Bencana dan Lelucon

[Themses](7-themes.com/7007792-assassins-creed-rain-art.html)
182 Views

Bencana sering kali datang tiba-tiba tanpa aba-aba. Gunung meletus, banjir, gempa bumi, tsunami, tanah longsor dan angin topan adalah beberapa rupa bencana yang menimpa bumi ini dari masa ke masa. Bencana ini lahir dari proses alam yang sebagiannya juga dipicu oleh ulah tangan-tangan jahil manusia tengik yang merusak alam.

Di satu sisi, bencana selalu saja melahirkan tangisan dan kedukaan bagi siapa saja yang mengalaminya. Sementara di sisi lain, bencana juga menjadi medium penyadar dan evaluasi diri bagi manusia.

Bagi yang terkena bencana lazimnya ia akan berduka mengingat nasibnya. Sementara mereka yang tidak atau belum merasakan bencana biasanya akan memberi hiburan kepada para korban bencana sebagai wujud rasa kemanusiaan.

Namun di sebalik itu, masih ramai pula manusia-manusia bejat yang justru memperolok-olok korban bencana dengan berbagai lelucon kurang ajar. Mereka bukannya bersimpati atau berempati, tapi justru menari-nari di atas tangisan manusia lain yang sedang berduka. Merekalah manusia tengik.

Sebagai contoh ketika terjadi bencana di Palu dan Donggala beberapa waktu lalu sempat beredar meme di media sosial bahwa para janda di sana membutuhkan perhatian. Bahkan sempat beredar nama-nama beserta nomor hp dari para janda korban bencana yang katanya siap dipinang. Beberapa pengguna media sosial tampak membagikan meme brengsek ini sembari membuat lelucon.

Baru-baru ini, pasca jatuhnya pesawat Lion, seorang oknum netizen juga sempat menulis status “kecelakaan pesawat karena kesalahan bandara, kalau tidak ada bandara tentu tidak ada yang naik pesawat.” Status ini juga dikomentari oleh sebagian netizen lain dengan perasaan riang gembira. Ini adalah lelucon paling primitif, bukan kreatif.

Hanya manusia-manusia picik dan licik yang menjadikan bencana dan kedukaan orang lain sebagai bahan tertawaan. Mereka kekurangan hiburan sehingga berleha-leha di atas penderitaan orang lain. Dan ketika hal tersebut mereka lakukan, maka seperti kata Hamka, mereka telah meninggalkan martabat kemanusiaannya menuju martabat kebinatangan.

Print Friendly, PDF & Email

Comments

comments

khairilmiswar
About khairilmiswar 283 Articles
Khairil Miswar dilahirkan di Desa Cot Bada Baroh Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen pada 24 Juli 1981 dari pasangan Ayahanda Drs. Tgk. H. Ismail Sarong dan Ibunda Hj. Mudiah Affan (Almarhumah). Menyelesaikan pendidikan Pascasarjana di UIN Ar-Raniry Banda Aceh pada Konsentrasi Pemikiran dalam Islam. Menulis artikel di beberapa media dan menulis beberapa buku.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*