Pelantun Suci dalam Debu itu Telah Tiada

Saleem Iklim
152 Views

Sejak kecil saya telah menjadi penikmat lagu-lagu pop dan slow rock Melayu dari Tanah Semenanjung Malaysia. Salah satu lagu yang paling saya nikmati ketika itu bertajuk “Suci dalam Debu” yang dilantunkan Saleem Iklim. Sejak saat itu, pada saat masih sekolah di MTsN, saya pun mulai mengoleksi kaset-kaset lagu Malaysia. Untuk usia saya saat itu, koleksi lagu-lagu dari Semenanjung ini cukup memadai. Saya mengumpulkan hampir dua ratus kaset yang saya beli satu persatu dari hasil menjual telur ayam yang saya pelihara sendiri.

Ketertarikan saya kepada lagu-lagu Malaysia diawali oleh lagu Saleem Iklim dan kemudian meluas kepada penyanyi-penyayi lain semisal Amy Search, Jamal Abdillah, Ziana Zain, Shima, Rahmat Ekamatra, Rahmad Mega, Ali XPDC, Zamani Ibrahim (Slam), Sheila Majid, Ella, Olan, Aan dan hampir semua grup band kala itu semisal  Fotograf, Stings, Spoon, Lestari, Wings, Exist, EYE, Damasutra, Ukays, May, Spring, Meditasi, Masa, Data, Dinamik, Menara, Melissa, Lela, Samudera, AXL’s, Gravity dan puluhan lainnya yang tidak mampu lagi diingat.

Tentu tidak hanya saya, tapi ramai pula remaja era 90an di Indonesia yang terpengaruh dengan lagu-lagu Malaysia. Saat itu banyak lagu Malaysia yang populer di Indonesia. Di Aceh, Lagu-lagu itu terdengar di terminal-terminal, dalam bus Bireuen Express dan labi-labi. Bagi yang tidak memiliki kaset, bisa mendengar lagu tersebut dari siaran radio. Pada era 90an, lagu-lagu Malaysia memang mencapai puncak kejayaannya di Indonesia.

BH Online

Ketika masih sekolah, kegilaan kepada musik Malaysia saat itu juga turut memengaruhi saya untuk menulis puisi-puisi pendek di buku diary dan album-album foto. Saya tidak tahu apakah itu puisi atau bukan, yang jelas lagu-lagu Malaysia memberi inspirasi terdalam dengan kesyahduannya yang menyentak kesadaran. Sekarang pun model tulisan saya terkadang terlihat “kuno” dan “Melayuistik.” Saya juga menamai blog gratisan saya menggunakan syair dari lagu-lagu Semenanjung, Patahkekeringan.blogspot.com

Pagi tadi, kabar duka datang dari Tanah Semenanjung. Penyanyi legendaris yang pernah melantunkan Suci Dalam Debu telah tiada. Meskipun tidak pernah berjumpa, tapi kepergian Saleem Iklim menghadirkan kedukaan tersendiri bagi saya.

Harian Metro, salah satu media dari Semenanjung mengabarkan bahwa Saleem iklim meninggal pada pukul 06.15 pagi di Pusat Perubatan Universiti Kebangsaan Malaysia, Kuala Lumpur. Salem yang memiliki nama asli Am Saleem Abd Majeed sempat dirawat di Unit Rawatan Rapi (ICU) setelah mengalami kecelakaan sepeda motor pada 20 September 2018. Saat itu, tulang rusuk Saleem dikabarkan patah dan menusuk paru-paru pasca kecelakaan. Kecelakaan itu terjadi pada pukul 03.20 sore di kilometer 16 Lebuhraya Grand Saga pada saat Salem sedang melaju dari arah Kajang menuju Cheras. Saleem meninggal dunia dalam usia 57 tahun.

Harian Metro

Berita Harian Online merilis bahwa jenazah Saleem Iklim akan di bawa ke Surau As-Syakirin di Bukit Mahkota, Cheras untuk dishalatkan dan akan dikebumikan di Tanah Perkuburan Islam Bukit Kiara.

Sebelumnya kabar meninggalnya penyanyi legendaris ini juga sempat beredar dan viral di media sosial pada 22 September 2018. Tapi, seperti dirilis Tempo.co, kabar ini kemudian dibantah oleh Persatuan Seniman Malaysia yang menyebut informasi tersebut sebagai hoax.

Semoga saja Saleem Iklim diampuni dosa-dosanya dan ditempatkan di tempat yang layak di sisiNya. Selamat jalan Suci dalam Debu! Satu kesan abadi. Allahummagfirlahu.

Berita Harian

Harian Metro

Utusan

Tempo

Smule

Print Friendly, PDF & Email

Comments

comments

Senandung Jampoek

Senandung Jampoek Penulis: Khairil Miswar Penerbit: Kawat Publishing ISBN: 978-602-50591-7-9 Cetakan: Pertama, 2020 Tebal: 282 halaman. Harga: Rp. 55.000 (Pingiriman wilayah Aceh + ongkir Rp. 5000). Minat Hubungi WA: 081360660766
khairilmiswar
About khairilmiswar 281 Articles
Khairil Miswar dilahirkan di Desa Cot Bada Baroh Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen pada 24 Juli 1981 dari pasangan Ayahanda Drs. Tgk. H. Ismail Sarong dan Ibunda Hj. Mudiah Affan (Almarhumah). Menyelesaikan pendidikan Pascasarjana di UIN Ar-Raniry Banda Aceh pada Konsentrasi Pemikiran dalam Islam. Menulis artikel di beberapa media dan menulis beberapa buku.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*