Hidup dan Kepura-puraan

Google.com
116 Views

Ada yang menyebut kehidupan di dunia ini sebagai panggung sandiwara. Jika diselisik, pernyataan ini ada benarnya, tapi ada juga salahnya.

Kebenaran pernyataan tersebut terletak pada realitas yang kita temui di dunia ini, di mana sebagian kita memang bersandiwara. Sementara kesalahan pernyataan ini ada pada vonis tentang “keharusan” bersandiwara di dunia.

Pada hakikatnya dunia bukanlah tempat bersandiwara, tapi kitalah yang mengubahnya menjadi panggung sandiwara. Bahkan kita berlomba untuk saling bersandiwara.

Bicara sandiwara adalah bicara tentang kepura-puraan, kebohongan dan kemunafikan.

Pada dasarnya, kita semua membenci kepura-puraan, tapi di waktu yang sama kita juga menikmati kepura-puraan.

Kita yang tidak tahu apa-apa terkadang berlagak “maha tahu” agar diketahui sebagai yang paling tahu.

Sosok yang dalam kesehariannya “maha pelit” bisa saja berubah menjadi dermawan di hadapan orang banyak.

Demikian pula dengan seorang koruptor dan pencoleng uang negara bisa saja menampilkan diri sebagai sosok paling saleh ketika berada di masjid.

Pada hakikatnya, beberapa laku demikian hanyalah kepura-puraan belaka. Kita semua sadar akan kepura-puraan ini, tapi kita tetap saja menikmatinya. Dalam kondisi inilah dunia disebut sebagai panggung sandiwara.

Semua kita berpotensi untuk terjebak dalam kepura-puraan, sebab dunia memang membuka peluang untuk itu.

Malam ini, saya juga sedang hanyut dalam kepura-puraan. Saya kembali menyamar sebagai pecinta bola.

Di sebuah warkop kawasan Ulee Kareng, saya memilih kursi paling depan untuk menonton pertandingan antara Argentina dan Kroasia. Sebenarnya saya tidak serius menonton, tapi hanya berpura-pura agar dianggap sebagai pecinta bola.

Padahal saya hanya ingin melihat Maradona, tapi dia tidak kelihatan. Akhirnya dengan tetap melirik ke layar monitor, saya memanfaatkan kepura-puraan ini untuk menulis postingan yang sudah pasti tidak berkualitas.

Print Friendly, PDF & Email

Comments

comments

Senandung Jampoek

Senandung Jampoek Penulis: Khairil Miswar Penerbit: Kawat Publishing ISBN: 978-602-50591-7-9 Cetakan: Pertama, 2020 Tebal: 282 halaman. Harga: Rp. 55.000 (Pingiriman wilayah Aceh + ongkir Rp. 5000). Minat Hubungi WA: 081360660766
khairilmiswar
About khairilmiswar 281 Articles
Khairil Miswar dilahirkan di Desa Cot Bada Baroh Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen pada 24 Juli 1981 dari pasangan Ayahanda Drs. Tgk. H. Ismail Sarong dan Ibunda Hj. Mudiah Affan (Almarhumah). Menyelesaikan pendidikan Pascasarjana di UIN Ar-Raniry Banda Aceh pada Konsentrasi Pemikiran dalam Islam. Menulis artikel di beberapa media dan menulis beberapa buku.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*