Soal Takut dan Tega

167 Views

Blang Rambong, 2019

Sebagian kita cenderung lebih suka melakukan simplifikasi masalah daripada melihatnya secara utuh. Jika masalah tersebut sederhana memang tak jadi soal untuk disederhanakan kembali melalui simplifikasi. Namun jika masalah itu bersifat kompleks, maka pola simplifikasi justru akan melahirkan kesimpulan destruktif.

Sebagai contoh, sebagian kita sering menyamakan antara keberanian dan kegilaan. Orang berani sering dianggap gila dan orang gila diyakini sebagai berani. Akhirnya berani dan gila pun cenderung dianggap sama saja. Ini adalah salah satu bentuk simplifikasi paling ekstrem yang sering terjadi.

Padahal, ditinjau dari perspektif mana pun, gila dan berani justru memiliki perbedaan yang kontras, meskipun keduanya terlihat mirip. Artinya, tidak semua yang mirip itu sama. Seperti si kembar Ana dan Ani. Meskipun mirip, namun si Ana bukanlah si Ani.

Demikian pula dengan berani dan gila. Berani adalah tindakan sadar. Sebaliknya, gila adalah manifestasi ketidaksadaran. Berani adalah sikap, sedangkan gila adalah penyakit.

Terkait perbedaan berani dan gila ini, ada satu contoh yang paling masyhur. Tentang pembunuh harimau. Orang berani yang ingin membunuh harimau akan mengasah parang, mempersiapkan tombak dan jika perlu membawa senapan. Dengan alat-alat itulah dia membunuh harimau.

Sementara orang gila tidak butuh itu. Dia akan menyerang harimau dengan tangan kosong. Namun anehnya, orang gila ini justru dianggap lebih berani dari orang berani.

Demikian pula sikap takut dan tidak tega, juga kerap disamakan. Padahal keduanya juga memiliki perbedaan yang sangat kontras. “Takut” membunuh kucing tentunya berbeda dengan “tidak tega” membunuh kucing.

Contoh lain, ada seorang kakek yang memukul kita pakai rotan. Dalam satu kondisi, ketika dipukul, kita tidak membalas karena takut kepada si kakek atau takut pada konsekuensi lainnya seperti dipenjara. Sementara dalam kondisi lainnya kita tidak tega membalas pukulan karena si kakek sudah tua atau tidak tega karena akibat lainnya seperti tangisan cucunya. Meskipun keduanya jelas berbeda, namun sebagian orang cenderung menganggap sama.

Kurang ajarnya lagi, tuduhan tidak berani membalas alias tuduhan takut terkadang justru datang dari si kakek itu sendiri. Dia tidak sadar bahwa ketidaktegaan kita itulah yang telah melenyapkan amarah kita sehingga wajahnya tidak jadi benjol. Ini sekadar contoh.

Jadi, “takut” adalah bentuk ketidaksiapan kita menerima konsekuensi yang akan menimpa diri kita sendiri jika sesuatu itu kita kerjakan. Adapun “tidak tega” adalah ketidaksangupan kita dalam menyaksikan konsekuensi yang akan diterima orang lain dari tindakan kita.

Tapi, saya ragu. Entah tulisan ini dipahami atau tidak.

Tulisan Pertama di Mojok

25 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Sejak mojok.co muncul sebagai media alternatif yang menawarkan karakteristik khas, saya sering menghabiskan waktu mengakses website tersebut untuk membaca beberapa artikel yang saya anggap menarik. Mojok.co menayangkan artikel-artikel satire dan kocak sehingga menarik untuk dibaca oleh semua kalangan.

Pada awalnya saya hanya menjadi pembaca budiman dan belum berkeinginan untuk mengirim tulisan ke media tersebut. Salah satu alasannya, karena artikel yang serumpun dengan mojok.co selama ini saya tulis di sebuah media lokal, AcehTrend.co yang menyediakan kolom kecil untuk saya bertajuk Tuanku Nan Kacau.

Meskipun tidak selevel dengan mojok.co, tulisan-tulisan ringan bernuansa santai yang saya tulis di Tuanku Nan Kacau sudah cukup memadai untuk mengimbangi tulisan-tulisan serius yang ketat dan terlalu akademis yang biasa disajikan penulis lain di Aceh.

