Binatang Berwajah Manusia

[Google.com](http://google.com)
236 Views

Seperti diketahui, akal adalah salah satu perangkat yang dititipkan Tuhan kepada manusia untuk membedakannya dengan hewan. Siapa pun yang meninggalkan akal, maka dia pun telah memasuki alam hewan. Ketika dia memasuki alam hewan, dia pun akan berperilaku seperti hewan. Dalam kondisi ini, bukan hewan yang meniru manusia, tapi manusia semisal itulah yang meniru hewan.

Akhir-akhir ini, baik melalui media cetak, televisi atau media sosial, kita menyaksikan berbagai perilaku hewan yang diperankan oleh beberapa oknum manusia. Kenapa mereka bisa berperilaku seperti hewan? Karena mereka telah menanggalkan akalnya. Pada saat akal mereka tanggalkan, maka sejak itu pula mereka menjadi hewan berwajah manusia.

Hewan berwajah manusia ini berkeliaran di mana-mana. Tidak hanya di tempat yang jauh, tapi juga dekat dengan kehidupan kita. Hewan berwajah manusia selalu ada sepanjang masa. Mereka terus melakukan aksi-aksi hewani guna memperturutkan hawa nafsunya.

Kita membaca berita dan menyaksikan di layar televisi beberapa hewan berkepala manusia yang menyetubuhi anak kandungnya atau anak tirinya. Ada pula hewan berkepala manusia yang dengan tanpa akal melakukan kejahatan terhadap sesamanya. Mereka membunuh dan membantai manusia lain sekehendak hatinya.

Hanya karena politik hewan berwajah manusia ini tega membunuh dan menindas orang lain. Hanya karena bola kaki tega mengeroyok sesamanya. Hanya karena nafsu hewani tidak segan memerkosa anaknya. Mereka telah meninggalkan alam kemanusiaan menuju alam kehewanan.

Tulisan ini tidak mengajak siapa pun untuk mengutuk mereka, sebab kutukan-kutukan itu tidak akan pernah mengubah keadaan. Tulisan ini juga tidak mengajak untuk mencaci-maki hewan-hewan berwajah manusia itu. Tulisan ini hanya sebagai medium untuk menyadarkan diri sendiri agar tidak turut menjadi hewan seperti mereka.

Print Friendly, PDF & Email

Comments

comments

khairilmiswar
About khairilmiswar 283 Articles
Khairil Miswar dilahirkan di Desa Cot Bada Baroh Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen pada 24 Juli 1981 dari pasangan Ayahanda Drs. Tgk. H. Ismail Sarong dan Ibunda Hj. Mudiah Affan (Almarhumah). Menyelesaikan pendidikan Pascasarjana di UIN Ar-Raniry Banda Aceh pada Konsentrasi Pemikiran dalam Islam. Menulis artikel di beberapa media dan menulis beberapa buku.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*