa yang hidup di lintas wilayah, lintas negara dan lintas agama. Tuhan juga menciptakan manusia dengan berbagai rupa dan warna kulit agar mereka saling kenal dan saling kasih, bukan saling serang dan saling bunuh.

Sehitam apa pun kulit manusia dan sepesek apa pun hidungnya, dia tetap saja manusia dan bukan hewan sehingga derajatnya sama di hadapan Tuhan. Dan seputih apa pun kulit manusia dan semancung apa pun hidungnya, dia pun tetap manusia dan tak pernah berubah menjadi malaikat.

Jika ada manusia yang bergembira, bersuka-ria dan tersenyum bangga ketika manusia lain ditindas oleh sebangsanya, maka pada hakikatnya dia sedang memerkan martabat kebinatangannya. Martabat paling rendah di muka bumi. Yang hewan pun enggan menyandangnya.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

[AsaiKana #155]: Medsos Miniatur Dunia

25 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Dalam peradaban hari ini, medsos telah menjelma sebagai miniatur dunia. Bagaimana tidak, saat ini segala laku di dunia nyata dapat dengan mudah kita ketahui melalui konten-konten yang terpampang di beranda media sosial. Dan beranda media sosial adalah jalur lalulintas informasi paling sibuk di jagat raya.

Sebagai miniatur dunia, medsos menyajikan segalanya — segala yang ada di dunia, dari petak-petak benua yang paling besar sampai debu-debu halus di kutub utara. Dari orang-orang paling pintar yang sabar sampai orang-orang paling konyol yang latah.

Sebagai miniatur dunia, medsos menampilkan manusia-manusia tenang yang damai sampai manusia-manusia tengik yang muram. Sebagai miniatur dunia, medsos juga menghadirkan pikiran-pikiran kasih yang sejuk sampai provokasi-provokasi picik yang licik.

Tariq Ramdan pernah bilang bahwa dunia sudah seperti sebuah desa karena teknologi abad dua puluh. Tapi sejak kemunculan medsos, ungkapan Ramdan harus diubah; bahwa dunia sudah seperti sebuah kamar. Bukan saja soal jarak, tapi kecepatan informasi yang nyaris melebihi pancaran kilat.

Dulu kecabulan terpendam sebagai aib yang terus disembunyikan, tapi sekarang semuanya diumbar dengan harga murah. Dulu, ketaatan adalah soal privat, tapi sekarang ibadah menjadi pameran. Laku-laku itu kini terpampang jelas di dinding medsos.

Medsos adalah miniatur dunia, tempat manusia mempertontonkan semuanya dengan telanjang.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

Barbarisme Medsos

60 Views

Pagi tadi setelah membaca sebuah postingan yang ditulis seorang netizen bernama Jonru, saya pun mengomentari postingan itu dengan kalimat pendek. Salah satu poin yang dibahas dalam postingan itu adalah tentang perbedaan perlakuan aparat terhadap bendera OPM dan bendera Tauhid.

Sebagai sebuah pendapat, tentunya apa yang disampaikan Jonru patut dihargai, apalagi tulisan itu terdiri dari beberapa paragraf. Secara pribadi saya sepakat dengan hampir seluruh paragraf dan hanya kurang sepakat pada satu paragraf.

Saya tidak sepakat ketika Jonru membandingkan antara bendera OPM dan bendera Tauhid. Menurut saya perbandingan itu kurang elok didiskusikan dalam kondisi Papua yang masih panas. Bukan tidak boleh, tapi waktunya tidak tepat.

Saya juga menangkap kesan bahwa Jonru ingin pemerintah bertindak tegas terhadap OPM (atau mungkin saya keliru). Sebagai republiken saya sepakat dengan itu selama dilakukan dengan cara-cara yang beradab. Namun dalam kondisi politik yang panas “tindakan tegas” itu tidak saja berdampak pada OPM, tapi bisa merembes pada masyarakat Papua secara umum. Ini yang tampaknya tidak dipahami oleh Jonru, karena ia tidak pernah hidup di wilayah konflik.

Sebagai salah seorang anak manusia yang menghabiskan masa remaja di masa konflik Aceh, saya pastikan bahwa saya “lebih tahu” apa yang akan menimpa masyarakat di daerah yang menyandang status Daerah Operasi Militer (DOM) atau Darurat Militer (DM) dibandingkan Jonru. Mungkin saya sombong. Biarlah.

Ketika DOM dan DM berlangsung di Aceh yang menjadi sasaran tindakan tegas bukan saja GAM sebagai pemberontak, tapi juga masyarakat sipil yang tidak tahu apa-apa juga terkena dampak dan tapak sepatu. Peluru-peluru yang terbang juga tidak pernah memilah dan memilih yang mana pemberontak dan yang mana penduduk. Entah Jonru tahu soal ini.

Jonru mungkin belum tahu berapa orang kampung tertembak, dipukuli dan rumahnya terbakar ketika DOM dan DM berlangsung di Aceh. Jonru belum tahu bahwa tidak semua korban itu terlibat gerakan makar. Mereka adalah rakyat yang tidak tahu apa-apa soal politik dan perang. Dan saya yakin Jonru belum pernah kena sepak atau pun dipukul popor senjata.

Di wilayah konflik, bahkan masyarakat sipil terkadang kebingungan. Oleh pasukan pemerintah dicurigai sebagai pembantu separatis, dan oleh pemberontak dicurigai sebagai mata-mata. Akhirnya dari sini kena sepak dan dari sana kena tendang.

