Begini Cara Menulis Artikel Opini di Koran

cara-menulis-artikel-opini-di-koran
Sumber Foto: Deviantart
604 Views

Cara menulis artikel opini di koran adalah pertanyaan yang sering diajukan para penulis pemula. Pertanyaan ini kerap muncul di forum-forum pelatihan menulis.

Bagi sebagian orang, menulis artikel opini di koran bisa menjadi kebanggaan tersendiri. Artinya “derajat” kepenulisannya akan sedikit naik dibanding dengan menulis di blog sendiri atau di status Facebook.

Penilaian semacam ini terbilang wajar dan mungkin saja benar. Artinya, menulis artikel opini di koran penuh tantangan karena akan diseleksi oleh redaktur. Berbeda halnya dengan menulis artikel di blog yang bisa diposting kapan saja karena pemilik blog adalah penguasa tunggal; sebagai penulis sekaligus redaktur.

Namun begitu, setiap penulis memiliki kecenderungan masing-masing. Ada penulis yang memang lebih suka menulis di koran dan ada pula yang lebih tertarik menulis di blog sendiri sambil membangun blognya agar bisa menjadi referensi banyak orang.

Sebenarnya, kedua tipikal penulis ini sama saja, di mana keduanya sama-sama bergerak di dunia literasi.

Baca Juga: Menulis Jangan Meniru

Baik, agar tidak terlalu banyak basa-basi kita akan langsung membahas bagaimana cara menulis artikel opini di koran.

Namun sebelumnya, saya ingin mempertegas bahwa saya sendiri sebenarnya masih penulis pemula. Meskipun aktivitas menulis ini sudah lama saya geluti, namun saya masih harus terus belajar.

Sejauh ini, sejak 2011 sampai sekarang (2020), tulisan-tulisan saya baru terbit di koran lokal seperti Harian Aceh, Harian Pikiran Merdeka, Harian Rakyat Aceh, Serambi Indonesia, Harian Waspada dan Harian Analisa. Artinya, belum ada satu pun artikel opini saya yang bertengger di koran nasional seperti Kompas, Tempo, Media Indonesia atau Jawa Pos.

Kalau pun ada beberapa tulisan saya yang terbit di media level nasional, baru sebatas media online seperti republika.co.id, mojok.co dan hidayatullah.com. Itu pun jika media-media itu bisa disebut berlevel nasional.

Penegasan ini penting untuk menepis tuduhan bahwa saya sok pandai dan sok jago mengajari orang lain tentang cara menulis artikel opini di koran.

Apa yang saya uraikan di sini nantinya hanya berbagi pengalaman, sebatas yang saya punya, bukan untuk menggurui.

Jadi, bagi para penulis profesional yang terlanjur atau tidak sengaja membaca tulisan ini bisa langsung skip atau “angkat kaki.” Biarkan tulisan ini menjadi bacaan bagi para penulis pemula saja, seperti saya.

Bagaimana cara menulis artikel opini di koran?

Berikut ini adalah cara menulis artikel opini di koran:

Pertama, menentukan topik artikel.

Hal pertama yang harus dilakukan adalah menentukan topik artikel, apakah soal politik, ekonomi, agama atau sosial.

Untuk topik artikel opini di koran biasanya harus aktual atau kekinian. Artinya artikel yang ditulis nantinya mestilah hal-hal yang sedang hangat diperbincangkan publik.

Kedua, menentukan sudut pandang penulisan artikel.

Setelah menemukan topik, langkah selanjutnya adalah memilih sudut pandang penulisan. Misalnya kita memilih topik bernuansa politik tentang penangkapan Habib Rizieq Shihab. Di sini kita bisa menggunakan sudut pandang teologis karena ia tokoh agama, atau sudut pandang politik karena kasusnya mungkin bernuansa politis. Bisa juga sudut pandang hukum dan seterusnya.

