Menulis tidak Harus Meniru

306 Views

Tidak dapat dipungkiri bahwa penulis harus banyak membaca karya orang lain. Dengan membaca karya mereka, khususnya penulis-penulis besar, kita bisa belajar banyak hal. Kita bisa belajar bagaimana mereka merangkai kata, menempatkan logika dan memperindah tulisan. Bahkan dalam kondisi tertentu melalui membaca, kita juga bisa masuk ke alam pikir mereka. Membaca karya-karya penulis besar juga dapat membantu kita memperkaya bahasa.

Pertanyaannya kemudian, apakah kita harus meniru atau mungkin menjiplak gaya mereka dalam menulis? Pertanyaan ini tentunya bebas saja dijawab sesuai keinginan kita masing-masing. Artinya, jika mau, kita boleh saja meniru gaya tulisan mereka tanpa ada yang melarang.

Misalnya bagi penulis yang mengidolakan Pramoedya Ananta Toer boleh saja mengikut gaya Pram menulis. Demikian pula yang terpesona dengan tulisan-tulisan Hamka pun boleh mengikuti jejaknya. Tidak ada yang melarang.

Namun begitu, setiap orang memiliki pilihan masing-masing. Saya pribadi lebih memilih menulis dengan gaya bebas tanpa terikat dengan pola yang dimainkan penulis lain. Saya juga kurang peduli dengan aturan-aturan kaku yang diterapkan sebagian penulis. Bagi saya gaya bebas lebih menarik dan orisinal daripada meniru langgam penulis lain, walau penulis besar sekali pun. Jika pun pilihan ini dianggap sebagai keangkuhan, maka biarlah ia menjadi keangkuhan yang orisinal.

Kendati demikian, dalam kondisi tertentu terkadang terdapat kemiripan antara satu penulis dengan penulis lain. Tapi, kemiripan ini tidak secara otomatis dapat disebut sebagai praktik meniru, tapi hanya kemiripan alamiah karena penulis yang satu menjadi inspirasi bagi penulis lain.

Seorang penulis yang terinspirasi oleh karya-karya Pram misalnya, bisa saja tulisan-tulisannya mirip Pram. Tentu dia bukan meniru Pram, tapi kekagumannya kepada Pram telah menjadikan dirinya sebagai penulis yang dekat dengan gaya kepenulisan Pram.

Namun begitu, terlepas dari segala kondisi yang sulit dihindari, menulis dengan gaya sendiri adalah pilihan paling tepat. Sekiranya nama kita dihapus dalam sebuah tulisan, pembaca masih bisa menebak bahwa kitalah penulisnya.

Print Friendly, PDF & Email

Comments

comments

khairilmiswar
About khairilmiswar 287 Articles
Khairil Miswar dilahirkan di Desa Cot Bada Baroh Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen pada 24 Juli 1981 dari pasangan Ayahanda Drs. Tgk. H. Ismail Sarong dan Ibunda Hj. Mudiah Affan (Almarhumah). Menyelesaikan pendidikan Pascasarjana di UIN Ar-Raniry Banda Aceh pada Konsentrasi Pemikiran dalam Islam. Menulis artikel di beberapa media dan menulis beberapa buku.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*