Pencuri di Hari Meugang

493 Views

Meugang adalah hari makan daging. Kira-kira demikian orang-orang kita memaknai meugang. Dan, daging yang dimaksud bukanlah daging ikan, tapi daging hewan berkaki empat, seperti lembu atau kerbau. Hewan disebut terakhir tampaknya sangat langka dijadikan daging meugang.

Saya pribadi tidak pernah makan daging lembu, kerbau, kambing, domba atau sejenisnya. Tidak pernah makan seumur hidup, sebab saya memang tidak mau daging hewan berkaki empat sejak kecil.

Di hari meugang, biasanya ayah membelikan bandeng untuk saya, sebagai pengganti daging lembu. Ikan itu kemudian dipanggang, dan lalu saya menikmatinya dengan tekun. Sementara anggota keluarga yang lain menikmati daging lembu. Demikian dari dulu sampai sekarang.

Terkadang pemandangan terlihat tidak adil karena adik-adik saya, meskipun sudah ada daging lembu, tapi mereka sering mengambil bandeng panggang jatah saya, katanya sebagai selingan daging lembu. Ketika itu terjadi, saya tidak berdaya membalas, sebab saya tidak mungkin mengambil jatah daging lembu milik mereka.

Setelah berkeluarga, setiap meugang, selain membeli daging lembu untuk istri dan anak, saya juga membeli bandeng untuk saya sendiri. Masih sama seperti dulu, ikan itu saya panggang dan saya makan sendiri dengan cermat.

Setiap meugang seperti itu. Terus berulang seiring pergantian waktu.

Dulu, pernah sekali kami nyaris gagal meugang. Kalau tidak salah ingat sekitar tahun 1997 atau awal 1998. Saya masih sekolah.

Saat itu, tidak seperti biasa, ayah saya terlambat pulang di hari meugang. Biasanya jam 11 siang beliau sudah pulang untuk mengantar daging dan bahan belanjaan dan lalu kembali ke kantor. Saat itu beliau bekerja sebagai Kepala KUA di Matangglumpangdua.

Setelah menunggu beberapa lama, sekira jam 1 siang baru beliau pulang. Tapi tidak seperti biasa, kali ini beliau pulang berjalan kaki sambil menjinjing barang belanjaan di tangan kiri dan kanan.

Setelah meletakkan daging dan sebagainya ke dapur baru beliau bercerita kepada kami bahwa Honda Astrea Prima yang dibawanya tadi pagi dicuri orang di pasar. Bukan saja motor (kami menyebutnya Honda), si pencuri juga membawa lari barang-barang yang tersangkut di sana, seperti daging, ikan dan tas beliau yang berisi surat-surat kantor.

Ayah bercerita bahwa beliau sudah selesai belanja dan semua barang disangkut di sangkutan yang mirip mata pancing di bagian depan Honda. Saat itu beliau lupa membeli sesuatu dan kembali masuk ke salah satu kedai. Pada saat itulah si pencuri beraksi dan membawa kabur semuanya.

Mendapati kenyataan honda plus barang-barang telah hilang, beliau tetap bersikap tenang dan kembali mengulang belanja dari nol. Beli daging, bandeng dan seterusnya dan lalu beliau pulang dengan labi-labi. Kemudian jalan kaki dari jalan raya sampai ke rumah.

Setiap meugang kami selalu ingat kejadian itu, di mana si pencuri ~ semoga Allah mengampuni dosanya ~ bukan saja mendapatkan Honda, tapi juga daging meugang gratis plus ikan bandeng jatah saya.

Kepada teman-teman yang ingin belanja di hari meugang semoga tetap hati-hati, bukan saja kepada pandemi yang terus menyebar, tapi juga kepada pencuri yang terus membiak di tengah kejahatan oknum birokrat dan oknum politisi yang korup.

Ilustrasi: Terminal Kota Bireuen 1970an.

Print Friendly, PDF & Email

Comments

comments

Senandung Jampoek

Senandung Jampoek Penulis: Khairil Miswar Penerbit: Kawat Publishing ISBN: 978-602-50591-7-9 Cetakan: Pertama, 2020 Tebal: 282 halaman. Harga: Rp. 55.000 (Pingiriman wilayah Aceh + ongkir Rp. 5000). Minat Hubungi WA: 081360660766
khairilmiswar
About khairilmiswar 281 Articles
Khairil Miswar dilahirkan di Desa Cot Bada Baroh Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen pada 24 Juli 1981 dari pasangan Ayahanda Drs. Tgk. H. Ismail Sarong dan Ibunda Hj. Mudiah Affan (Almarhumah). Menyelesaikan pendidikan Pascasarjana di UIN Ar-Raniry Banda Aceh pada Konsentrasi Pemikiran dalam Islam. Menulis artikel di beberapa media dan menulis beberapa buku.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*