Harem Sang Sultan

603 Views

Novel dengan tajuk “Harem Sang Sultan” ini ditulis oleh Colin Falconer, seorang novelis kelahiran London, Inggris. Novel ini diterjemahkan dari bahasa aslinya yang berjudul “Sultan’s Harem” yang terbit pertama kali pada 2011 di London. Novel historis setebal 716 halaman ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada 2012 dan diterbitkan Serambi Ilmu Semesta.

Novel ini mengambil latar Kesultanan Turki Utsmani pada masa pemerintahan Sulaiman al-Qanuni. Penulis memberikan gambaran yang cukup detail tentang istana Sulaiman, pernak-pernik kerajaan, Kota Istanbul sampai ke pasar-pasar dengan cerita yang benar-benar hidup. Membaca novel ini, kita seperti menyaksikan sendiri kemegahan Dinasti Utsmani pada masa itu.

Kisah ini dimulai dari harem yang merupakan tempat “penampungan” budak perempuan dari berbagai negeri yang ditundukkan Utsmani. Mereka adalah gadis-gadis cantik yang sengaja dibeli oleh pegawai kerajaan untuk dipilih sebagai selir para sultan Utsmani. Harem tersebut tidak hanya dipenuhi gadis-gadis berkebangsaan Arab, tapi juga gadis-gadis Eropa. Gadis berstatus budak ini nantinya akan menjadi ibu bagi para sultan Utsmani berikutnya.

Para budak wanita di harem mendapat pengawasan dan penjagaan dari pejabat istana yang khusus bertugas di harem. Laki-laki penjaga harem sudah terlebih dulu dikebiri sehingga mereka tidak memiliki syahwat untuk menganggu wanita-wanita budak tersebut. Sultan yang ingin memiliki anak akan memilih seorang budak wanita dari harem untuk disetubuhi di istana. Dia akan memilih gadis mana saja yang disukainya.   

Novel ini berkisah tentang seorang wanita budak wanita bernama Hurrem yang dibeli oleh pejabat Utsmani. Hurrem adalah gadis berkebangsaan Tatar dari Rusia. Tidak hanya cantik, dia juga memiliki kecerdasan yang luar biasa, melebihi budak-budak harem lainnya. Saat itu Sultan Sulaiman telah memilih seorang budak bernama Gulbehar dari harem. Pemilihan ini terjadi sebelum Hurrem berada di harem. Gulbehar melahirkan seorang lak-laki bernama Mustafa yang kemudian menjadi putra mahkota.

Berkat kecerdasan Hurrem akhirnya dia juga dipilih oleh Sulaiman. Dia melakukan beberapa trik dengan mendekati penjaga harem sehingga Sulaiman tertarik kepadanya. Di sebuah kamar istana, Sulaiman dan Hurrem pun memadu kasih. Sejak malam itu Sulaiman benar-benar tertarik dengan Hurrem yang tidak hanya cantik, tapi juga cerdas.

Lazimnya setiap budak yang berhasil digauli oleh sultan, mereka berharap agar dirinya hamil, sebab kehamilan akan menjadi tali yang mengikat budak itu dengan sultan. Harapan itu akhirnya mendesak Hurrem untuk melakukan hubungan gelap dengan seorang pejabat istana yang sudah dikebiri. Meskipun sudah dikebiri, ternyata pejabat istana itu masih memiliki bibit untuk ditularkan kepada Hurrem sehingga wanita itu pun hamil.

Sejak kehamilannya diketahui oleh Sulaiman, Hurrem pun semakin dekat dengan Sulaiman. Kedekatan dirinya dengan sultan akhirnya digunakan untuk melancarkan siasat dengan menyingkirkan orang-orang terdekat Sulaiman. Melalui siasat licik, propaganda dan fitnah, satu persatu orang terdekat sultan berhasil disingkirkan dari istana.

Orang pertama yang disingkirkan adalah Gulbehar, budak yang pertama kali digauli sultan dan telah memberinya seorang putra. Gulbehar bersama putranya, Mustafa, yang telah dipersiapkan sebagai putra makhkota pun “diasingkan” ke sebuah provinsi dalam wilayah Ustmani. Mustafa diangkat sebagai gubernur di sana.

Melalui siasat lainnya, Hurrem juga berhasil menyingkirkan Ibrahim, Wazir Agung Turki Utsmani yang juga sahabat dekat Sulaiman. Melalui orang-orangnya, Hurrem melancarkan fitnah bahwa Ibrahim telah berkhianat kepada sultan sehingga akhirnya ia pun dihukum mati oleh Bostanji, algojo istana yang bisu tuli. Sebagai sultan yang digelar al-Qanuni, Sulaiman merasa berkewajiban menjatuhkan hukuman, meskipun kepada teman dekatnya.