Namun demikian, seiring perjalanan waktu, saya juga mulai tertarik untuk berusaha nimbrung di mojok.co. Beberapa bulan lalu saya mencoba mengirim tulisan ke mojok.co, tapi tulisan tersebut tidak dimuat, mungkin belum dianggap layak. Setelah mengirim tulisan pertama itu saya pun berhenti mengirim beberapa bulan.

Dua bulan lalu saya kembali mengirim ke mojok, tapi masih belum beruntung, tidak dimuat. Akhirnya saya pun “marah” dan mengirim tulisan ketiga. Beberapa hari lalu tulisan ketiga itu ternyata dimuat dan tayang di mojok.co.

Sekarang saya sedang menunggu informasi dari bos mojok via email soal honor yang katanya cukup untuk traktir cewek, haha….

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

[KM](http://khairilmiswar.com)

[Book Reveiew #13]: Harem Sang Sultan

26 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Novel dengan tajuk “Harem Sang Sultan” ini ditulis oleh Colin Falconer, seorang novelis kelahiran London, Inggris. Novel ini diterjemahkan dari bahasa aslinya yang berjudul “Sultan’s Harem” yang terbit pertama kali pada 2011 di London. Novel historis setebal 716 halaman ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada 2012 dan diterbitkan Serambi Ilmu Semesta.

Novel ini mengambil latar Kesultanan Turki Utsmani pada masa pemerintahan Sulaiman al-Qanuni. Penulis memberikan gambaran yang cukup detail tentang istana Sulaiman, pernak-pernik kerajaan, Kota Istanbul sampai ke pasar-pasar dengan cerita yang benar-benar hidup. Membaca novel ini, kita seperti menyaksikan sendiri kemegahan Dinasti Utsmani pada masa itu.

Kisah ini dimulai dari harem yang merupakan tempat “penampungan” budak perempuan dari berbagai negeri yang ditundukkan Utsmani. Mereka adalah gadis-gadis cantik yang sengaja dibeli oleh pegawai kerajaan untuk dipilih sebagai selir para sultan Utsmani. Harem tersebut tidak hanya dipenuhi gadis-gadis berkebangsaan Arab, tapi juga gadis-gadis Eropa. Gadis berstatus budak ini nantinya akan menjadi ibu bagi para sultan Utsmani berikutnya.

Para budak wanita di harem mendapat pengawasan dan penjagaan dari pejabat istana yang khusus bertugas di harem. Laki-laki penjaga harem sudah terlebih dulu dikebiri sehingga mereka tidak memiliki syahwat untuk menganggu wanita-wanita budak tersebut. Sultan yang ingin memiliki anak akan memilih seorang budak wanita dari harem untuk disetubuhi di istana. Dia akan memilih gadis mana saja yang disukainya.   

Novel ini berkisah tentang seorang wanita budak wanita bernama Hurrem yang dibeli oleh pejabat Utsmani. Hurrem adalah gadis berkebangsaan Tatar dari Rusia. Tidak hanya cantik, dia juga memiliki kecerdasan yang luar biasa, melebihi budak-budak harem lainnya. Saat itu Sultan Sulaiman telah memilih seorang budak bernama Gulbehar dari harem. Pemilihan ini terjadi sebelum Hurrem berada di harem. Gulbehar melahirkan seorang lak-laki bernama Mustafa yang kemudian menjadi putra mahkota.

Berkat kecerdasan Hurrem akhirnya dia juga dipilih oleh Sulaiman. Dia melakukan beberapa trik dengan mendekati penjaga harem sehingga Sulaiman tertarik kepadanya. Di sebuah kamar istana, Sulaiman dan Hurrem pun memadu kasih. Sejak malam itu Sulaiman benar-benar tertarik dengan Hurrem yang tidak hanya cantik, tapi juga cerdas.

Lazimnya setiap budak yang berhasil digauli oleh sultan, mereka berharap agar dirinya hamil, sebab kehamilan akan menjadi tali yang mengikat budak itu dengan sultan. Harapan itu akhirnya mendesak Hurrem untuk melakukan hubungan gelap dengan seorang pejabat istana yang sudah dikebiri. Meskipun sudah dikebiri, ternyata pejabat istana itu masih memiliki bibit untuk ditularkan kepada Hurrem sehingga wanita itu pun hamil.