Karena pengalaman-pengalaman inilah saya kemudian mengomentari status facebook Jonru yang dalam salah satu paragrafnya membahas tentang OPM yang berada di Papua. Bukan membela OPM, tapi rakyat Papua.

Uniknya komentar saya yang pendek itu dibalas oleh ratusan komentar para pendukung Jonru dengan mengeluarkan hampir semua penghuni kebun binatang. Bahkan ada yang menuduh saya sebagai OPM. Lucu!

Membaca komentar-komentar lucu itu saya hanya bisa tertawa dan bahkan terbahak. Mungkin inilah yang disebut dengan “Barbarisme Medsos.”

[RH #1]: Buket Teulaga Maneh

23 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Menunggu matahari terbenam

Tidak jauh dari Kota Bireuen, terdapat area perbukitan yang dikenal dengan Buket Telaga Maneh. Jarak dari Kota Bireuen ke bukit itu hanya sekira 3 km. Ada beberapa bukit di sana.

Untuk sampai ke lokasi salah satunya kita bisa melalui Desa Juli Meunasah Tambo. Jarak desa ini ke Buket Telaga Maneh hanya sekitar 1 Km. Atau bisa juga melalui Desa Meunasah Dayah.

Jalan ke lokasi lumayan menanjak. Namanya saja bukit pasti menanjak, tapi tidak terlalu tinggi. Di samping jalan juga terdapat jurang.

Lokasi Buket Telaga Maneh berbatasan dengan tiga desa; Meunasah Gadong, Juli Keude Dua dan Paloh Panyang. Menurut Muslem, pengelola sekaligus pemilik area tersebut, penamaan Teulaga Maneh untuk bukit itu merujuk pada nama seorang ulama yang dikenal dengan Teungku di Teulaga Maneh. Kuburan ulama tersebut berada di bawah area perbukitan.

Dari puncak Telaga Maneh kita bisa menyaksikan Gunong Geureudong dan Gunong Goh di kejauhan. Dari puncak ini kita juga disuguhkan pemandangan Gunung Seulawah.

Tidak hanya itu, dari bukit ini, kita juga bisa menyaksikan keindahan alam dari bawah seperti petak-petak sawah yang berjejer rapi. Di malam hari kita juga bisa menatap kerlap-kerlip lampu di Kota Bireuen.

Selat Malaka juga terlihat jelas dari sini. Terkadang kita juga bisa menyaksikan kapal-kapal berlayar di sana.

Sampai saat ini, Buket Telaga Maneh masih dikelola oleh Muslem. Beberapa ruas jalan menuju lokasi dibuat oleh Muslem dengan biaya pribadi. Di sore hari ramai penggemar olahraga sepeda yang menaiki bukit ini, umumnya warga keturunan Tionghoa. Pernah juga beberapa kali digelar event olahraga motor.

Kota Bireuen dari kejauhan

Meskipun Muslem menghabiskan biaya pribadi untuk pembangunan area Telaga Maneh, tapi dia tidak mengutip dana dari pengunjung yang datang ke sana. Siapa saja boleh berkunjung ke sana tanpa dikenakan biaya.

Namun sejauh ini belum ada fasilitas memadai di Buket Telaga Maneh seperti kantin, toilet umum atau musalla. Kondisinya masih alami. Tapi untuk sekadar memanjakan mata, tidak ada salahnya untuk dikunjungi.

Muslem diwawancarai TVRI Banda Aceh

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

**Ini postingan uji coba di RealityHubs. Semoga saja memenuhi standar komunitas.

[Asaikana #153]: Beberapa Isu di Beranda Facebook Bulan Agustus 2019

20 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Di bulan Agustus, pada umumnya ingatan masyarakat Indonesia tertuju pada tanggal 17, sebab pada tanggal itulah negara ini diproklamirkan. Sementara di Aceh, selain sebagai bulan kemerdekaan, Agustus juga mengingatkan masyarakat pada peristiwa MoU Helsinky 15 Agustus 2005 yang menandai perdamaian Aceh.

Namun terlepas dari memori kolektif tentang kemerdekaan RI dan juga perdamaian Aceh, dalam bulan Agustus tahun ini kita juga disuguhkan oleh berbagai informasi yang berkembang dan membiak di media sosial. Isu-isu itu memenuhi beranda Facebook yang kemudian juga tersebar via WhatsApp.

Di level nasional, beberapa waktu lalu kita dihebohkan dengan dugaan pelecehan simbol salib oleh Ustaz Abdul Samad (UAS). Kononnya peristiwa itu terjadi beberapa tahun lalu di lingkungan masjid. Kejadian tersebut dianggap melecehkan agama Kristen. Akibatnya ada beberapa kalangan yang akan melaporkan UAS kepada pihak kepolisian atas tuduhan penistaan.

Selain soal UAS, kita juga dikejutkan dengan aksi persekusi dan sikap rasisme terhadap mahasiswa Papua di Surabaya. Kejadian ini kemudian memicu aksi demonstrasi di tanah Papua yang berujung pada kerusuhan. Informasi terakhir menyebut kondisi di Papua sudah lumayan kondusif.

Sementara di level daerah, khususnya di Aceh, bulan Agustus ini kita sempat dikejutkan dengan aksi pengeroyokan terhadap salah seorang anggota DPR Aceh yang dikenal dengan Cage. Anggota dewan itu dikeroyok oleh beberapa oknum polisi pada saat terjadinya demonstrasi di gedung DPR Aceh.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…