Seiring perjalanan waktu, Hurrem semakin dekat dengan Sulaiman. Hurrem berhasil merayu Sulaiman untuk menikahinya. Tradisi Utsmani yang melarang sultan menikah akhirnya dilanggar oleh Sulaiman dengan menikahi Hurrem, seorang budak Rusia.

Ketika anak-anak Hurrem, Selim dan Beyezid telah dewasa, dia pun melancarkan fitnah selanjutnya kepada Mustafa dengan maksud agar anaknya bisa menjadi putra mahkota yang akan menggantikan Sulaiman nantinya. Berkat siasat licik akhirnya Sulaiman juga menghukum mati anak kesayangannya, Mustafa, melalui eksekusi yang dilakukan Bostanji.

Novel ini juga berkisah tentang cinta tak sampai seorang pemuda Moor bernama Abbas. Pada awalnya dia tinggal bersama ayahnya di Venesia. Ayahnya adalah pejabat militer di negeri itu. Abbas mencintai Julia, anak seorang pejabat Venesia. Julia dipaksa oleh ayahnya untuk menikahi salah seorang pejabat Venesia yang sudah tua. Untuk melancarkan tujuannya, ayah Julia memerintahkan anak buahnya untuk mengebiri Abbas dan kemudian dijual sebagai budak. Setelah peristiwa malang tersebut, Abbas pun menjadi budak. Dia dibeli oleh orang-orang Utsmani dan akhirnya dia pun menjadi salah seorang pejabat istana Sulaiman yang bertugas menjaga harem Sultan Utsmani.

Dalam sebuah pelayaran menjumpai suami yang dipilih ayahnya, kapal yang ditumpangi Julia diserang bajak laut Turki Utsmani. Sama seperti Abbas, akhirnya Julia pun dijual sebagai budak kepada pejabat Utsmani. Karena kecantikannya dia pun dimasukkan ke dalam harem Sultan. Tanpa diketahuinya, sejak berada di harem Julia selalu mendapat pengawasan dari Abbas, kekasihnya di Venesia.

Saat terberat yang dihadapi Abbas adalah ketika Sulaiman menginginkan Julia untuk dibawa ke istana. Sesampainya di istana, Julia yang telanjang di hadapan Sulaiman ternyata tidak mampu memacu birahinya. Sulaiman telah terpengaruh dengan Hurrem sehingga ia menjadi tidak berselera dengan perempuan lain. Adegan percintaan antara Sulaiman dan Julia pun gagal dilakukan. Sulaiman memerintahkan Abbas untuk membunuh Julia agar rahasia di kamar itu tidak menyebar ke luar istana, bahwa sultan telah impoten. Untuk menyelamatkan kekasihnya, Abbas melakukan sebuah trik rahasia dengan cara mengirimkan Julia kepada seorang temannya di Pera.

Ending kisah ini terbilang tragis. Di usia senjanya, pada saat sedang sekarat, Hurrem mengaku kepada Sulaiman bahwa ia tidak mencintai Sulaiman. Dia membenci Turki Utsmani dan mengharapkan kerajaan itu hancur berkeping-keping. Apa yang dilakukannnya selama ini adalah bentuk pembalasan dendamnya atas kekejaman Utsmani yang telah menjadikannya sebagai budak. Mendengar pengakuan Hurrem, Sulaiman sangat terpukul dan tidak percaya. Dia menganggap pengakuan itu hanya sebagai igauan orang sekarat. Setelah kematian Hurrem, Sulaiman melewati hari-harinya dengan murung sampai akhirnya dia pun meninggal dalam penyesalan.

Abbas meninggal dunia di istana karena sakit. Sementara Julia memilih menjadi istri Ludovici, seorang pengusaha Venesia di Pera yang menjadi teman akrab Abbas. Di akhir hidupnya Julia dan Ludovici memilih menetap di Cyprus. Pada awalnya mereka juga mengajak Abbas, tapi saat itu Abbas menolak karena ingin tetap mengabdi kepada Utsmani.

Sebagai novel sejarah, sebagian peristiwa dalam novel ini berasal dari fakta-fakta dan sebagian lainnya adalah hasil imajinasi penulis. Fakta dan imajinasi itu tampak menyatu dan menjelma sebagai sebuah rangkaian cerita yang menarik untuk dibaca.

Print Friendly, PDF & Email

Comments

comments

khairilmiswar
About khairilmiswar 286 Articles
Khairil Miswar dilahirkan di Desa Cot Bada Baroh Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen pada 24 Juli 1981 dari pasangan Ayahanda Drs. Tgk. H. Ismail Sarong dan Ibunda Hj. Mudiah Affan (Almarhumah). Menyelesaikan pendidikan Pascasarjana di UIN Ar-Raniry Banda Aceh pada Konsentrasi Pemikiran dalam Islam. Menulis artikel di beberapa media dan menulis beberapa buku.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*