Sejak kehamilannya diketahui oleh Sulaiman, Hurrem pun semakin dekat dengan Sulaiman. Kedekatan dirinya dengan sultan akhirnya digunakan untuk melancarkan siasat dengan menyingkirkan orang-orang terdekat Sulaiman. Melalui siasat licik, propaganda dan fitnah, satu persatu orang terdekat sultan berhasil disingkirkan dari istana.

Orang pertama yang disingkirkan adalah Gulbehar, budak yang pertama kali digauli sultan dan telah memberinya seorang putra. Gulbehar bersama putranya, Mustafa, yang telah dipersiapkan sebagai putra makhkota pun “diasingkan” ke sebuah provinsi dalam wilayah Ustmani. Mustafa diangkat sebagai gubernur di sana.

Melalui siasat lainnya, Hurrem juga berhasil menyingkirkan Ibrahim, Wazir Agung Turki Utsmani yang juga sahabat dekat Sulaiman. Melalui orang-orangnya, Hurrem melancarkan fitnah bahwa Ibrahim telah berkhianat kepada sultan sehingga akhirnya ia pun dihukum mati oleh Bostanji, algojo istana yang bisu tuli. Sebagai sultan yang digelar al-Qanuni, Sulaiman merasa berkewajiban menjatuhkan hukuman, meskipun kepada teman dekatnya.

Seiring perjalanan waktu, Hurrem semakin dekat dengan Sulaiman. Hurrem berhasil merayu Sulaiman untuk menikahinya. Tradisi Utsmani yang melarang sultan menikah akhirnya dilanggar oleh Sulaiman dengan menikahi Hurrem, seorang budak Rusia.

Ketika anak-anak Hurrem, Selim dan Beyezid telah dewasa, dia pun melancarkan fitnah selanjutnya kepada Mustafa dengan maksud agar anaknya bisa menjadi putra mahkota yang akan menggantikan Sulaiman nantinya. Berkat siasat licik akhirnya Sulaiman juga menghukum mati anak kesayangannya, Mustafa, melalui eksekusi yang dilakukan Bostanji.

Novel ini juga berkisah tentang cinta tak sampai seorang pemuda Moor bernama Abbas. Pada awalnya dia tinggal bersama ayahnya di Venesia. Ayahnya adalah pejabat militer di negeri itu. Abbas mencintai Julia, anak seorang pejabat Venesia. Julia dipaksa oleh ayahnya untuk menikahi salah seorang pejabat Venesia yang sudah tua. Untuk melancarkan tujuannya, ayah Julia memerintahkan anak buahnya untuk mengebiri Abbas dan kemudian dijual sebagai budak. Setelah peristiwa malang tersebut, Abbas pun menjadi budak. Dia dibeli oleh orang-orang Utsmani dan akhirnya dia pun menjadi salah seorang pejabat istana Sulaiman yang bertugas menjaga harem Sultan Utsmani.

Dalam sebuah pelayaran menjumpai suami yang dipilih ayahnya, kapal yang ditumpangi Julia diserang bajak laut Turki Utsmani. Sama seperti Abbas, akhirnya Julia pun dijual sebagai budak kepada pejabat Utsmani. Karena kecantikannya dia pun dimasukkan ke dalam harem Sultan. Tanpa diketahuinya, sejak berada di harem Julia selalu mendapat pengawasan dari Abbas, kekasihnya di Venesia.

Saat terberat yang dihadapi Abbas adalah ketika Sulaiman menginginkan Julia untuk dibawa ke istana. Sesampainya di istana, Julia yang telanjang di hadapan Sulaiman ternyata tidak mampu memacu birahinya. Sulaiman telah terpengaruh dengan Hurrem sehingga ia menjadi tidak berselera dengan perempuan lain. Adegan percintaan antara Sulaiman dan Julia pun gagal dilakukan. Sulaiman memerintahkan Abbas untuk membunuh Julia agar rahasia di kamar itu tidak menyebar ke luar istana, bahwa sultan telah impoten. Untuk menyelamatkan kekasihnya, Abbas melakukan sebuah trik rahasia dengan cara mengirimkan Julia kepada seorang temannya di Pera.

