S. Takdir Alisjahbana, Anak Perawan di Sarang Penyamun

Koleksi @tinmiswary
299 Views

Roman dengan tajuk Anak Perawan di Sarang Penyamun ini ditulis oleh S. Takdir Alisjahbana pada pada tahun 1930an ketika ia masih muda. Roman yang hanya terdiri dari 112 halaman  ini diterbitkan pertama kali oleh Dian Rakyat pada 1940 dan telah mengalami beberapa kali cetak ulang sampai tahun 1991. Roman yang bercerita tentang para penyamun ini juga sudah pernah difilmkan oleh PERFINI yang dipimpin Umar Ismail.

Roman ini berkisah tentang sekelompok penyamun yang hidup di tengah rimba di Palembang. Pimpinan penyamun itu bernama Medasing yang merupakan tokoh utama dalam roman ini. Sebelumnya, Medasing tinggal di sebuah dusun kaya yang kemudian diserang oleh kawanan penyamun. Dalam penyerangan itu, rumah-rumah penduduk dibakar sehingga penghuninya melarikan diri. Medasing yang saat itu baru berusia tujuh tahun berteriak dalam rumah yang terbakar sehingga ia pun ikut diangkut oleh para penyamun ke dalam hutan.

Dari hari ke hari di tengah rimba, Medasing dididik oleh para penyamun sehingga lama kelamaan ia pun menjadi penyamun seperti mereka. Sejak saat itu Medasing ikut bersama para penyamun untuk melakukan perampokan terhadap para pedagang yang melewati rimba. Karena telah terbiasa terlibat dan menyaksikan sendiri kekerasan dan perampokan yang dilakukan oleh penyamun akhirnya Medasing pun telah menjelma sebagai sosok penyamun yang kejam.

Medasing memiliki tubuh yang kuat dan juga keberanian. Pada saat pimpinan penyamun yang telah dianggap sebagai ayah angkatnya itu meninggal, posisi pimpinan sejak saat itu dipegang oleh Medasing. Sejak saat itu mulailah ia memimpin berbagai perampokan yang diiringi dengan pembunuhan.

Kelompok Medasing tinggal di sebuah gubuk dalam rimba yang jauh dari pemukiman penduduk. Alisjahbana menggambarkan kondisi rimba yang lebat dan penuh dengan binatang buas sehingga sulit ditempuh kecuali oleh orang-orang yang berpengalaman.

Pada suatu hari, setelah mendapat informasi dari Samad – mata-mata penyamun yang bermain di desa, bahwa seorang pedagang kaya dari Pagar Alam bernama Haji Sahak bersama istri dan anaknya akan melewati rimba dengan membawa serta barang-barang berharga. Saat itu Medasing pun mengatur rencana untuk merampok keluarga kaya itu pada malam hari.

Dalam perampokan tragis itu, Haji Sahak ditikam dengan sadis oleh Medasing. Istri Haji Sahak yang ingin membantu suaminya juga dipukuli oleh Medasing dan anak buahnya sehingga jatuh pingsan. Kemudian Medasing membakar gubuk tempat singgahan Haji Sahak dan keluarganya sehingga api pun berkobar. Pada saat itulah Medasing melihat seorang perawan, anak dari Haji Sahak yang berteriak di gubuk. Akhirnya, setelah memadamkan api yang membakar gubuk, Medasing pun menculik anak perawan cantik itu dan dibawanya ke dalam rimba.

Hari-hari terus berlalu dalam rimba sehingga anak perawan bernama Sayu itu pun terbiasa hidup dengan Medasing dan para penyamun. Uniknya, Medasing tidak pernah berbuat macam-macam terhadap Sayu. Mungkin karena ia telah terlalu lama dalam rimba sehingga naluri “kelelakiannya” telah pudar akibat kerasnya kehidupan liar dalam rimba. Selama hidup bersama para penyamun, Sayu menjalankan tugasnya memasak untuk mereka.

