Steemit dan Kesantaian

Google.com
156 Views

Dari hasil riset kecil-kecilan di platform ini, saya melihat ada beberapa Steemian yang tampaknya sudah mengangkat bendera putih alias berhenti. Mereka bukan saja berhenti membuat postingan, tapi juga berhenti beraktivitas di Steemit.

Saya mendapatkan beberapa akun yang sepi dari aktivitas. Tidak ada gerakan apa pun. Tidak ada postingan, tidak ada komentar di postingan lain dan tidak pula melakukan upvote. Benar-benar diam tak bergerak. Sebagian sudah terlihat berhenti dua bulan, tiga bulan, dan seterusnya.

Tentu ada banyak alasan kenapa akun-akun ini padam seketika, padahal sebelumnya tampak semarak meriah dan gilang-gemilang. Tapi tiba-tiba saja ia hilang.

Saya tidak akan membahas alasan klasik, bahwa sebagian mereka berhenti karena minus upvote atau harga Steem/SBD lemah. Sebab pembahasan terkait alasan ini sudah sangat jenuh dan menjemukan.

Riset kecil-kecilan yang saya lakukan sama sekali tidak menyasar akun-akun semisal itu, tapi sebaliknya, akun-akun yang dulunya “garang” dengan nilai reward “merajalela.”

Saya menemukan beberapa akun yang dulunya tampak produktif menghasilkan konten dengan perolehan *reward* lumayan. Dulu, akun-akun ini aktif melahirkan minimal 3 konten setiap hari. Bahkan di waktu-waktu tertentu sampai 4 postingan. Tapi, saat ini akun-akun dimaksud telah sepi.

Memang agak sulit menebak secara tepat kenapa mereka berhenti. Mungkin saja sebagian mereka diimpit kesibukan. Tapi, patut diduga jika sebagian lainnya dilanda kejenuhan dan kehabisan energi.

Kejenuhan ini bisa saja terjadi jika sebelumnya kita terlarut dan melarutkan diri secara penuh pada satu aktivitas tertentu. Mungkin ketika awal-awal bergabung mereka telah “menyatu” dalam Steemit. Pagi petang siang malam yang dipikirnya hanya Steemit, Steemit dan Steemit.

Pada saat larut tersebut, dia pun memaksa diri membuat 5 sampai 6 postingan sehari. Kondisi ini berlangsung sekian lama sehingga akhirnya kejenuhan pun datang dengan sendirinya. Pada saat itulah dia berhenti.

Google.com

Kemungkinan lain adalah kehabisan energi. Sambil ngopi, saya sempat “mewawancarai” beberapa Steemian yang dulunya aktif melahirkan minimal 3 konten sehari dengan dukungan *upvote* yang lumayan guyak. Menurut pengakuannya, dia berhenti karena sudah kehabisan bahan yang akan diposting. Habis energi.

Nah, menyimak hasil riset kedai kopi tersebut, mungkin kita sepakat bahwa kesantaian itu perlu. Semua aktivitas harus dilakukan santai tanpa harus terburu-buru dan adu cepat. Sebab terlalu cepat bisa terjatuh.

Google.com

Sikap santai ini juga harus kita terapkan di Steemit. Sebab dengan kesantaianlah kita bisa bertahan.

Print Friendly, PDF & Email

Comments

comments

Senandung Jampoek

Senandung Jampoek Penulis: Khairil Miswar Penerbit: Kawat Publishing ISBN: 978-602-50591-7-9 Cetakan: Pertama, 2020 Tebal: 282 halaman. Harga: Rp. 55.000 (Pingiriman wilayah Aceh + ongkir Rp. 5000). Minat Hubungi WA: 081360660766
khairilmiswar
About khairilmiswar 281 Articles
Khairil Miswar dilahirkan di Desa Cot Bada Baroh Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen pada 24 Juli 1981 dari pasangan Ayahanda Drs. Tgk. H. Ismail Sarong dan Ibunda Hj. Mudiah Affan (Almarhumah). Menyelesaikan pendidikan Pascasarjana di UIN Ar-Raniry Banda Aceh pada Konsentrasi Pemikiran dalam Islam. Menulis artikel di beberapa media dan menulis beberapa buku.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*