Ending kisah ini terbilang tragis. Di usia senjanya, pada saat sedang sekarat, Hurrem mengaku kepada Sulaiman bahwa ia tidak mencintai Sulaiman. Dia membenci Turki Utsmani dan mengharapkan kerajaan itu hancur berkeping-keping. Apa yang dilakukannnya selama ini adalah bentuk pembalasan dendamnya atas kekejaman Utsmani yang telah menjadikannya sebagai budak. Mendengar pengakuan Hurrem, Sulaiman sangat terpukul dan tidak percaya. Dia menganggap pengakuan itu hanya sebagai igauan orang sekarat. Setelah kematian Hurrem, Sulaiman melewati hari-harinya dengan murung sampai akhirnya dia pun meninggal dalam penyesalan.

Abbas meninggal dunia di istana karena sakit. Sementara Julia memilih menjadi istri Ludovici, seorang pengusaha Venesia di Pera yang menjadi teman akrab Abbas. Di akhir hidupnya Julia dan Ludovici memilih menetap di Cyprus. Pada awalnya mereka juga mengajak Abbas, tapi saat itu Abbas menolak karena ingin tetap mengabdi kepada Utsmani.

Sebagai novel sejarah, sebagian peristiwa dalam novel ini berasal dari fakta-fakta dan sebagian lainnya adalah hasil imajinasi penulis. Fakta dan imajinasi itu tampak menyatu dan menjelma sebagai sebuah rangkaian cerita yang menarik untuk dibaca.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

[KM](http://khairilmiswar.com)

[My Story #12]: Gagal Jadi Keuchik

18 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Siang tadi di kampung kami, Cot Bada Baroh, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, berlangsung pelantikan keuchik baru. Menyambut acara tersebut juga dilaksanakan kenduri dengan mengundang seluruh masyarakat kampung dan beberapa tokoh masyarakat kampung tetangga.

Acara pelantikan berlangsung pada pukul 11.00 Wib yang dilakukan oleh Camat Peusangan atas nama Bupati Bireuen. Acara berlangsung lancar tanpa kendala.

Pada awalnya, dua bulan lalu saya mendaftarkan diri sebagai calon keuchik (kepala desa). Setelah menyiapkan berkas dan menyusun “siasat politik” untuk suksesi pemenangan, tiba-tiba saja saya gagal mendaftar.

Kegagalan tersebut dilatari oleh cerewetnya Dinas P dan Kabupaten Bureuen. Sebagai guru yang bernaung di bawah Dinas P dan K saya memerlukan rekomendasi dari dinas untuk pindah tugas sebagai pegawai struktural, sebab status saya sebagai pegawai fungsional (guru) tidak bisa mencalonkan diri sebagai keuchik karena ada larangan dalam Qanun Aceh.

Usaha saya untuk pindah tugas tidak mendapat dukungan dari dinas dengan alasan “esmenenten” alias “dibuat-buat.” Berbagai usaha telah saya lakukan sampai menjumpai kepala dinas, tapi kepala dinas tetap pada prinsipnya. Saya juga menjumpai wakil bupati, awal nya ada harapan, tapi kemudian gagal juga.

Akibat proses pindah tugas gagal, saya pun batal mendaftar sebagai calon keuchik. Segala siasat yang sudah saya atur dengan timses di kampung akhirnya saya alihkan untuk adik saya. Alhamdulillah dalam proses pemilihan keuchik sebulan lalu adik saya menang.

Siang tadi dia pun dilantik sebagai keuchik kampung saya untuk periode enam tahun ke depan.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

[AsaiKana #110]: Caleg Medsos

20 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Ada banyak ragam strategi kampanye yang dilakukan para caleg guna meningkatkan elektabilitasnya, salah satunya melalui media sosial. Mereka berharap melalui strategi tersebut akan sukses terpilih sebagai anggota dewan.

Tidak dipungkiri bahwa media sosial memiliki peran besar melahirkan sosok-sosok “populer” dalam waktu singkat. Ada banyak sekali contoh untuk diurai terkait klaim ini.