Pada suatu ketika, setelah dijebak oleh Samad untuk merampok pasukan kompeni yang tidak diketahui oleh Medasing, salah seorang anak buah Medasing kembali mati akibat tembakan kompeni. Sebelumnya, seorang anak buahnya juga meninggal saat merampok Haji Sahak. Sementara satu orang anak buahnya yang terluka diserang anak buah Haji Sahak akhirnya juga meninggal dalam rimba. Dalam penyerangan terhadap kelompok kompeni, mata-mata Medasing yang bernama Samad juga melarikan diri karena takut jebakannya diketahui Medasing. Dia sengaja menjebak Medasing untuk mendapatkan perawan bernama Sayu. Akhirnya, kelompok penyamun itu hanya tersisa dua orang. Dalam suatu perburuan mengejar seekor rusa, anak buah Medasing yang tinggal seorang itu pun meninggal tertusuk tombak dan jatuh ke jurang.

Setelah semua temannya mati, akhirnya Medasing hanya tinggal berdua dengan Sayu dalam rimba yang jauh dari pemukiman penduduk. Saat itu kondisi salah satu tangan Medasing patah akibat jatuh ke jurang. Ia juga terluka hebat sehingga badannya lemas tak berdaya dan harus dirawat oleh Sayu, si perawan yang sebelumnya tak pernah berbincang dengan para penyamun itu.

Pada suatu hari, Sayu terpaksa melaporkan kepada Medasing bahwa bahan makanan akan segera habis, padahal sebelumnya, Sayu tidak pernah berbicara dengan Medasing, dia selalu menyendiri di gubuk dan hanya melakukan tugas hariannya. Sejak diculik oleh para penyamun, dia berusaha menyesuaikan diri, karena dia tidak mungkin melarikan diri dari rimba itu.

Mendengar laporan Sayu, Medasing tampak gelisah. Kondisinya yang sudah tidak sekuat dulu tidak memungkinkan dirinya untuk dapat mencari bahan makanan dalam hutan. Saat itulah, Sayu menganjurkan kepada Medasing agar mereka kembali saja ke kampung Sayu di Pagar Alam. Sayu menyangka kedua orang tuanya masih hidup nyaman seperti dulu sebagai saudagar. Sayu tidak tahu bahwa Haji Sahak telah meninggal dalam penyerangan yang dilakukan Medasing dahulu dan ibunya terpaksa menjual rumahnya untuk membayar utang dagang ayahnya sehingga ia pun harus tinggal di sebuah gubuk kecil yang terpencil bersama Sima, adik angkat Sayu yang selama ini menemani ibunya dengan setia dalam kondisi yang memprihatinkan.

Di bagian akhir roman ini, Alisjahbana membuat lompatan yang lumayan jauh secara tiba-tiba. Jika pembaca tidak hati-hati maka akan segera dilanda kebingungan. Lima belas tahun setelah kembali ke Pagar Alam bersama Sayu dan menjumpai ibu Sayu telah meninggal, kehidupan Medasing berubah total. Ia telah menjadi seorang kaya raya yang dikenal di daerah itu dengan nama Pesirah Karim dan telah pula menikahi Sayu, perawan yang diculiknya dulu. Dalam kehidupannya yang baru, Medasing dikenal sangat dermawan dan perhatian kepada rakyat Pagar Alam. Medasing telah bertaubat dari perbuatan jahatnya di dalam rimba akibat dorongan dari Sayu.

Print Friendly, PDF & Email

Comments

comments

khairilmiswar
About khairilmiswar 283 Articles
Khairil Miswar dilahirkan di Desa Cot Bada Baroh Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen pada 24 Juli 1981 dari pasangan Ayahanda Drs. Tgk. H. Ismail Sarong dan Ibunda Hj. Mudiah Affan (Almarhumah). Menyelesaikan pendidikan Pascasarjana di UIN Ar-Raniry Banda Aceh pada Konsentrasi Pemikiran dalam Islam. Menulis artikel di beberapa media dan menulis beberapa buku.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*