Anak-Anak dan Kedai Kopi

145 Views

Malam ini saya mengecap kopi di warkop kampung. Seperti biasa, warkop ini penuh, sebab laga Piala Dunia masih berlangsung. Titik pandang semua penonton tampak berkumpul di layar televisi.

Sejak Argentina “pulang kampung,” saya memutuskan untuk tidak lagi menonton Piala Dunia. Ini adalah bentuk kesetiaan saya kepada Argentina. Kesetiaan yang tidak akan pernah goyah.

Saya mencari kursi di bagian pojok warung, tempat nyamuk berpesta pora. Ini adalah tempat paling nyaman, sebab ada “colokan” guna mengantisipasi energi HP jika tiba-tiba sekarat. Di pojok ini saya juga bisa membebaskan diri dari keterpaksaan menonton bola.

Saya memesan kopi *pancung* dengan sedikit gula. Begitu kopi mendarat di meja, dunia pun menjadi terang. Saya segera mengecap secawan cairan hitam pekat itu dengan sebuah sendok kecil.

Pandangan saya lurus ke depan. Di hadapan saya, “segerombolan” anak-anak tampak larut dalam *haha-hihi.* Mereka terlihat asyik dengan *smartphone* masing-masing.

Mereka tidak peduli dengan hiruk-pikuk penonton bola yang geudeubam geudeubum memukul meja ketika bola menyasar gawang.

Rupanya mereka hanya menumpang santai di warkop demi jaringan wifi. Di warkop ini, fasilitas internet disediakan gratis, asalkan kita memesan kopi dan minimal sebungkus kacang.

Segerombol anak-anak remaja tanggung ini memiliki dunianya sendiri. Dunia mereka bukan televisi dan bukan pula bola kaki, tapi smartphone dan jaringan wifi. Di layar kecil itulah perhatian mereka tercurah.

Memang, sejak benda “ajaib” ini ditemukan, dunia semakin kecil dan kian mengecil. Benda kecil itu sudah menjadi “surga” baru bagi mereka. “Surga” yang membuat mereka hanya menyisakan wujud tubuh di warung kopi, tapi jiwa dan pikiran mereka telah terbang menghilang, bersembunyi di “layar kecil.”

Dulu, keberadaan anak-anak di kedai kopi adalah tabu, tapi kini mereka bisa duduk santai tanpa malu. Mereka telah tenggelam dalam dunia baru.

Print Friendly, PDF & Email

Comments

comments

Senandung Jampoek

Senandung Jampoek Penulis: Khairil Miswar Penerbit: Kawat Publishing ISBN: 978-602-50591-7-9 Cetakan: Pertama, 2020 Tebal: 282 halaman. Harga: Rp. 55.000 (Pingiriman wilayah Aceh + ongkir Rp. 5000). Minat Hubungi WA: 081360660766
khairilmiswar
About khairilmiswar 282 Articles
Khairil Miswar dilahirkan di Desa Cot Bada Baroh Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen pada 24 Juli 1981 dari pasangan Ayahanda Drs. Tgk. H. Ismail Sarong dan Ibunda Hj. Mudiah Affan (Almarhumah). Menyelesaikan pendidikan Pascasarjana di UIN Ar-Raniry Banda Aceh pada Konsentrasi Pemikiran dalam Islam. Menulis artikel di beberapa media dan menulis beberapa buku.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*