AWAS WAHABI SUKA MENGKAFIRKAN ……. !!!!!!

Ilustrasi Sumber Foto: ivarfjeld.com
509 Views

Oleh: Ust. Imam Syarifuddin

Begitulah sepotong kalimat yang selalu kita dengar, tentunya  sangat keliru jika itu sampai terjadi. Dikarenakan Rasulullah telah menegaskan bahwa darah, harta dan kehormatan  seorang muslim tidak boleh ditumpahkan dan dihalalkan. Tentunya yang suka mengkafirkan saudaranya seislam juga akan sangat mudah menghalalkan kehormatannya.

Rasulullah juga telah mengancam orang yang mengatakan kepada saudaranya “KAFIR“, maka akan kembali ucapannya itu kepada yang mengatakan pertama kalinya. Begitulah wahabi yang tersohor di masyarakat kita.

Namun benarkan wahabi demikian ???

Sekte wahabi sendiri telah dipertanyakan kemana maksudnya. Dan “jumhur “ masyarakat aceh ketika disebut wahabi pasti akan menoleh kepada sosok  yang bernama Muhammad bin abdul wahhab.

Tentunya kalau merujuk kepada kaidah dasar ilmu nahwu (bahasa arab) , maka sekte yang disandarkan kepada Muhammad bin abdul wahhab ini akan dinamakan “ MUHAMMADY“ bukan “WAHABI“.

Namun kita tidak mempersoalkan hal tersebut, karena sebuah istilah jika sudah merakyat, biasanya susah untuk dirubah.

Namun jika kita telusuri, sesungguhnya Muhammad bin abdul wahhab ini adalah sosok yang sangat menjaga lisannya untuk tidak memvonis saudaranya seislam dengan vonis “kafir”.

Saya rasa perlu kita sebutkan beberapa ucapan Muhammad bin abdul wahhab, agar kita tidak terjatuh ke dalam lubang yang sama yaitu suka mengkafirkan dan asal memvonis, ibarat “maling teriak maling”.

Muhammad bin Abdul Wahhab bukan orang yang suka mengkafirkan dengan PRASANGKA.

Muhammad bin Abdul Wahhab berkata : barang siapa yang menampakkan keislaman namun kami mengira bahwa dia murtad, prinsip kami adalah tidak mengkafirkannya dengan anggapan (dzan) tersebut, dikarenakan sesuatu yang yakin tidak boleh ditinggalkan hanya karena sesuatu yang tidak jelas (dzan). (Lihat: Majmu’ Muallafaat As syaikh/Rasaail Syakhshiyyah: 5/ 24)

Beliau juga mengatakan : “adapun apa yang dituduhkan kepadaku oleh musuh-musuhku bahwa aku mengkafirkan orang hanya karena sesuatu yang tidak jelas (dzan), maka ini adalah kedustaan yang besar, mereka inginkan dari tuduhan ini untuk menjauhkan manusia dari agama Allah dan rasulnya”. (Lihat: Majmu’ Muallafaat As syaikh / Rasaail Syakhshiyyah: 5/ 25).

Muhammad bin Abdul Wahhab bukan orang yang suka mengkafirkan manusia hanya karena melakukan dosa besar atau dosa kecil. Muhammad bin Abdul Wahhab berkata: “kami tidak mengkafirkan seorang pun dari kalangan kaum muslimin hanya karena dia melakukan dosa. Aku tidak mengeluarkan mereka dari lingkaran Islam”. (Lihat: Majmu’ Muallafaat As syaikh / Rasaail Syakhshiyyah: 5/ 11).

Muhammad bin abdul wahhab bukan orang yang mengkafirkan mayoritas ummat Islam. Beliau berkata: “adapun metode pengkafiran, maka yang aku kafirkan adalah orang yang mengetahui agama Rasulullah, lalu dia mencaci dan mencelanya setelah dia mengetahui kebenarannya, lalu dia melarang manusia untuk menjalankan syariat Islam ini, lalu memusuhinya. Orang dengan model seperti itu yang aku kafirkan. Namun ALHAMDULILLAH  kebanyakan manusia bukanlah seperti itu”. (Lihat: Majmu’ Muallafaat As syaikh / Rasaail Syakhshiyyah: 5/ 25).

Terakhir sebuah pernyataan yang tegas dan jelas dari Muhammad bin Abdul Wahhab di bawah ini. Beliau berkata: ”saya bersaksi dengan nama Allah, dan Allah lebih tahu keadaan hati aku, bahwa siapa saja yang bertauhid kepada Allah, dan mengamalkannya. Dan berlepas diri dari syirik dan pelakunya, maka dia adalah MUSLIM”. (Lihat: Majmu’ Muallafaat As syaikh / Rasaail Syakhshiyyah: 5/ 213).

Jadi kesimpulan di akhir catatan ringan ini, apakah benar yang dimaksud wahabi suka mengkafirkan itu adalah orang ini? Atau ada orang lain?

Semoga Allah selalu memberikan kepada kita petunjuknya sesunggunnya Allah Maha Mampu atas segala sesuatu. Amien ya rabbal Alamien.

Ed: Khairil Miswar

Print Friendly, PDF & Email

Comments

comments

khairilmiswar
About khairilmiswar 283 Articles
Khairil Miswar dilahirkan di Desa Cot Bada Baroh Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen pada 24 Juli 1981 dari pasangan Ayahanda Drs. Tgk. H. Ismail Sarong dan Ibunda Hj. Mudiah Affan (Almarhumah). Menyelesaikan pendidikan Pascasarjana di UIN Ar-Raniry Banda Aceh pada Konsentrasi Pemikiran dalam Islam. Menulis artikel di beberapa media dan menulis beberapa buku.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*