Seperti kita lihat, sosok-sosok yang sebelumnya “gelap” tak dikenal, tiba-tiba saja populer hanya karena hobi update status di facebook. Seketika saja ia menjadi tokoh karismatik dengan sejumlah pengikut fanatik.

Bukan tidak mungkin kenyataan itulah yang kemudian mendorong sebagian caleg untuk berkampanye di media sosial. Tentunya bukan hanya caleg, bahkan calon presiden pun turut berselfi ria di media sosial.

Namun demikian, tulisan ini tidak bermaksud berdebat terkait efektivitas kampanye di media sosial, sebab debat semacam itu tidak akan memuaskan siapa pun. Lagi pula sudah ada peneliti yang memiliki kesimpulan sendiri-sendiri terkait efektivitas dimaksud.

Tulisan ini hanya ingin menyinggung beberapa oknum caleg yang terkesan larut di media sosial. Mereka tertipu oleh imajinasinya sendiri ketika berkampanye di medsos.

Mereka menghabiskan seluruh energinya di medsos berhari-hari, berbulan-bulan sampai akhirnya pemilu pun tiba tanpa mereka sadari. Akibat imajinasi dan harapan palsu mereka pun gagal melenggang ke kursi parlemen.

Kesadaran baru akan menyapa, ketika tak selembar pun nama mereka tercoblos di kotak suara. Saat itulah mereka baru mengerti bahwa pemilih itu ada di kampung-kampung dan di sudut kota, bukan di medsos; bukan di facebook dan bukan pula di twitter, apalagi instagram.

Kampanye medsos hanya berdampak pada popularitas, dan popularitas belum tentu berdampak pada elektabilitas. Dalam kenyataannya tidak semua yang dikenal itu dipilih. Dengan demikian, menjadikan medsos sebagai satu-satunya corong kampanye adalah tindakan bodoh, untuk tidak menyebut tolol, sebab pemilu tidak berlangsung di facebook.

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

[AsaiKana #108]: Makelar Pemilu

20 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Secara sederhana dan singkat, istilah makelar dapat diterjemahkan sebagai perantara atau penghubung. Istilah tersebut juga serupa dengan agen atau pialang. Istilah makelar lazim digunakan dalam dunia perdagangan.

Continue Reading

[AsaiKana #107]: Beda Caleg dengan Pengemis

17 Views

Tuan dan Puan Steemians…

KBBI menerjemahkan kata “pengemis” sebagai orang yang meminta-minta. Dalam istilah yang lebih “agamis” pengemis dapat disebut sebagai “pencari sedekah.”

Continue Reading

[AsaiKana #106]: Kampanye Politik dan Kekuasaan

18 Views

Tuan dan Puan Steemians…

[Clasroom](https://classroomclipart.com/clipart-view/Clipart/Cartoons/politician-speaking-at-podium-cartoon-clipart-3516_jpg.htm)

Meskipun mengaku sebagai negara demokrasi, tapi terasa ada yang tidak adil di negeri ini. Mungkin ada banyak sekali ketidakadilan yang bisa diurai, namun tulisan ini memilih untuk mempersempit pembahasannya hanya dalam konteks politik praktis.

Continue Reading

[AsaiKana #105]: Politik Uang, Salah Siapa?

15 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Kita tentu tidak asing dengan istilah politik uang yang populer disebut *money politic.* Namun sampai saat ini kita belum menemukan informasi memadai sejak kapan politik uang ini dipraktikkan. Kita juga tidak tahu apakah ia muncul baru-baru ini atau telah menjadi “tradisi” sejak dari masa lalu. Saya pribadi menganggap tidak penting tentang apakah politik uang itu “tradisi” atau bukan. Yang penting diketahui adalah kenapa dan untuk apa politik uang itu dilakukan. Satu lagi, siapa yang patut disalahkan dengan munculnya praktik ini di pentas politik praktis.

Continue Reading

[AsaiKana #104]: Caleg Pelit dan Caleg Boros

19 Views

Tuan dan Puan Steemians…

Siapa saja yang mencalonkan dirinya sebagai caleg pasti membutuhkan uang guna memuluskan aktivitas politiknya. Adalah omong kosong jika ada caleg yang menganggap uang tidak penting dalam kontestasi politik.

Continue Reading