Ulah Caleg Kalah

173 Views

Sebagai manusia biasa, tentunya caleg juga akan merasa kekecewaan mendalam ketika targetnya dalam kampanye tidak tercapai. Kekecewaan akan bertambah ketika hasil yang diperolehnya tidak sesuai dengan pengorbanan dan uang yang sudah dikeluarkan.

Di antara bentuk kekecewaan para oknum caleg yang suaranya tidak mencapai target adalah dengan cara menarik kembali bantuan yang telah berikan kepada masyarakat atau komunitas tertentu. Meskipun terkesan aneh, namun tindakan konyol semisal ini sangat sering terjadi dalam demokrasi kita.

Kita tentu pernah menyaksikan ada oknum caleg yang meminta kembali bantuan karpet yang pernah diberikannya kepada masjid atau musala karena suaranya di kawasan tersebut tidak memadai bahkan nihil. Di tempat lain ada pula oknum caleg yang sampai menarik kembali tanah pekuburan dari masyarakat akibat tidak memilihnya sehingga mayat yang sudah dikubur harus dibongkar. Gila memang, tapi beginilah realitas demokrasi di tanah kita.

Secara psikologis sikap oknum caleg yang terbilang aneh ini adalah bentuk dari ketidaksiapannya menerima kenyataan sehingga melahirkan tindakan-tindakan konyol yang bukan saja saja memalukan tapi juga menyedihkan. Adapun secara sosiologis, tindakan ini justru akan merusak reputasi dan kredibilitas oknum caleg tersebut di mata publik.

Namun jika dilihat dari perspektif “kemanusiaan” tindakan menarik kembali bantuan yang sudah diberikan adalah tindakan yang wajar dalam pengertian cukup manusiawi. Artinya tindakan tersebut dilakukan karena dirinya merasa ditipu oleh oknum masyarakat. Siapa pun yang merasa tertipu tentunya berhak marah dan kecewa, tak terkecuali oknum caleg.

Print Friendly, PDF & Email

Comments

comments

Senandung Jampoek

Senandung Jampoek Penulis: Khairil Miswar Penerbit: Kawat Publishing ISBN: 978-602-50591-7-9 Cetakan: Pertama, 2020 Tebal: 282 halaman. Harga: Rp. 55.000 (Pingiriman wilayah Aceh + ongkir Rp. 5000). Minat Hubungi WA: 081360660766
khairilmiswar
About khairilmiswar 281 Articles
Khairil Miswar dilahirkan di Desa Cot Bada Baroh Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen pada 24 Juli 1981 dari pasangan Ayahanda Drs. Tgk. H. Ismail Sarong dan Ibunda Hj. Mudiah Affan (Almarhumah). Menyelesaikan pendidikan Pascasarjana di UIN Ar-Raniry Banda Aceh pada Konsentrasi Pemikiran dalam Islam. Menulis artikel di beberapa media dan menulis beberapa buku.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*