Empat Sekawan Tiga Suara

Source: [QuoteCartoon](www.quotecartoon.com/friendship-quotes.html)
122 Views

Kemana saja melangkah, mereka selalu saja berempat. Hubungan mereka sudah terjalin sejak kecil. Orang-orang menyebut mereka sebagai empat sekawan.

Perkawanan mereka telah teruji oleh perjalanan masa. Sudah terikat rapat. Tidak ada siapa pun di dunia ini yang bisa memisahkan mereka.

Bahkan mereka memiliki nama yang hampir serupa; Arjuna, Arjuni, Arjunu dan Arjuno. Sebenarnya ada satu lagi kawan mereka, Arjune, tapi sudah lama menghilang. Akhirnya tersisalah empat saja.

Jika Arjuna berbuat salah, maka Arjuni, Arjunu dan Arjuno akan datang membela. Demikian juga jika Arjuni yang disalahkan orang, maka Arjuna, Arjuno dan Arjuno akan menjadi penolong.

Dalam kehidupan empat sekawan ini, solidaritas adalah kunci. Mereka tidak pernah mempersoalkan benar salah tindakan salah satu dari mereka. Yang penting mereka harus saling membantu satu sama lain.

Pernah suatu ketika, Arjuno tertangkap mencuri ayam di kampung. Saat itu, Arjuna, Arjunu dan Arjuni datang memprotes pemilik ayan yang telah mengikat Arjuno di kandang.

Mereka meminta pemilik ayam agar melepaskan Arjuno, sebab dia tidak mencuri.

“Tadi malam Arjuno bersama kami, tidak mungkin dia mencuri,” kata Arjuna yang kemudian diamini Arjuni dan Arjunu.

“Jadi, kenapa dia ada di kandang ayamku?” Si pemilik ayam balik bertanya.

“Oh, kami tidak mau tahu, pokoknya lepaskan Arjuno. Kami bertiga menjadi saksi bahwa Arjuno tidak mencuri,” timpal Arjuni dengan mulut sedikit miring.

Source: [Allaboutlean](https://www.allaboutlean.com/loss-of-material-theft/thief/)
Si pemilik ayam bingung. Dia pun mulai ragu akan penglihatannya sendiri. Dia takut jika kasus ini diteruskan, dia akan kalah di pengadilan. Tiga orang saksi akan membela Arjuno.

“Sialan, pencuri tapi bukan pencuri,” desis si pemilik ayam sembari melepaskan ikatan tali di tangan Arjuno.

Setelah tangannya terbebas dari lilitan tali, Arjuno tertawa girang. Akhirnya mereka berempat pun pergi meninggalkan si pemilik ayam yang semakin bingung.

Mereka menuju sebuah warung kopi yang tak jauh dari kampung. Di sana mereka berdiskusi tentang sebuah sayembara yang akan digelar dalam waktu dekat.

“Begini,” Arjuni membuka pembicaraan, “nanti kita berempat harus mengikuti sayembara dengan cara mendaftar secara terpisah.”

Belum selesai Arjuni bicara, Arjunu coba bertanya: “Kenapa harus terpisah? Kita kan empat sekawan.”

“Makanya kamu dengar dulu,” jawab Arjuni. ” Kita harus membuat siasat agar kita berempat mendapatkan hadiah. Panitia membuat aturan, masing-masing peserta harus mendapatkan dukungan minimal dari tiga peserta lain untuk bisa menang. Makanya kita harus bersandiwara.”

Source: [DesiComments](https://www.desicomments.com/desi/friendship-day/)
Mendengar jawaban Arjuni, Arjuno yang masih tampak mengurut tangannya mencoba angkat suara. “Oh ya, aku paham maksudmu. Nanti kita akan mendaftar masing-masing. Kemudian dalam sayembara itu, tiga orang harus memberi dukungan kepada salah satu dari kita secara bergantian. Misalnya, Arjuni maju, maka aku (Arjuno), Arjuna dan Arjunu harus memberi dukungan kepada Arjuni. Begitu seterusnya,” jelas Arjuno.

“Tepat sekali Arjuno. Rupanya keahlianmu bukan cuma mencuri ayam, tapi kamu juga ahli strategi. Dengan cara seperti itu, kita berempat akan mendapat hadiah masing-masing,” sahut Arjuni. Sementara Arjunu dan Arjuna terlihat mengangguk.

Ketika sayembara berlangsung, mereka berempat pun memainkan strategi usulan Arjuni. Akhirnya mereka mendapat hadiah masing-masing satu piala. Sementara peserta lain hanya bisa gigit jari dan tidak mendapat apa-apa, sebab mereka tidak saling kenal satu sama lain.

Print Friendly, PDF & Email

Comments

comments

Senandung Jampoek

Senandung Jampoek Penulis: Khairil Miswar Penerbit: Kawat Publishing ISBN: 978-602-50591-7-9 Cetakan: Pertama, 2020 Tebal: 282 halaman. Harga: Rp. 55.000 (Pingiriman wilayah Aceh + ongkir Rp. 5000). Minat Hubungi WA: 081360660766
khairilmiswar
About khairilmiswar 281 Articles
Khairil Miswar dilahirkan di Desa Cot Bada Baroh Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen pada 24 Juli 1981 dari pasangan Ayahanda Drs. Tgk. H. Ismail Sarong dan Ibunda Hj. Mudiah Affan (Almarhumah). Menyelesaikan pendidikan Pascasarjana di UIN Ar-Raniry Banda Aceh pada Konsentrasi Pemikiran dalam Islam. Menulis artikel di beberapa media dan menulis beberapa buku.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*