Sudut pandang ini nantinya akan menjadi cara dan fokus kita dalam melihat fenomena tersebut. Misalnya sudut pandang teologis akan menganalisis pemikiran-pemikiran keagaman Rizieq; sudut pandang politik akan mengupas tentang alasan-alasan politis penangkapan Rizieq; atau sudut pandang hukum yang akan terfokus pada pola penegakan hukum terhadap Rizieq, dan seterusnya.

Ketiga, membuat judul artikel.

Setelah menetapkan topik dan sudut pandang, selanjutnya membuat judul artikel.

Di sini memang ada khilaf pendapat. Ada sebagian penulis yang mengatakan judul bisa dibuat terakhir. Tapi, saya lebih memilih menentukan judul lebih awal agar tulisannya tidak gundul. Namun, judul ini tidak final. Hanya judul sementara yang nantinya bisa diubah. Alasannya, tanpa judul terkadang selera menulis kita bisa berkurang.

Judul yang baik adalah judul yang singkat dan tidak terlalu panjang. Judul yang terlalu panjang tidak cocok untuk artikel di koran. Singkat di sini maksudnya seimbang dan menarik.

Baca Juga: Penulis Populer

Memang ada yang mengatakan semakin singkat judulnya semakin menarik, apalagi jika hanya satu kata. Tapi bagi penulis pemula tidak perlu melakukan itu, kecuali nama kita sudah populer seperti Goenawan Mohamad atau Eka Kurniawan. Jika dipaksakan nantinya justru menjadi aneh dan ditertawakan redaktur.

Judul satu kata semisal ‘Pergi’ atau ‘Kacung’ jika ditulis sosok semisal Eka Kurniawan pastinya akan tetap dimuat karena namanya sudah dikenal publik. Kalau kita yang menulis, pasti terlempar ke luar.

Keempat, membuat kerangka artikel.

Bagi mereka yang sudah sering menulis, mungkin kerangka tulisan ini tidak penting untuk dituliskan, karena sudah tertata rapi di kepala. Tapi bagi penulis pemula kerangka ini penting ditulis agar tulisan bisa tetap fokus dan tidak kocar-kacir.

Kelima, membuat kalimat pembuka.

Membuat kalimat pembuka harus semenarik mungkin agar pembaca tidak berhenti membaca karena awal kalimat yang buruk.

Menarik maksudnya bisa memancing pembaca untuk membaca sampai selesai. Menarik dalam kategori wajar, bukan justru norak dan provokatif.

Keenam, membuat penutup artikel.

Setelah membuat kalimat pembuka, langkah selanjutnya adalah menulisnya sampai selesai sesuai gerak pikiran. Setelah dirasa cukup, di bagian akhir artikel dibuatkan penutup semisal kesimpulan atau pertanyaan. Artinya jangan sampai artikel tiba-tiba putus sehingga membingungkan pembaca.

Ketujuh, mengedit artikel.

Langkah selanjutnya, sebelum mengirimkan artikel ke koran, sebaiknya dilakukan edit terlebih dulu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang ada, baik kesalahan ketik, diksi yang tidak tepat atau mungkin kalimat yang tidak logis.

Kedelapan, mengirim artikel ke koran.

Saat ini pengiriman artikel ke koran bisa dilakukan melalui email. Artikel yang dikirim harus berbentuk file dan bukan ditulis di badan email.

Cantumkan juga keterangan atau biodata penulis dan scan KTP di bagian bawah tulisan. Dan buat sedikit pengantar di badan email.

Demikian beberapa langkah sederhana tentang cara menulis artikel opini ke koran, semoga bermanfaat.

Ilustrasi: Deviantart

Print Friendly, PDF & Email

Comments

comments

Hosting Unlimited Indonesia
khairilmiswar
About khairilmiswar 290 Articles
Khairil Miswar dilahirkan di Desa Cot Bada Baroh Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen pada 24 Juli 1981 dari pasangan Ayahanda Drs. Tgk. H. Ismail Sarong dan Ibunda Hj. Mudiah Affan (Almarhumah). Menyelesaikan pendidikan Pascasarjana di UIN Ar-Raniry Banda Aceh pada Konsentrasi Pemikiran dalam Islam. Menulis artikel di beberapa media dan menulis beberapa buku.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*